Harga Minyak Turun di Bawah US$ 70 Per Barel
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak melemah dan kini bertahan di bawah level psikologis US$70 per barel, mencerminkan meredanya premi risiko geopolitik setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Penurunan ini memberi harapan bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena berpotensi menekan biaya impor energi dan mengurangi tekanan inflasi.
Berdasarkan pantauan CNBC Markets pada Kamis (02/07/2026), pukul 19.49 EDT (Jumat pagi WIB), kontrak West Texas Intermediate (WTI) Crude Oil Agustus 2026 yang diperdagangkan di New York Mercantile Exchange (NYMEX) berada di level US$68,46 per barel, turun 0,23 dolar AS atau 0,33% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Baca Juga
Pertamina Jelaskan Alasan Harga Pertamax RON 92 Belum Turun Meski Minyak Dunia Melemah
Pelemahan harga minyak terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap perkembangan pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Qatar. Kedua negara dilaporkan mencatat kemajuan menuju kesepakatan damai permanen setelah perang selama empat bulan yang sempat mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Membaiknya prospek pasokan global membuat pelaku pasar mengurangi premi risiko yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak.
Selain faktor geopolitik, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga mulai pulih. Kondisi tersebut mendorong sejumlah lembaga keuangan internasional merevisi turun proyeksi harga minyak. UBS, misalnya, memangkas perkiraan harga minyak Brent untuk kuartal III 2026 dan juga menurunkan proyeksi rata-rata harga tahun 2027 setelah pasokan dari kawasan Teluk kembali mengalir lebih lancar.
Sentimen pelemahan juga diperkuat oleh meningkatnya ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan semakin longgar. Produksi minyak Amerika Serikat tetap berada di level tinggi, sementara ekspor dari negara-negara produsen Timur Tengah kembali meningkat setelah risiko gangguan distribusi berkurang. Di sisi lain, permintaan energi dinilai belum cukup kuat untuk menyerap tambahan pasokan tersebut sehingga harga minyak cenderung bergerak turun.
Data perdagangan juga menunjukkan bahwa WTI telah memasuki tren pelemahan selama empat pekan berturut-turut. Di pasar internasional, harga Brent juga bergerak mendekati US$71 per barel, level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat–Iran beberapa bulan lalu. Para analis menilai pasar kini lebih fokus pada fundamental pasokan dan permintaan dibandingkan risiko geopolitik yang sebelumnya mendominasi pergerakan harga.
Baca Juga
Bagi Indonesia, pelemahan harga minyak merupakan perkembangan yang relatif positif. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah maupun produk bahan bakar dalam jumlah besar, turunnya harga minyak berpotensi mengurangi nilai impor migas, memperbaiki neraca perdagangan, serta mengurangi tekanan terhadap subsidi energi dan inflasi domestik apabila tren tersebut bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah risiko yang dapat membalikkan arah harga, antara lain perkembangan lanjutan negosiasi Amerika Serikat–Iran, kebijakan produksi OPEC+, kondisi ekonomi global, serta prospek permintaan energi dari Tiongkok dan Amerika Serikat. Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak dalam kisaran rendah dengan volatilitas yang relatif tinggi.
