IHSG dan Rupiah Kompak Menguat, Kepastian Posisi Menkeu Purbaya Dinilai Jadi Faktornya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar keuangan domestik makin bergairah, ditandai dengan berlanjutnya kinerja menggembirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Pada akhir sesi perdagangan Jumat, (12/6), IHSG naik 2,07% ke level 6.007,65 dengan volume transaksi menembus Rp21,60 triliun dengan 615 saham menguat, 108 terkoreksi, dan 93 stagnan.
Selain itu, mata uang Garuda juga menunjukkan taringnya dan terus menjauh dari level 18.000. Rupiah ditutup di posisi Rp17.860 per dolar AS, menguat tajam 128 poin atau 0,71 persen dari pembukaan perdagangan.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai, salah satu pemicu kondisi pasar tersebut adalah kepastian dari istana untuk mempertahankan posisi Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, sebuah langkah yang memberikan jaminan stabilitas kebijakan bagi para investor.
"Stabilitas di level kementerian memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek," kata Esther dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga
Eks Menkeu Era Soeharto Sebut Isu Pergantian Purbaya Hanya Pembentukan Opini
Menurutnya, penegasan status Menkeu Purbaya memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan fiskal yang jelas, sehingga investor tidak ragu untuk kembali mengalirkan modalnya ke Indonesia. Namun, ia mengingatkan, untuk menjaga momentum penguatan Rupiah dan IHSG dalam jangka panjang, Indonesia harus mampu memenuhi tujuh syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global.
Lebih lanjut, Esther mengungkapkan, apabila ketujuh faktor tersebut dapat dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal dalam negeri.
"Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah," urainya.
