Rupiah 'Loyo' Setelah Pilpres, Ekonom Mandiri Ungkap Faktornya
JAKARTA, investortrust.id - Pascapemungutan suara pilpres, pada Rabu (14/02/2024) pekan lalu, mata uang Garuda cenderung mengalami tren melemah. Pada perdagangan Selasa (20/02/2024), rupiah ditutup melemah 29 poin ke level Rp 15.660 per USD.
Menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, tren pelemahan rupiah akan terus berlanjut, setidaknya dalam satu pekan ke depan. Pada perdagangan pekan lalu, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi antara Rp 15.565 - Rp15.723 per USD. "Rupiah akan bergerak ke kisaran Rp 15.550 - Rp 15.710 per USD pada perdagangan pekan ini," ujar Andry kepada Investortrust, Selasa (20/02/2024).
Sentimen Utama
Andry menjelaskan, setidaknya terdapat dua sentimen utama yang memengaruhi pelemahan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Pertama, wait and see hasil pemilu RI 2024. Kedua, ekspektasi terhadap suku bunga The Fed.
"Pelaku pasar juga sedang menantikan real count dari hasil Pemilu Indonesia yang diperkirakan akan dirilis pada bulan Maret 2024. Saat ini, perkembangan kurs rupiah juga dipengaruhi oleh suku bunga The Fed yang masih 'higher for longer'," Andry menambahkan.
Mayoritas Melemah
Tidak hanya rupiah, Andry menyebut mayoritas major currencies melemah terhadap USD. Hal ini menurutnya sebagai respons rilis data inflasi AS yang kembali meningkat di atas konsensus pasar.
Nilai tukar EUR tercatat ditutup ke posisi 1,0777 per USD (depresiasi 2,37% ytd) pada akhir minggu lalu (16/02/2024). Kurs EUR/USD berfluktuasi di rentang 1,0695 - 1,0806 selama sepekan terakhir.
Sementara itu, inflasi AS per Januari 2024 tumbuh sebesar 3,1% (yoy), dipengaruhi masih tingginya harga pangan dan energi. Begitu pula inflasi inti AS masih bertahan sebesar 3,9% (yoy), hampir dua kali lipat dari target Bank Sentral AS yang sebesar 2%, dipengaruhi kenaikan harga jasa asuransi transportasi.
"Perkembangan ini menimbulkan spekulasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tingginya untuk beberapa waktu ke depan, sehingga membuat USD kembali menguat. Indeks dollar kembali ke arah 104 - 105, setelah tutup di level 101 pada akhir tahun 2023," tutur Andry.
Dalam jangka panjang, The Fed akan menuju target lapangan kerja maksimum dan inflasi sebesar 2%. Ia menambahkan, pada tahun 2024, The Fed mengindikasikan akan melakukan pemangkasan suku bunganya setidaknya sebanyak tiga kali menuju level 4,75% menjelang akhir tahun.
"Pada perdagangan minggu ini, pelaku pasar akan wait and see terhadap rilis data penjualan rumah AS (existing home) yang diperkirakan tumbuh sebesar 3% (mom) pada Januari 2024 dan FOMC meeting minutes Januari 2024 untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga lebih lanjut, di tengah laju inflasi yang masih di atas target Bank Sentral AS," ungkapnya.

