Harga Nikel Cenderung Naik, ESDM Ungkap Faktornya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kenaikan harga nikel yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari situasi memanas di kawasan Timur Tengah.
Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM, Agus Tjahajana Wirakusumah menyebutkan, nikel merupakan salah satu bahan baku yang digunakan untuk peralatan perang. Jadi, jika perang berkecamuk, maka permintaan terhadap nikel pun meningkat.
“Nikel itu dipakai untuk peralatan perang. Kalau lagi banyak perang, banyak lagi kebutuhan nikel. Nikel, aluminium (dibutuhkan) untuk peralatan perang. Misalnya buat pesawat terbang,” ujar Agus saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Senin (29/4/2024).
Baca Juga
Berdasarkan data yang diperoleh dari Trading Economics, Senin (29/4/2024), harga nikel berada di angka US$ 19.100/ton. Secara bulanan, harga tersebut meningkat 16,36%.
Agus mengakui bahwa harga nikel memang mengalami penguatan seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap komoditas tersebut. Apalagi, nikel menjadi salah satu komponen penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) guna menyongsong transisi energi.
Kondisi ini sangat berbeda dengan di masa lalu, di mana disebutkan oleh Agus bahwa nikel hanya digunakan sebagai bahan baku stainless steel. Namun, kini nikel memiliki peran yang lebih penting dalam aspek kehidupan.
Baca Juga
Harga Nikel Capai Rekor Tertinggi Sejak September 2023, Bagaimana Selanjutnya?
“Selama ini, sebelum keluar baterai, biasanya dipakai stainless steel, tetapi dari 1 ton hanya nol koma sekian persen. Selama itu naiknya tidak terlalu signifikan, begitu baterai keluar pakai nikel, (harga) melonjak,” ujarnya.

