Konsumen Pertamax Migrasi ke Pertalite, Menkeu Purbaya: Kita Nggak Hitung Spesifik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tak menghitung secara spesifik efek shifting konsumen pengguna Pertamax ke Pertalite. Seperti diketahui, Pertalite merupakan bahan bakar minyak (BBM) yang disubsidi pemerintah.
“Kita nggak hitung, tapi begini. Pasti ada berapa persen yang pindah,” kata Purbaya, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Purbaya berasumsi bahwa tak seluruh pengguna Pertamax akan berpindah menggunakan Pertalite. Ini karena kesesuaian kendaraannya dengan BBM tersebut.
Purbaya mengaku belum menghitung berapa besar konsumen Pertamax yang akan menggunakan Pertalite.
“Mungkin ditanya ke Pak Bahlil, yang mengerti itu,” ujar dia.
Head of Industrial and Transport Decarbonization, Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menghitung mengenai potensi kelangkaan Pertalite akibat perpindahan konsumen ini.
Baca Juga
Kenaikan Harga Pertamax Bisa Picu Migrasi ke Pertalite, Konsumen Diminta Waspadai Risiko Mesin
“Jika terdapat lebih dari 25% dari volume Pertamax ini pindah ke Pertalite, maka kuota ini [Pertalite] akan habis sebelum Desember 2026. Itu akan menciptakan kelangkaan,” ujar Andry kepada investortrust.id.
Andry berharap PT Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dapat mengetatkan penggunaan Pertalite. Dengan pengetatan ini Pertalite diharapkan dapat digunakan bagi yang berhak.
“Dalam hal ini masih bisa menikmati harga subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk Pertalite,” kata dia.
Data Indef menunjukkan ketika harga Pertamax naik dua kali sepanjang 2022 hingga menyentuh Rp 14.500 per liter, terjadi kenaikan konsumsi Pertalite hingga 6,4 juta kiloliter. Pola tersebut menunjukkan konsumen cenderung berpindah ke bahan bakar yang lebih murah setiap kali harga Pertamax naik.

