Bank Indonesia: Indeks Penjualan Riil April 2026 Alami Perlambatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan Survei Penjualan Eceran (SPE) pada April 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat sebesar 226,9. Angka ini terkontraksi -3,7% secara tahunan dan -11,6% secara bulanan.
Meski demikian, sejumlah kelompok tercatat masih tumbuh dan menjadi penopang pertumbuhan penjualan eceran. Kelompok yang masih tumbuh di antaranya suku cadang dan aksesoris yang tumbuh 14,7% secara tahunan, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 0,6% secara tahunan, dan kelompok barang budaya dan rekreasi tumbuh 0,7% secara tahunan.
BI juga mencatat adanya kontraksi pada penjualan kelompok lain. Salah satu yang dicermati yaitu turunnya penjualan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi -3,8% secara tahunan. Sementara itu, kontraksi dalam terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi yang sebesar -26,4% secara tahunan.
Bank sentral melihat beberapa kota mencatatkan pertumbuhan IPR pada April 2026, di antaranya Banjarmasin dengan IPR tumbuh 18,5% secara tahunan, Semarang termasuk Purwokerto tumbuh 10,9% secara tahunan, dan Manado dengan pertumbuhan 7,1% secara tahunan.
Meski demikian, kota lain yang tercatat di zona kontraksi yaitu Surabaya dan Bandung. Surabaya mengalami kontraksi penjualan riil sebesar -3,7% secara tahunan dan Bandung terkontraksi -4,2% secara tahunan.
Baca Juga
Dalam kerangka waktu bulanan, kinerja penjualan eceran menurun karena berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Penurunan terjadi pada mayoritas cakupan kelompok dengan kontraksi terdalam pada kelompok barang lainnya sebesar -16,6% secara bulanan, kelompok barang budaya dan rekreasi -12,5% secara bulanan, dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau -12,3%.
BI memperkirakan IPR pada Mei 2026 masih terjaga meski terjadi kontraksi. Menurut proyeksi bank sentral, kontraksi IPR Mei 2026 sebesar -3,2% secara tahunan dan -0,9% secara bulanan.
Secara tahunan, kelompok suku cadang dan aksesoris diperkirakan tumbuh 16,6% secara tahunan, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 1,8%, dan kelompok barang lainnya tumbuh 0,7% secara tahunan.
BI memproyeksikan beberapa kelompok penjualan masih berada di jalur kontraksi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau diprediksi terkontraksi -4% secara tahunan, kelompok bahan bakar kendaraan bermotor terkontraksi -2,2% secara tahunan, dan kelompok peralatan informasi dan komunikasi masih terkontraksi dalam -17,5% secara tahunan.
