Defisit APBN per Mei 2026 Capai Rp 180,4 Triliun, atau 0,7% dari PDB
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Mei 2026 mencapai Rp 180,4 triliun atau 0,7% dari PDB.
“Yang paling penting adalah defisitnya mengalami 0,7%. Lima bulan tahun ini 0,7% dari PDB,” kata Purbaya, saat paparan APBN KiTa, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dari paparan, terjadi kenaikan pendapatan negara menjadi Rp 1.185 triliun atau 19,1% secara tahunan. Pendapatan negara tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Penerimaan pajak mencapai Rp 958,2 triliun. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 123,8 triliun. Adapun PNBP mencapai Rp 226,4 triliun.
“Kita lihat pendapatan tumbuh 19,1% yang paling menarik adalah pendapatan pajak naiknya 22,1% [secara tahunan] bea cukai 0,7% [secara tahunan] sudah positif dua bulan berturut-turut. PNBP naiknya 19,9% [secara tahunan]” ujar dia.
Purbaya juga melihat adanya kenaikan belanja negara. Belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun.
Baca Juga
Di Hadapan S&P, Pemerintah Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3%
“Belanja tetap tumbuh 34,4%. Bagus artinya sesuai dengan target karena kita ingin mempercepat belanja,” kata dia.
Belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp 517,7 triliun atau tumbuh 58,9% secara tahunan. Belanja non-K/L mencapai Rp 541,6 triliun atau tumbuh 47% secara tahunan. Purbaya juga menyoroti Transfer ke Daerah (TKD) yang melambat 4,9% di angka Rp 306,1 triliun.
Di tengah melambatnya defisit APBN 2026, Purbaya memberikan catatan terhadap keseimbangan primer. Menurutnya, keseimbangan primer mengalami positif.
“Artinya anggaran kita lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ujar dia.

