APBN Defisit 0,53% PDB per Februari 2026, Pendapatan Negara Naik 12,8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 defisit sebesar Rp 135,7 triliun atau setara 0,53% dari produk domestik bruto (PDB). Adapun pendapatan negara mencapai Rp 358 triliun atau tumbuh 12,8% secara tahunan
Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat buka puasa bersama awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (6/3/2026).
Dia mengatakan, kenaikan pendapatan negara terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan yang meningkat 20,5% secara tahunan menjadi Rp 290 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun atau melonjak 30,4% secara tahunan. Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai terkoreksi 14,7% secara tahunan menjadi Rp 44,9 triliun.
Baca Juga
Setiap Kenaikan Harga Minyak US$ 10, Beban Subsidi Energi di APBN Bengkak Rp 50 Triliun
Terkait revisi outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari Fitch Ratings, Purbaya menyatakan, penerimaan perpajakan justru mulai menunjukkan perbaikan. “Sebagai indikasi awal, pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30% dan itu akan stabil terus ke depan,” ujar Purbaya, Jumat (6/3/2026).
Di sisi lain, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 69 triliun atau turun 11,4% secara tahunan. Sementara itu, hibah terkoreksi 35,9% secara tahunan dengan nilai nol rupiah.
Seiring peningkatan pendapatan, belanja negara juga mengalami kenaikan. Hingga Februari 2026, belanja negara tercatat sebesar Rp 493,8 triliun atau tumbuh 41,9% secara tahunan. Pada awal 2025 lalu, belanja negara justru terkoreksi 7% secara tahunan menjadi Rp 348,1 triliun.
Baca Juga
Belanja negara tersebut didominasi oleh belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 155 triliun atau naik 85,5% secara tahunan, serta belanja non-K/L sebesar Rp 191 triliun atau meningkat 49,4%. Adapun transfer ke daerah tercatat sebesar Rp 147,7 triliun atau tumbuh 8,1% secara tahunan.
Sementara itu, pembiayaan hingga akhir Februari 2026 tercatat sebesar Rp 164,2 triliun atau sekitar 23,8% dari target penarikan utang tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun.

