Rupiah Tembus Rp 17.920 per Dolar AS, Para Ekonom Ungkap Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terus menunjukkan pelemahannya. Data transaksi yang direkam investing.com, rupiah melemah ke posisi Rp 17.920-an per dolar Amerika Serikat (AS) per pukul 11.40 WIB. Angka ini menunjukkan bahwa rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,46% sejak awal tahun (year to date/ytd).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai pelemahan rupiah karena gabungan antara tekanan global dan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman. Sentimen global berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak tetap tinggi, dan permintaan dolar AS sebagai aset aman.
“Mata uang Asia tercatat masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan damai AS-Iran, sementara harga energi yang tinggi menekan mata uang negara pengimpor energi,” ujar Josua, Rabu (3/6/2026).
Josua mengatakan kondisi tersebut relevan bagi Indonesia, sebagai pengimpor minyak, LPG, dan pengguna jasa logistik. Setiap kenaikan harga energi langsung menambah permintaan valas dan memperlemah rupiah.
Dari sisi domestik, Josua melihat tekanan rupiah juga diperbesar oleh melemahnya bantalan neraca perdagangan. Surplus perdagangan April 2026 hanya sekitar US$ 0,09 miliar. Angka itu turun tajam dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Ssmentara secara kumulatif surplus Januari-April 2026 turun dari US$ 11,07 miliar menjadi US$ 5,64 miliar.
Artinya, pasokan dolar dari perdagangan barang menjadi jauh lebih tipis. Pada saat impor tumbuh tinggi, terutama untuk bahan baku, energi, dan barang modal, kebutuhan dolar meningkat. Di sisi yang lain, tambahan dolar AS dari ekspor tidak cukup besar untuk menyeimbangkan pasar.
“Jadi, rupiah melemah bukan karena Indonesia langsung defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah melemah dan tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar,” kata dia.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalan neraca pembayaran. Terdapat efek kenaikan impor energi, meningkatnya kebutuhan devisa sektor swasta, serta ketidakpastian global menyebabkan kebutuhan valas domestik meningkat signifikan.
Di sisi lain terjadi pelemahan sumber utama pasokan valas yang berasal dari ekspor, investasi langsung, dan investasi portofolio. Untuk itu, kemampuan Indonesia menarik inflow menjadi semakin penting.
Baca Juga
Seusai Libur Panjang, Rupiah Tertekan Saat Dolar AS Menguat dan Harga Minyak Naik
"Pada akhirnya kebutuhan dolar dalam negeri harus dicocokkan dengan pasokan dolar yang masuk. Kalau kebutuhan valas meningkat sementara kita membuat aset keuangan Indonesia kurang menarik, maka tekanan terhadap rupiah akan terus muncul,” ujar Fakhrul.
Menurut Fakhrul, pasar obligasi pemerintah selama ini merupakan salah satu instrumen utama untuk menarik aliran dana asing ke Indonesia. Namun, mekanisme tersebut hanya bekerja apabila investor memperoleh kompensasi risiko yang memadai.
Menurut Fakhrul, kondisi yield curve Indonesia saat ini merupakan salah satu yang paling datar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam banyak tenor, imbal hasil obligasi jangka pendek dan jangka panjang berada pada level yang hampir sama. Padahal secara normal, investor seharusnya memperoleh kompensasi lebih besar untuk menempatkan dana dalam jangka panjang.
"Kurva imbal hasil yang sehat adalah kurva yang memiliki kemiringan. Ketika tenor satu tahun dan 10 tahun menawarkan imbal hasil yang hampir sama, maka ada sesuatu yang tidak berfungsi secara normal,” jelas dia.
BRI Weekly Economic Update menyebut Indonesia masih belum dilirik investor asing. Meski terjadi inflow di emerging market sebesar US$ 9,79 miliar pada pekan keempat, posisi Indonesia masih jauh panggang dari api. Investor asing justru mengeluarkan modalnya dari Indonesia. Nilainya, Rp 12,34 triliun dari pasar saham, Rp 0,79 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp 1,09 triliun dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Stabilitas Perlu Kombinasi
Josua melihat perlunya kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah dengan kombinasi yang seimbang. BI perlu tetap hadir di pasar, tetapi jangan terlalu banyak menghabiskan cadangan devisa hanya untuk mempertahankan level tertentu.
Selain itu, pemerintah perlu mempercepat realisasi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk memperkuat pasokan dolar dari ekspor, mengurangi impor energi yang tidak mendesak, menjaga komunikasi fiskal agar tidak menimbulkan kekhawatiran defisit, serta memastikan kebijakan ekspor SDA tidak menambah ketidakpastian investor.
“Dalam jangka pendek, rupiah kemungkinan bisa menguat jika tekanan musiman benar-benar mereda, tetapi dalam jangka menengah, penguatan yang sehat hanya akan terjadi jika pasar melihat pasokan devisa membaik, risiko fiskal terkendali, dan kebijakan pemerintah lebih konsisten,” ujar dia.
Sementara itu, bagi Fakhrul, ini merupakan momentum tepat bagi Kementerian Keuangan untuk melakukan penyesuaian arah kebijakan. Menurutnya, setelah Bank Indonesia mengambil langkah hawkish, kini giliran kebijakan fiskal dan pengelolaan pasar obligasi untuk memberikan dukungan yang sejalan.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja Amerika Serikat
"Kita membutuhkan kurva imbal hasil yang kembali normal. Kita membutuhkan pasar obligasi yang kredibel. Kita membutuhkan sinyal harga yang dipercaya investor. Tanpa itu, upaya Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin kemarin berisiko menjadi kurang efektif,” ujar dia.
Ia menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa dicapai hanya melalui intervensi pasar valas maupun kenaikan suku bunga. Faktor yang lebih penting adalah memastikan Indonesia memiliki neraca pembayaran yang sehat dan mampu menarik arus modal yang cukup untuk memenuhi kebutuhan devisa nasional.
"Rupiah pada akhirnya adalah cerminan dari keseimbangan neraca pembayaran. Jika kita ingin rupiah lebih kuat, maka kita harus memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik. Dan itu hanya bisa dicapai apabila pasar keuangan kita berfungsi secara normal,” kata dia.

