Prabowo Bikin Tradisi Baru, Jawab Keraguan Publik Lewat KEM di Parlemen
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menciptakan tradisi baru. Prabowo bakal membacakan Kerangka Ekonomi Makro Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di hadapan anggota DPR, di Ruang Sidang Paripurna I, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun menjelaskan bahwa tradisi pembacaan KEM-PPKF biasanya dilakukan Menteri Keuangan.
“Jadi kalau hari ini dibacakan langsung oleh Bapak Presiden, itu menjadi sebuah tradisi baru memang,” kata Misbakhun di kompleks parlemen.
Misbakhun menjelaskan bahwa KEM-PPKF menjadi putaran awal untuk pembahasan APBN. Dalam KEM-PPKF akan dibahas mengenai beberapa asumsi makro dalam sebuah rentang.
“Mulai dari pertumbuhan, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, ICP (Indonesia Crude Oil Price) produksi lifting minyak dan gas,” kata dia.
Baca Juga
Presiden Sampaikan KEM-PPKF dan Rapat RDG, Rupiah Masih Terjerembab
Dalam KEM-PPKF tersebut, pemerintah juga akan membicarakan alokasi secara pagu indikatif untuk kementerian/lembaga (K/L).
“Ini adalah sebuah tradisi baru dan tentunya begitu tradisi baru ini. Orang sedang ingin memperhatikan dengan serius apa yang akan menjadi concern Bapak Presiden di dalam KEM-PPKF ini Tentunya masyarakat akan menunggu dan ini akan menjadi sebuah tradisi baru dalam ketatanegaraan,” ujar dia.
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah mengatakan kehadiran Prabowo dalam penyampaian KEM-PPKF memiliki makna yang dalam. Ini untuk menjawab keraguan pasar terhadap likuiditas fiskal, terhadap stabilitas fiskal, kemampuan fiskal kita, kesehatan fiskal kita, dan kontinuitas fiskal kita di APBN 2026.
“Barangkali keraguan itu akan dijawab dengan tuntas akan direspon oleh Bapak Presiden pada forum paripurna kali ini, itu yang pertama,” kata Said.
Said memprediksi Prabowo juga akan menyampaikan kondisi ekonomi saat ini tidak terlepas dari tekanan geopolitik dan situasi global.
Lebih dari itu, Said berharap berharap Bank Indonesia (BI) dalam rapat dewan gubernur (RDG) yang digelar, dapat menahan gejolak nilai tukar rupiah dengan kenaikan suku bunganya.
“Saya sungguh berharap Bank Indonesia hari ini dalam rapatnya bisa, suku bunga kita sendiri bisa naik di 50 atau 75 basis point untuk menahan gejolak rupiah kita. Itu pasti Bapak Presiden juga akan memberikan respon waktu itu,” ucap dia.

