Rupiah Dibuka Sedikit Menguat di Tengah Pengumuman MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/5/2026). Rupiah menguat 0,05% menjadi Rp 17.519 per US$ pada pukul 09.04 WIB. Akan tetapi pada 09.09 WIB, posisi Mata Uang Garuda kembali melemah 0,01% menjadi Rp 17.530 per US$.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 4,96 bps ke 4,46% setelah indeks harga konsumen (CPI) AS April naik 3,8% secara tahunan, meningkat dibandingkan 3,3% secara tahunan pada Maret 2026.
Core CPI juga tetap tinggi di 2,8% secara tahunan, memperkuat kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi serta ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi yang tetap tinggi.
Baca Juga
Andry mengatakan, sentimen pasar juga menggambarkan kehati-hatian di tengah ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah, setelah Presiden AS, Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran, dan menyatakan bahwa gencatan senjata AS-Iran masih rapuh.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent kembali naik ke US$ 107,8 per barel. Di sisi lain Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping akhir pekan ini. dengan pasar terus mencermati perkembangan hubungan AS-China di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi.
Indeks DXY meningkat ke 98,30 seiring investor menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed dalam waktu dekat di tengah risiko inflasi yang masih persisten dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Andry mengatakan MSCI secara resmi mengumumkan hasil rebalancing Mei 2026. 13 saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes, sementara hanya AMRT yang masuk ke MSCI Small Cap Index setelah diturunkan dari MSCI Global Standard Index.
Alokasi Indonesia dalam indeks global small cap juga turun menjadi 0,6% dari sebelumnya 1,2%, mencerminkan kekhawatiran MSCI yang berkelanjutan terkait free float, transparansi kepemilikan, dan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) di pasar saham Indonesia.
Pelaku pasar akan terus memantau dampaknya menjelang implementasi efektif pada 29 Mei 2026. MSCI juga masih meninjau reformasi pasar modal Indonesia hingga Juni 2026 dalam rangka evaluasi peningkatan free float dan transparansi pasar, setelah sebelumnya memperingatkan potensi risiko penurunan status Indonesia dari kategori Emerging Market.

