Pasar Kripto Sedikit Menguat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Masih Ada Potensi Kenaikan Lanjutan?
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto dalam satu pekan terakhir mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Penurunan yang terjadi disinyalir merupakan akibat dari beberapa faktor. Diantaranya seperti kekhawatiran resesi di AS pasca rilis data sektor ketenagakerjaan pekan lalu, potensi tekanan jual 17 ribu lebih kreditur Mt. Gox yang telah menerima pengembalian aset kriptonya.
Ditambah kebijakan bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga dan mengurangi pembelian surat utang, serta masih relatif minimnya pertumbuhan adopsi kripto lebih lanjut dari produk-produk yang ada di ekosistem terdesentralisasi.
Namun pemulihan mulai terlihat dengan Bitcoin kembali ke level US$ 56.000 dan Ethereum ke US$ 2.400. Melansir CoinMarketCap pada Rabu (7/8/2024), Bitcoin naik 1,51% dalam 24 jam terakhir dan menyentuh level US$ 56.699 dari level rendah di awal pekan US$ 49.700. Ethereum terkoreksi ke US$ 2.490 usai turun 0,76% dalam 24 jam terakhir, namun menguat dari awal pekan yang ada di US$ 2.200.
Kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 2,01 triliun, meningkat 1,53% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 105,15 miliar, turun 50,77%. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 55,89%, meningkat 0,09% sepanjang hari.
Baca Juga
Merespon kondisi tersebut, Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan laju penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 60.000 ini tergolong cepat. Sebab dalam kurun waktu sekitar 24 jam, Bitcoin telah turun lebih dari 15% dengan level terendah US$ 49.000 yang terjadi Senin (5/8/2024) malam sekitar pukul 20.30 WIB.
“Penurunan pada tingkat tersebut untuk Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar bukan merupakan sesuatu yang sering terjadi, sehingga menarik untuk dicermati dan dianalisis lebih lanjut,” ungkap Fahmi dalam risetnya dikutip Rabu (7/8/2024).
Strategi Potensial
Indeks Fear & Greed yang mengukur sentimen pasar berdasarkan data volatilitas, momentum pasar, dan sosial media, menunjukkan area extreme fear di angka 17 yang terakhir kali terjadi pada Juli 2022 lalu.
“Situasi extreme fear menurut indikator ini dapat dikatakan merupakan salah satu waktu terbaik untuk melakukan pembelian aset kripto di pasar. Investor dapat mengoptimalkan kondisi ini untuk membeli Bitcoin di harga yang relatif lebih rendah dari beberapa bulan sebelum penurunan drastis terjadi,” imbuhnya.
“Investor Bitcoin dari pasar modal AS juga tidak terlihat mengambil reaksi besar atas koreksi yang terjadi. Hal ini dapat dilihat dari angka netflow ETF Bitcoin dan Ethereum spot yang tidak terlihat mengalami penarikan dana pada level yang tidak biasa. ETF Ethereum spot bahkan membukukan netflow positif sebesar US$ 48,8 juta pada perdagangan hari Senin lalu (4/8/2024),” jelas Fahmi.
Baca Juga
Raksasa Keuangan Morgan Stanley Mau Tawarkan ETF Bitcoin ke Klien Tajir
Potensi Pergerakan
Optimisme para penambang Bitcoin (miner) pun masih terbilang relatif tinggi di mana hanya terjadi sedikit penurunan hash rate yang merupakan fluktuasi normal dan tidak mensinyalir adanya aksi pemberhentian operasi penambangan oleh para miner.
“Hal ini berbeda dengan penurunan hash rate yang cukup signifikan pada 23 Juni lalu yang kemudian diikuti penurunan harga lanjutan Bitcoin dari level US$ 64.000 ke US$ 59.000 pada 25 Juni dan 54.000 pada 5 Juli. Dengan optimisme tersebut, membaiknya performa Bitcoin masih terbuka,” lanjut Fahmi.
Dengan tren bullish yang terlihat mampu bertahan terlepas dari tekanan jual yang ada di pasar, periode Agustus-September mungkin akan menjadi periode akumulasi oleh sebagian investor untuk bersiap menghadapi reli utama pada fase bullish kripto yang berpotensi terjadi pasca perubahan arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Namun perlu dicatat bahwa apabila suku bunga diturunkan disaat inflasi AS masih belum cukup berhasil ditekan, terdapat kemungkinan kembali ditahannya suku bunga khususnya apabila inflasi kembali naik. Terjadinya hal itu mungkin akan menghambat reli yang akan berlangsung,” kata Fahmi.

