Injeksi Likuiditas Purbaya Dinilai Belum Manjur Dorong Intermediasi ke Sektor Riil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Peran injeksi likuiditas yang digelontorkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebesar Rp 300 triliun ke sistem keuangan dinilai belum memberi dampak nyata bagi sektor riil.
“Kondisi perbankan kita itu sebenarnya mengalami likuiditas yang cukup besar, di mana ada surplus likuiditas sepanjang 2025,” kata Menurut Direktur Riset bidang Keuangan, Ekonomi Digital, dan Ekonomi Syariah Center of Reform Economic (CORE) Indonesia, Etika Karyani, saat diskusi yang digelar daring, Rabu (29/4/2026).
Dari grafik yang dipaparkan Etika terlihat hingga Februari 2026 posisi deposito di tiga bank yang tergabung dalam himpunan bank milik negara atau himbara mencapai 13% secara tahunan. Sayangnya ketika likuiditas itu meningkat, tidak diikuti kucuran dana ke sektor riil.
“Ini artinya pertumbuhan kredit perbankan tidak mengikuti peningkatan likuiditas,” ujar dia.
Baca Juga
Purbaya Klaim Penempatan Dana Pemerintah Rp 276 Triliun Dongkrak PDB 0,2% pada Kuartal IV-2025
Kondisi ini semakin terlihat ketika loan to deposit ratio atau LDR menunjukkan perlambatan. Sejak digulirkan September 2025 LDR mencapai 84,2% kemudian pada Februari 2026 berada di posisi 84,7%.
Sementara itu, angka kredit yang belum tersalurkan atau undisbursed loan tumbuh. Dari angka 22,3% pada September 2025 menjadi 22,6% pada Februari 2026. Di sisi lain ada kecenderungan Non Performing Loan (NPL) dari kredit yang disalurkan cenderung mengalami kenaikan.
Indikator yang nyata dari rendahnya efek penempatan likuiditas tersebut yaitu penyaluran dana perbankan ke UMKM. Meski sudah ada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, perbankan tidak memberikan akses nyata berupa kredit ke UMKM.
“NPL UMKM juga mendekati 5%” ujar dia.
Di tengah kerentanan pelemahan konsumsi rumah tangga, menurut Etika penyaluran kredit ini jadi semakin sulit. Sebab, pelemahan konsumsi rumah tangga itu akan berdampak bagi kinerja sektor perdagangan.
“Kalau kita lihat ketika cost of fund himbara turun, BI Rate turun, ini tidak serta merta mengucurkan kredit ke UMKM sehingga pertumbuhannya turun,” kata dia.

