Purbaya Akui Sempat Tarik Rp 75 Triliun dari Injeksi Bank Pelat Merah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan sempat menarik injeksi dana yang diberikan ke bank pelat merah. Pihaknya sempat menarik uang sebesar Rp 75 triliun dari Rp 276 yang diinjeksi.
“Kita tarik tapi kita belanjakan lagi, jadi masuk ke sistem, tapi nggak langsung dalam bentuk uang saya di bank,” ucap Purbaya, saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Uang yang dibelanjakan Purbaya tersebut berubah dalam bentuk belanja pemerintah pusat dan daerah.
“Jadi ke ekonomi dampaknya mungkin lebih positif,” kata dia.
Selain perputaran uang, Purbaya mengaku mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI) selama dua pekan terakhir. Saat ditanyai investortrust.id mengenai dukungan tersebut, Purbaya mengatakan hal itu salah satunya karena komunikasi yang lebih baik.
“Dan yang di lapangan itu, kalau saya boleh cerita sedikit, ya. Bahaya susah banget nih,” ujar dia sembari terkekeh.
Baca Juga
Purbaya menjelaskan setelah proses penarikan uang ke perbankan pelat merah itu, pertumbuhan base money atau M0 sudah berbalik arah ke dua digit. “Menuju ke arah 13% kalau datanya nanti keluar,” klaim dia.
Sebelumnya, ujar dia, M0 sempat berada di 13% kemudian turun drastis hingga ke 5%. Kondisi M0 yang berbalik arah ke 13% menunjukkan kontribusi nyata bank sentral ke perekonomian.
Sebelumnya, Purbaya mengakui proses injeksi dana ke perbankan tak semulus yang dia perkirakan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, dia menyebut proses transmisi injeksi dana butuh waktu selama 2-3 bulan. Langkah ini, selain diharapkan menumbuhkan M0, dapat menurunkan suku bunga kredit perbankan.
Sepanjang 2025 suku bunga acuan BI sudah mengalami penurunan sebesar 125 bps, dengan terakhir yaitu pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 Bank Sentral menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Baca Juga
Purbaya Disebut Otak Penyitaan Duit Korupsi Konglomerat, Kemenkeu: Tidak Benar!
Selain itu, dari sisi pertumbuhan uang primer atau M0, penempatan dana itu juga belum terbukti mampu menumbuhkan M0 tersebut. M0 adjusted pada November 2025 tercatat sebesar Rp 2.136,2 triliun atau tumbuh 13,3% secara tahunan. Ini melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 14,4% secara tahunan.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI [adjusted] sebesar 24,2% secara tahunan, uang kartal sebesar 13,1% secara tahunan, dan giro sektor swasta di BI sebesar 88,8% secara tahunan,” tulis Bank Indonesia (BI) dalam laporan uang beredar atau M2 November 2025, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, uang beredar atau M2 tumbuh tinggi pada November 2025. Pertumbuhan M2 pada November 2025 sebesar 8,3% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 yang sebesar 7,7% secara tahunan.
“Sehingga tercatat secara tahunan sebesar Rp 9.891,6 triliun,” bunyi laporan itu.
Meski begitu, kredit yang disalurkan oleh perbankan pada November 2025 tumbuh lebih tinggi. Penyaluran kredit pada November 2025 tercatat sebesar Rp 8.196,4 triliun atau tumbuh 7,9% secara tahunan.

