Ketua DK LPS: Dinamika Ekonomi Global 2026 Mirip 2008, Tapi Beda Kompleksitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyebut kondisi ekonomi global pada 2026 mirip dengan kondisi yang terjadi pada 2008. Pada tahun tersebut, ekonomi global diguncang oleh krisis finansial yang berpusat di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
“Terdapat pola transmisi krisis yang berulang, namun kali ini hadir dengan kompleksitas yang jauh lebih menantang bagi kedaulatan ekonomi kita,” ujar Anggito, saat seminar yang digelar daring oleh Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Anggito mengatakan krisis finansial pada 2008 mengancam ketahanan sosial global. Harga minyak mentah melonjak tajam melampaui US$ 100 per barel.
Akan tetapi, pada waktu itu, dunia memiliki kompas moral dan aturan yang disepakati bersama. Pemerintah negara-negara maju mengambil tanggung jawab melalui skema bail out, sementara lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia, negara G20 bergotong royong menyediakan fasilitas likuiditas.
“Semangat kolaborasi dunia atau global ini membuat dunia selamat dan negara berkembang seperti Indonesia mampu pulih dalam waktu yang singkat,” kata dia.
Baca Juga
Berkat kenaikan harga komoditas, windfall profit dari minyak, batubara, dan sawit, penerimaan negara dalam APBN melampaui target hingga 10%.
Dengan kondisi tersebut, struktur fiskal berbasis sumber daya mineral menjadi perisai yang kokoh dan membuat Indonesia resilien menghadapi badai.
Akan tetapi, pemandangan tersebut berubah total pada 2026. Supremasi kekuatan besar ekonomi mulai mendikte arah melalui tindakan unilateral dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu instabilitas di luar dugaan sebenarnya.
“Berbeda dengan 2008 yang penuh semangat gotong royong, saat ini kita menghadapi fragmentasi global. Meskipun kita kembali menikmati windfall (profit) komoditas, ada satu variabel krusial yang menuntuk kewaspadaan kita, yaitu nilai tukar yang terus tertekan,” kata dia.
Menurut Anggito, pelemahan kurs ini memberikan sinyal kuat bahwa pengelolaan keseimbangan eksternal. Selain itu, pengelolaan struktur perbankan harus berjalan beriringan dengan kebijakan fiskal yang disiplin dan inovatif.

