Beda Yesus, Beda Genghis Khan
Poin Penting
|
Oleh Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
JAKARTA, Investortrust.id - Dunia kembali diingatkan betapa berbahayanya ketika bahasa kekuasaan mulai mencampuradukkan iman, perang, dan sejarah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam konferensi pers berbahasa Inggris pada 19 Maret 2026, mengutip gagasan bahwa “Yesus Kristus tidak punya keunggulan atas Genghis Khan” bila kebaikan tidak ditopang kekuatan.
Ia lalu menegaskan perlunya Israel dan Amerika Serikat bertindak keras terhadap Iran. Belakangan Netanyahu menyatakan ia tidak bermaksud merendahkan Yesus, melainkan menekankan bahwa masyarakat yang baik harus cukup kuat untuk melawan kebiadaban. Namun, dalam konteks perang yang sedang berkobar, ucapan itu tetap mengguncang banyak orang, khususnya umat Kristen, karena mempertemukan dua figur yang sesungguhnya berdiri pada dua kutub yang sama sekali berbeda: Yesus, Raja Damai; Genghis Khan, penakluk dengan pedang.
Perbandingan itu bukan hanya problematis secara emosional, tetapi juga keliru secara biblis dan teologis. Yesus tidak pernah datang untuk menaklukkan dunia dengan senjata. Ketika Ia memasuki Yerusalem, seperti dibacakan dalam Injil Matius 21:1-11 pada Hari Raya Minggu Palma, Ia tidak datang dengan kuda perang, kereta besi, atau pasukan. Ia datang dengan menunggang seekor keledai.
Orang banyak berseru, “Hosana bagi Anak Daud!” Mereka menyambut Dia sebagai Mesias. Mereka berharap pembebasan. Mereka ingin keselamatan. Sangat mungkin, seperti banyak orang terjajah pada zaman itu, mereka membayangkan pembebasan politik dari kekuasaan Romawi. Mereka telah melihat mukjizat-Nya: orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang sakit disembuhkan, orang lapar dikenyangkan. Wajar bila mereka mengira, inilah Raja yang akan mengubah peta sejarah.
Namun Yesus datang bukan untuk memenuhi imajinasi massa tentang kekuasaan. Ia datang untuk menyingkapkan wajah Allah yang sama sekali lain. “Lihat, Rajamu datang kepadamu! Ia lemah lembut.” Kalimat ini menghancurkan hampir semua definisi dunia tentang raja. Dunia mengenal raja yang menguasai, menghukum, memaksa, dan menaklukkan. Yesus justru datang dengan kelembutan. Ia tidak menyalakan perang, tetapi menyalakan harapan. Ia tidak merebut takhta, tetapi mengarahkan manusia kepada Kerajaan Allah. Karena itu, sejak awal, ada ketegangan antara apa yang diinginkan orang banyak dan apa yang benar-benar dikerjakan Yesus. Mereka menginginkan pembebas nasional. Allah mengutus Penebus universal.
Bacaan pertama, Yesaya 50:4-7, menolong kita masuk lebih dalam ke misteri ini. Hamba Tuhan digambarkan sebagai pribadi yang tidak memberontak ketika dipukul, tidak lari ketika dihina, tidak menyembunyikan muka ketika diludahi. Ia bukan lemah. Ia justru teguh seperti gunung batu karena Tuhan menolong dia. Ini penting sekali. Dalam logika dunia, orang yang tidak membalas dianggap kalah. Dalam logika Allah, orang yang tetap taat di tengah penderitaan justru menunjukkan kekuatan terdalam. Kekuatan yang tidak lahir dari otot, tetapi dari ketaatan. Kekuatan yang tidak mencari kemenangan lahiriah seketika, tetapi kesetiaan pada kehendak Bapa. Yesus menggenapi nubuat ini bukan sebagai korban pasif, melainkan sebagai Anak yang sadar sepenuhnya akan misi-Nya.
Lalu Santo Paulus, dalam Filipi 2:6-11, membawa kita ke pusat terdalam iman Kristen. Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan hak-Nya, tetapi mengosongkan diri. Ia mengambil rupa seorang hamba. Ia merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Inilah jantung kekristenan: kenosis, pengosongan diri. Di sinilah Yesus berbeda bukan hanya dari Genghis Khan, tetapi dari semua logika imperium sepanjang sejarah. Kekaisaran dibangun dengan akumulasi kuasa; Kristus memuliakan Bapa dengan pengosongan diri. Penakluk menegakkan takhta dengan darah orang lain; Kristus mendirikan Kerajaan-Nya dengan darah-Nya sendiri. Dunia meninggikan yang mengalahkan; Allah meninggikan Dia yang taat sampai habis.
Karena itu, ketika Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus, prefek Romawi yang memerintah Yudea, Samaria, dan Idumea pada sekitar tahun 26–36 M, pertanyaannya bukan semata soal hukum, melainkan soal jenis kerajaan macam apa yang sedang berhadapan di ruang pengadilan itu. Pilatus mewakili kuasa imperium: administrasi, pajak, stabilitas, tentara, dan kewenangan untuk menghukum mati. Yesus berdiri tanpa pasukan, tanpa pembelaan politik, tanpa strategi penyelamatan diri. Dalam kisah sengsara Matius 27:11-54, Ia diam terhadap banyak tuduhan, menerima penghinaan, dicambuk, dimahkotai duri, lalu memanggul salib ke Golgota. Ia tidak menjatuhkan lawan, tidak memanggil bala tentara dari surga, tidak membalas olok-olok. Justru dalam kelemahan lahiriah itulah kuasa ilahi dinyatakan. Salib bukan kegagalan strategi. Salib adalah puncak kasih.
Di sinilah akar kesalahpahaman atas Yesus, dulu dan sekarang. Dulu, banyak orang Yahudi menantikan Mesias politik. Kini, dunia modern pun sering menilai segala sesuatu dengan ukuran yang sama: efektivitas, dominasi, daya paksa, kemampuan menghancurkan ancaman. Dari sudut pandang itu, memang Yesus tampak “tidak efisien”. Ia tidak mengusir Romawi. Ia tidak mendirikan negara. Ia tidak memenangkan perang. Tetapi justru itulah kabar baik Injil: manusia tidak terutama binasa karena kalah secara politik, melainkan karena rusak oleh dosa, kebencian, kesombongan, dan maut. Maka keselamatan yang dibawa Kristus pun lebih dalam daripada kemenangan militer mana pun. Ia tidak sekadar menyelamatkan suatu bangsa dari penjajah; Ia datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan kematian.
Secara antropologis, manusia memang selalu tergoda menyamakan keselamatan dengan rasa aman yang kasatmata. Kita ingin jaminan cepat, perlindungan instan, pemimpin kuat, musuh yang dipukul mundur. Secara psikologis, rasa takut membuat manusia mudah menyerahkan nurani kepada figur yang terdengar tegas. Dalam suasana perang, logika ini menjadi semakin dominan. Ketika ancaman membesar, orang rela mengurangi ruang moral demi keselamatan. Ketika kecemasan meluas, kata-kata keras terdengar lebih meyakinkan daripada kelembutan. Itulah sebabnya pidato-pidato perang hampir selalu menemukan audiensnya. Mereka berbicara kepada naluri dasar manusia: bertahan hidup, melindungi kelompok, mengalahkan ancaman. Secara sosiologis, bangsa yang merasa terancam akan lebih mudah menerima justifikasi kekerasan, bahkan ketika batas antara pertahanan diri dan pembalasan mulai kabur.
Baca Juga
Konteks itu sangat terasa dalam perang Israel-AS melawan Iran sekarang. Reuters melaporkan bahwa Presiden Donald Trump pada 26 Maret 2026 menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran dan mengatakan pembicaraan dengan Teheran “berjalan sangat baik,” tetapi pada saat yang sama pejabat-pejabat AS tetap menekankan target pelemahan besar terhadap kemampuan Iran dan menyebut perang ini diperkirakan berlangsung “beberapa minggu, bukan berbulan-bulan.” Netanyahu sendiri sebelumnya mengatakan perang melawan Iran mungkin memakan waktu, meski tidak bertahun-tahun. Semua ini menunjukkan bahwa bahasa diplomasi dan bahasa penghancuran sedang berjalan bersamaan. Perdamaian dibicarakan, tetapi target-target tetap digempur. Negosiasi dibuka, tetapi ancaman tidak dihentikan.
Di lapangan, ongkos kemanusiaannya sudah sangat besar. BBC dan Associated Press melaporkan bahwa serangan terhadap sekolah dasar di Minab pada 28 Februari 2026 menewaskan sedikitnya sekitar 165–168 orang, sebagian besar anak-anak, dan sebulan kemudian kawasan yang sama kembali dilaporkan terkena serangan, kali ini dekat fasilitas medis. Dalam perang seperti ini, perdebatan strategis para pemimpin sering terdengar megah, tetapi yang dipikul rakyat adalah mayat anak-anak, ketakutan, pengungsian, pemadaman, luka, dan trauma yang menahun. Itulah sebabnya setiap pernyataan yang terdengar membenarkan “kekuatan di atas moral” akan langsung menimbulkan kegelisahan rohani dan etis.
Di sinilah renungan Minggu Palma menjadi sangat aktual. Gereja tidak sedang menawarkan romantisme lemah lembut yang naif. Gereja tahu dunia ini keras. Gereja tahu kejahatan itu nyata. Gereja tahu negara mempunyai tugas melindungi warganya. Tetapi Injil menolak menjadikan kekuatan sebagai penebus. Kekuatan bisa menahan serangan. Kekuatan bisa menciptakan daya tangkal. Kekuatan bisa mencegah invasi. Tetapi kekuatan tidak dapat menyelamatkan hati manusia. Pedang mungkin menghentikan musuh di perbatasan, tetapi pedang tidak bisa menyembuhkan kebencian, menghapus dosa, atau mendamaikan batin yang terluka. Damai yang hanya berdiri di atas ancaman akan selalu rapuh. Ia mungkin menunda perang berikutnya, tetapi tidak serta-merta melahirkan keadilan dan rekonsiliasi.
Netanyahu mungkin hendak mengatakan bahwa masyarakat yang baik perlu cukup kuat untuk bertahan. Dalam bahasa politik negara, ada sebagian kebenaran di sana. Tetapi iman Kristen tidak pernah boleh berhenti pada titik itu. Sebab jika manusia hanya percaya pada logika “si vis pacem, para bellum” — jika ingin damai, bersiaplah untuk perang — maka lambat laun damai hanya akan dipahami sebagai jeda antara dua kekerasan. Kristus menawarkan horizon yang lebih dalam. Ia tidak menyangkal perlunya keberanian, tetapi Ia mendefinisikan ulang keberanian. Berani bukan pertama-tama memukul, melainkan setia pada kebenaran ketika menderita. Berani bukan terutama menghancurkan lawan, melainkan tidak membiarkan kebencian menguasai jiwa. Berani bukan berarti kebal luka, melainkan tetap memilih kasih ketika dunia menertawakan kasih sebagai kelemahan.
Minggu Palma selalu memuat ironi besar itu. Orang banyak berseru “Hosana,” lalu beberapa hari kemudian berteriak “Salibkan Dia.” Mengapa? Karena mereka kecewa pada Mesias yang tidak sesuai harapan. Mereka menginginkan raja seperti Genghis Khan; Allah memberi mereka Raja yang naik ke salib. Mereka menginginkan takhta; Allah memberikan kurban. Mereka menginginkan pembalasan; Allah memberikan pengampunan. Mereka menginginkan kemenangan yang segera tampak; Allah bekerja melalui kekalahan yang justru menjadi jalan kebangkitan. Di sinilah iman diuji: apakah kita mau menerima Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya, atau kita hanya mau Allah yang sesuai kebutuhan psikologis dan politik kita?
Dalam dunia yang kembali dipenuhi bahasa rudal, pangkalan, ultimatum, dan balasan setimpal, Gereja dipanggil untuk mengingatkan kembali perbedaan mendasar ini: beda Yesus, beda Genghis Khan. Yang satu menaklukkan tanah dengan kekerasan; yang lain menebus manusia dengan kasih. Yang satu membangun imperium dengan rasa takut; yang lain membangun Kerajaan Allah dengan pengorbanan. Yang satu dikenang karena kedahsyatan penaklukan; yang lain disembah karena rela terluka demi keselamatan dunia. Membandingkan keduanya seolah-olah mereka berada dalam kategori yang sama berarti gagal memahami siapa Yesus sebenarnya.
Dan justru sekarang, ketika Israel dan Amerika Serikat masih berperang melawan Iran, ketika dunia sekali lagi bicara tentang target, deterrence, dan kemenangan, pesan Minggu Palma terdengar semakin mendesak: manusia tidak akan diselamatkan oleh penakluk yang lebih kuat, tetapi oleh Raja Damai yang masuk Yerusalem dengan lemah lembut. Ia tidak merebut dunia. Ia menebusnya. Ia tidak menumpahkan darah musuh. Ia menyerahkan darah-Nya sendiri. Dan hanya karena itulah, pada akhirnya, segala lutut akan bertelut dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan.

