Soal Kemungkinan BI Pangkas Suku Bunga di 2026, Ekonom HSBC: Bakal Bergantung pada 2 Hal Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait arah suku bunga acuan pada 2026 diperkirakan akan sangat ditentukan oleh dinamika global, khususnya harga minyak dan pergerakan dolar Amerika Serikat (AS).
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari mengungkapkan, ruang pelonggaran moneter oleh BI akan terbuka apabila kedua faktor tersebut bergerak lebih kondusif.
“Jika kuartal terakhir tahun ini harga minyak turun ke US$ 80 (per barel) atau di bawahnya dan dolar telah stabil atau jika melemah sedikit, maka BI dapat menemukan ruang untuk melonggarkan (suku bunga),” ujarnya, secara daring dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga
BI Perkirakan Penurunan Suku Bunga the Fed Mundur karena Defisit AS yang Melebar
Namun, skenario berbeda dapat terjadi apabila tekanan eksternal justru meningkat. Pranjul menilai, jika harga minyak bertahan tinggi mendekati US$ 100 per barel dan dolar AS tetap kuat, BI kemungkinan akan menghadapi dilema kebijakan.
“Bisa ada situasi di mana anda benar-benar melihat BI menaikkan suku bunga untuk menjaga rupiah tetap stabil. Jadi sangat sulit untuk diperkirakan, tetapi itu tergantung pada dua hal yaitu harga minyak dan apa yang sebenarnya terjadi pada dolar AS,” kata Pranjul.
Lebih lanjut, ia menilai dalam kebijakan teranyarnya BI memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75%. Keputusan tersebut mencerminkan fokus kuat bank sentral terhadap stabilitas nilai tukar, terutama di tengah tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga
Emas Terkoreksi di Tengah Konflik Selat Hormuz dan Suku Bunga Tinggi
Meski begitu, Pranjul mengatakan bahwa sikap menahan suku bunga tidak serta-merta berarti kebijakan moneter menjadi lebih ketat. Bi masih memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pengelolaan likuiditas.
Menurut Pranjul, BI dan pemerintah tampaknya berupaya menjaga likuiditas tetap longgar. Target pertumbuhan uang inti sekitar 10%, yang lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal sekitar 8%, menunjukkan adanya upaya menjaga sistem keuangan tetap likuid.
Dengan likuiditas yang tetap memadai, strategi ini dinilai dapat menjadi alternatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi, di tengah keterbatasan ruang penyesuaian suku bunga akibat tekanan eksternal.
“Jadi, saya rasa itu adalah strategi yang akan berlanjut untuk mendukung pertumbuhan,” ucap Pranjul.

