Ekonom HSBC Sebut 2 Hal Ini Bisa Jadi Pendorong Masuknya Investasi Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, kepastian kebijakan dan kemudahan berbisnis menjadi faktor utama dalam mendorong masuknya investasi asing atau foreign direct investment (FDI).
Menurutnya, berbagai reformasi yang membuat kebijakan lebih stabil serta mempermudah arus modal untuk masuk ke Indonesia, termasuk untuk mendirikan pabrik dan mendorong ekspor, akan sangat menentukan daya tarik Indonesia di mata investor global.
“Saya pikir kepastian kebijakan adalah yang utama, dan meningkatkan kemudahan berbisnis sama pentingnya. Semua reformasi semacam itu yang mempermudah masuknya uang ke Indonesia untuk mendirikan pabrik, mengekspor dari Indonesia,” ujar Pranjul, dalam Online Media Briefing HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Ia juga menyinggung peran subsidi yang diterapkan sejumlah negara, khususnya di sektor-sektor tertentu seperti otomotif. Subsidi bisa dibutuhkan dalam industri tertentu, meski bukan menjadi faktor utama.
Namun menurutnya, reformasi yang membuat kebijakan jauh lebih stabil dan kemudahan berbisnis akan sangat membantu. Dalam jangka menengah, sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga
HSBC: Penurunan Suku Bunga Berpotensi Tekan Margin Bank, tapi Sektor Ini Diuntungkan
“Bagaimana cara menciptakan tenaga kerja yang sangat terampil dan benar-benar dapat melakukan banyak aktivitas ekonomi di negara ini,” kata Pranjul.
Selain faktor domestik, ia juga menyoroti pentingnya strategi Indonesia dalam memperluas akses pasar global melalui perjanjian perdagangan internasional. Ia menilai, langkah Indonesia menjalin kesepakatan dagang, termasuk dengan Uni Eropa, telah membuka peluang pasar yang lebih luas.
Sebab, posisi Indonesia relatif menguntungkan dibandingkan negara-negara eksportir besar lainnya yang kerap dikritik karena memiliki surplus perdagangan besar dengan negara maju seperti Amerika Serikat (AS).
“Indonesia adalah salah satu negara yang tidak memiliki surplus perdagangan besar dengan negara-negara maju, dan memiliki kemampuan untuk memproduksi barang tersebut dan menjualnya ke negara-negara maju,” ucap Pranjul.

