Airlangga Hartarto Beberkan Strategi Indonesia Hadapi Ketidakpastian Global dan Ambisi Aksesi OECD
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya adaptabilitas di tengah era ketidakpastian global yang dipicu oleh transformasi digital dan gejolak geopolitik. Dalam acara Indonesia OECD Accession and Private Sector Implication, Airlangga menyoroti bagaimana pemerintah menyesuaikan strategi berdasarkan skala mingguan guna menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam analisisnya mengenai situasi dunia saat ini, Airlangga menyebutkan bahwa fleksibilitas adalah kunci utama.
"Hadirin sekalian, hari ini adalah era ketidakpastian, ketidakpastian, dan transformasi revolusi digital. Jadi, saya pikir kita semua hidup dalam situasi yang sangat menantang di mana kita memprediksi masa depan bukan dengan jangka waktu tahunan atau bulanan, semester atau kuartalan, tetapi kita menyesuaikan situasi berdasarkan mingguan dengan melihat apa yang akan terjadi di masa depan," ujar Airlangga di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Situasi global yang tidak menentu ini, menurut Airlangga, telah memberikan dampak signifikan pada sektor energi dan pangan. Gangguan tersebut tidak hanya terlokalisasi di satu wilayah, melainkan merata ke seluruh dunia.
"Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan situasi ini berdampak pada energi secara global, tidak hanya di Timur Tengah tetapi di seluruh dunia, dan juga pada rantai pasok pupuk, dan kemudian rantai pasok pangan," ungkap Airlangga.
Baca Juga
Dukung Ambisi Prabowo, Kadin Sebut Indonesia di Jalur yang Benar Masuk OECD
Menariknya, Airlangga mengungkapkan sisi filosofis dari kepemimpinan Presiden Prabowo dalam menghadapi tekanan dunia. Ia menceritakan momen saat Presiden mengutip sejarawan Yunani kuno.
"Indonesia cukup beruntung karena kita bisa mengelola di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, filsuf yang beliau kutip kepada kami di kabinet, bahwa beliau selalu mengutip Thucydides," ucapnya.
Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan makna di balik kutipan tersebut yang baru dipahami jajaran kabinet setelah pembekalan di Magelang.
"Pada awalnya, kami tidak mengerti mengapa Thucydides disebut dalam retret pertama di Magelang. Thucydides selalu mengatakan bahwa yang kuat melakukan apa yang mereka bisa dan yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung," jelasnya.
Menyikapi realitas global tersebut, Indonesia mengambil langkah tegas untuk memperkuat kemandirian energi melalui diversifikasi pasokan. Indonesia kini tidak lagi bergantung secara dominan pada satu kawasan saja.
"Jadi, Indonesia sudah memutuskan sejak awal bahwa dari Timur Tengah maksimal 20%. Dan kita mengambil sumber lain seperti di Afrika, dengan Nigeria, bahkan Gabon dan beberapa negara lain. Dan juga dari AS, serta Venezuela. Pertamina berinvestasi di kedua lini tersebut, baik di Afrika maupun di Venezuela," papar Airlangga.
Baca Juga
Jakarta Prepares ‘Adaptive’ Defense as OECD Trims Indonesia Growth Outlook
Selain diversifikasi sumber minyak mentah, Indonesia juga fokus pada penguatan kapasitas bahan bakar nabati untuk menekan impor. Strategi ini diklaim mampu menghemat devisa dalam jumlah besar.
"Jadi, tahun ini kita mengambil tindakan meningkatkan pencampuran menjadi bio-50. Jadi, artinya tidak akan ada lagi impor solar," tegas Airlangga.
Airlangga menambahkan bahwa selisih harga minyak sawit dan minyak gas yang mengecil membuat implementasi biodiesel menjadi sangat menguntungkan.
Ketangguhan ekonomi Indonesia juga terlihat dari sektor kelistrikan yang relatif stabil terhadap guncangan harga minyak. Hal ini dikarenakan bauran energi yang didominasi oleh batubara dengan skema kewajiban pasar domestik.
"Kita memiliki campuran batubara serta yang lainnya, dan kita menerapkan kewajiban pasar domestik (DMO). Jadi, fluktuasi harga batubara sekalipun tidak mempengaruhi harga listrik. Itulah sebabnya kita bisa menahan posisi tertentu termasuk bahwa subsidi energi tidak dinaikkan oleh pemerintah Indonesia," terang Airlangga.
Di sektor pangan dan pendukung pertanian, Indonesia juga menunjukkan posisi yang kuat, bahkan menjadi tumpuan bagi negara lain.
"Tentu saja, di sisi pupuk, hal yang sama, kita mematok harga gas untuk pupuk dan untuk urea kita memiliki kelebihan, saya pikir kita mengekspor sekitar 1,5 ton setiap tahun. Sekarang negara-negara seperti India, Australia, dan Filipina meminta dukungan Indonesia untuk pupuk," ungkapnya.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga daya beli masyarakat sebagai pilar utama ekonomi nasional. Airlangga menekankan bahwa menjaga kepercayaan konsumen adalah prioritas demi mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
"Kita perlu menjaga kepercayaan konsumen kita, yang merupakan 54% dari permintaan pasar Indonesia. Dan saya pikir dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045, Indonesia perlu tumbuh melampaui 5%. Jadi, Indonesia perlu tumbuh setidaknya 6,7%," tuturnya.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, Presiden Prabowo mendorong penguatan sumber daya manusia dari level dasar. Dukungan internasional, termasuk dari institusi pendidikan di Inggris, menjadi modal penting bagi visi pendidikan nasional.
"Itulah sebabnya Presiden sangat bersemangat untuk mendorong kita melampaui batas meskipun ada situasi global karena Indonesia memiliki banyak sumber daya. Dan karena Presiden bersedia untuk kembali ke dasar dan memberdayakan masyarakat, mulai dari siswa sekolah dasar hingga lulusan universitas," tambah Airlangga.
Selain pendidikan formal, pemerintah juga membidik sektor digital sebagai penggerak ekonomi masa depan melalui pengembangan ekosistem teknologi tingkat tinggi.
"Generasi penggerak berikutnya akan berada di lini digital. Itulah sebabnya Indonesia menandatangani kesepakatan dengan ARM untuk mengembangkan ekosistem semikonduktor dan hal ini telah diperkenalkan selama dua minggu lalu, pertemuan dengan seluruh kabinet dan birokrasi dan program prioritas khusus tersebut diperkenalkan oleh Presiden," bebernya.
Terkait aksesi OECD, Airlangga menegaskan bahwa proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi untuk meningkatkan standar kebijakan nasional ke level internasional.
"Dan aksesi OECD Indonesia adalah prioritas nasional strategis dan pilar utama untuk visi Indonesia Emas dan menyelaraskan dengan standar OECD akan meningkatkan kebijakan dan kerangka peraturan ke praktik terbaik internasional. Dan terutama hal ini akan menarik investasi berkualitas tinggi dan berkelanjutan untuk memperdalam perdagangan kita," tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Airlangga turut melaporkan progres diplomasi perdagangan internasional yang dilakukan pemerintah untuk membuka akses pasar seluas-luasnya.
"Dan seperti dalam pertemuan dengan Presiden, saya melaporkan bahwa dalam satu setengah tahun terakhir kepemimpinan Presiden Prabowo, kita hampir menandatangani dan kita membuka hampir semua pintu untuk perdagangan, 27 negara UE, EU CEPA, Kanada, Eurasia, dan kemudian juga dengan Inggris kita sedang dalam proses program EGP, Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi," pungkasnya.

