IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% di Tengah Krisis Energi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5% pada 2026. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan perkiraan IMF pada World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2026 yang mencapai 5,1%.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut lebih tinggi dibandingkan China, Malaysia, dan Filipina. Sementara itu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi India mampu mencapai 6,5%. Pesaing Indonesia, Vietnam diproyeksikan mampu tumbuh 7,1%.
Konselor ekonomi IMF, Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan prospek global tiba-tiba memburuk setelah pecahnya perang di Timur Tengah pada 28 Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada produksi penting minyak di kawasan tersebut memicu krisis energi dalam skala besar.
“Perang tersebut menghentikan trayektori pertumbuhan yang sebelumnya stabil,” kata Gourinchas, dalam laporan tersebut.
Menurut Gourinchas, durasi dan skala konflik, serta waktu untuk memulihkan produksi dan distribusi akan menjadi penentu besarnya guncangan ekonomi.
Baca Juga
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Sebesar 5,2%
Terdapat tiga saluran utama dampak perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Pertama, naiknya harga komoditas, termasuk pupuk, bahan kimia, pangan, dan transportasi. Kondisi tersebut mengganggu rantai pasok dan mendorong inflasi utama, serta menekan daya beli.
Kedua, pekerja dan perusahaan berupaya menutup kerugian pendapatan dengan kenaikan upah dan harga barang produksi. Risiko spiral upah dan harga ini akan menjadi lebih tinggi di negara-negara dengan ekspektasi inflasi yang tidak terjangkar dengan baik.
Saluran ketiga adalah reaksi pasar keuangan. Episode risk off klasik yang dipicu oleh prospek ketidakstabilan makroekonomi dapat terjadi. Ini menurunkan valuasi aset, meningkatkan premi risiko, memicu arus modal keluar, mendorong apresiasi dolar AS sebagai aset aman, dan menekan permintaan agregat.
Gourinchas mengatakan negara pengimpor energi sangat rentan menghadapi lonjakan harga komoditas. Di sisi lain, negara pengekspor energi akan menghadapi tekanan keuangan dan negara pemasok tenaga kerja migran menghadapi kebutuhan remitansi.
“Berkurangnya sumber daya fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan belanja dapat memaksa banyak negara yang mendorong kenaikan suku bunga global dan memperketat kondisi keuangan global,” kata dia.

