Padukan Tradisi dengan Budaya Jalanan, Perajin Kota Gede Mampu Menembus Washington DC
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Sweda, pengusung seni kerajinan perak khas Indonesia dari kota Gede Yogyakarta, berhasil masuk ke Festival Folklife Smithsonian. Nama terakhir ini merupakan salah satu festival seni budaya terbesar dan bergengsi di dunia, dan baru saja digelar pada 2-7 Juli 2025.
Menggabungkan tradisi seniman perak dari Kota Gede dengan street culture (budaya jalanan) Amerika, tepatnya dalam komunitas low rider (modifikasi kendaraan berkemudi rendah), mereka menghadirkan karya-karya kreatif berkarakter tangguh.
Dalam Bahasa Jawa kuno, Sweda berarti jemari, nama yang dipilih karena tiap karya dibuat langsung dengan keahlian jemari senimannya. Terinspirasi dari teknik dan seni yg diwariskan antar generasi, seniman-seniman Sweda berkarya dengan menyerap energi dari budaya anak muda, termasuk musik dan bentuk seni lainnya.
Desain yang unik dipadu dengan kreatifitas, estetika seni dan keahlian teknis mumpuni membuat karya-karya Sweda mampu bersaing dan diterima baik di kancah nasional maupun internasional. Kreasi mereka telah banyak merambah mancanegara dan kerap berkolaborasi dengan selebritas dunia, musisi, artis, jenama dan komunitas internasional, termasuk low rider clubs (perkumpulan pecinta kendaraan modifikasi) di pantai barat Amerika.
“Sebenarnya sebagian besar pasar kami di Amerika Serikat dan kami sudah membangun hubungan baik yang kuat dengan mereka,” ujar Surya Aditya Putra dari Sweda dalam pernyataan tertulis, Minggu (20/7/2025) “Tapi mendapat undangan dari Smithsonian, salah satu institusi seni budaya dan museum terbaik di dunia? Sesuatu yang luar biasa. Menjadi bukti bahwa kami diakui, akar dan keahlian seni kami dilihat, diapresiasi dan diperhitungkan di panggung dunia,” ujarnya.
Mengakar dan berdampak menjadi tolak ukur Sweda. Mereka menunjukkan bahwa warisan budaya dan seni dapat tumbuh, beradaptasi dan berkembang di tempat-tempat yang tak terduga. Memadukan tradisi dengan street culture menjadi keunikan karya-karya Sweda.
Baca Juga
Dekranas Siap Gelar HUT ke-45 di Balikpapan, Usung Tema Perajin Berdaya Mendunia
Undangan untuk tampil di Smithsonian Folklife Festival disampaikan langsung oleh direktur Festival Folklife Smithsonian, Sabrina Lynn Motley.
Berawal dari pertemuan Surya dengan Sabrina saat menjadi pembicara dalam program YSEALI untuk pemberdayaan pemimpin muda di Asia Tenggara sekitar tahun 2024, kesamaan kepedulian terhadap inovasi budaya oleh generasi muda melahirkan hubungan baik yang dilanjutkan dengan kunjungan Sabrina ke studio Sweda di Kota Gede. Terkesan dengan semangat, keahlian dan jiwa seni anak-anak muda yang tergabung dalam Sweda, Sabrina menjalin benang merah dengan tema festival tahun ini, yakni Youth: The Future of Culture (Kepemudaan: Masa Depan Budaya).
“Karya-karya Sweda indah, menghormati tradisi yang berakar di Jogya dan menghormati budaya low rider di Amerika,” jelas Sabrina. “Pembuatannya memerlukan perhatian tinggi dengan detail artistik, menggabungkan ketrampilan yg luar biasa dengan kemampuan teknis dan estetika desain yg tinggi,” tambahnya. Menurutnya tradisi tidak statis, tapi justru selalu berkembang, dan yang dilakukan Sweda menjadi bukti bahwa tradisi mampu merangkul bentuk-bentuk budaya lainnya, tanpa melepaskan Identitas budaya aslinya.
Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat menyambut baik dan bangga dengan partisipasi Sweda di festival tersebut. “Kami salut atas kegigihan dan kreativitas anak-anak muda di Sweda yang dapat menembus Amerika Serikat,” tutur Febria Retnoningsih dari KBRI Washington, D.C. “Semoga Sweda dapat menginspirasi generasi muda untuk berani mengekspor budaya Indonesia dalam bentuk-bentuk baru yang relevan dan mendunia”.
Kurator seni Smitsonian, Steve Velasquez, mengaku terkesan karena, “Sweda mengerti identitas budaya low rider dengan baik dan dapat menerjemahkannya dalam karya-karyanya". Pemimpin regional Duke’s Car Club, salah satu perkumpulan low rider tertua di California yang berdiri sejak 1962, Carlos Rodriquez, mengenal Sweda dari rekannya yang telah lama berkolaborasi dengan mereka.
Selain mengagumi karya yang berkualitas dan unik, Carlos juga menghargai kepercayaan yang diperoleh dan dijaga dengan baik oleh Sweda dalam kolaborasinya dengan komunitas low rider Amerika.
"Komunitas kami seperti keluarga besar, dekat dan erat, juga saling membantu. Dipertemukan oleh kesamaan minat dan kecintaan pada low rider, tanpa membedakan latar belakang ekonomi, usia, ras, pendidikan, profesi dan lainnya," ujarnya.
Dalam Festival ini Sweda merangkul berbagai kalangan melalui program interaktif yang menyenangkan, seperti mengajak pengunjung terlibat langsung membuat perhiasan perak melalui jewelry workshop, menggambarkan proses pembuatannya dalam bentuk grafik semacam komik raksasa yang terbuat dari serat gandum yang dipajang di dinding, instalasi car plaque (simbol nama klub atau jenama terbuat dari bahan metal pada kendaraan) dan melukis graffiti langsung di depan publik. Antusiasme pengunjung tinggi, banyak yang tertarik, bertanya dan turut menjajal langsung membuat perhiasan perak bersama Sweda.
Tertarik mengikuti workshop, Ilan Cuomo-Wilkerson, pemuda yang aktif di Olathe Leadership Lowrider Club, Kansas, menyadari bahwa membuat perhiasan perak tidak mudah, namun ia merasa tertantang untuk mencoba.
“Butuh waktu, tenaga dan perhatian khusus. Hampir sama dengan proses saat memodifikasi kendaraan low rider. Tapi memang perlu perjuangan, upaya dan waktu lama untuk menghasilkan sesuatu yang indah,” katanya. Hal serupa juga dirasakan Gaby, warga Maryland paruh baya yang bersemangat ikut workshop. “Perlu kesabaran membuat detailnya, untung gurunya juga sabar,” selorohnya sambil tersenyum usai berhasil mengukir inisial namanya di lempengan perak.
Selama di Washington, D.C. Sweda juga berkolaborasi dengan seniman lukis mural dan graffiti keturunan Indonesia, Cita Sadeli atau Miss Che Love. Mereka membuat lukisan mural di ruang publik di sekitar Garfield Park, di wilayah barat daya kota.
Selain Washington DC, Sweda akan singgah di Philadelphia dan New York. Setelah sukses berkolaborasi di pantai barat Amerika, perjalanan di pantai timur Amerika ini menjadi ajang menemukan energi baru, bertemu dan menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas baru, sekaligus membuktikan bahwa tradisi dan street culture mampu tumbuh berdampingan dan berkembang di manapun.
