Manisnya Berkah Ramadan dalam Sekotak Bingkisan
JAKARTA, investortrust.id – Panas terik yang menyelimuti Kawasan Cikini, Jakarta Pusat membuat kelap-kelip hiasan parsel yang berada berderet di Bazar Parsel Cikini menggoda setiap mata yang melirik.
Hiruk-pikuk suara pedagang yang sibuk menjajakan dagangannya, serta alunan musik khas Lebaran menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan.
Berjejer rapi dengan dua lajur jalan yang bisa dilewati kendaraan roda empat, sentra parsel di kawasan ini berlangsung 1-30 Maret 2025. Spesialnya, Bazar Parsel Cikini yang berada di Pasar Kembang Cikini tahun ini tampil dengan peningkatan jumlah lapak dan tatanan yang lebih rapi.
Momen Ramadan memang menjadi berkah tersendiri, disamping menghadirkan kehangatan dan kebersamaan. Di bulan suci dan penuh kebaikan ini, tradisi berbagi semakin terasa dengan hadirnya bingkisan spesial, baik dalam bentuk parsel maupun hampers.
Menariknya tidak sekadar hadiah, setiap kotak bingkisan yang dikemas dengan penuh cinta menjadi simbol kepedulian dan kebahagiaan bagi yang menerimanya. Dari makanan hingga barang lainnya, setiap kotak bingkisan memiliki makna tersendiri.
Baca Juga
Baik keluarga, sahabat, maupun kolega, semuanya merasakan kehangatan silaturahmi yang semakin erat melalui bingkisan indah tersebut. Momen ini juga menjadi berkah tersendiri bagi para pengusaha hampers atau parsel lebaran.
“Alhamdulillah Ramadan bisa jadi berkah tambahan. Sebulan ini bisa dapat pemasukan tambahan dari usaha parsel, kan bazar ini adanya selama bulan Ramadan saja. Ada juga Natal dan Tahun Baru, tapi lebih ramai Ramadan,” ujar pemilik Embu Eca Parcel Reza Rommy yang sehari-hari berdagang kelontong di Jalan Cilosari, Jakarta Pusat kepada Investortrust, baru-baru ini di lapaknya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Keahlian merangkai bingkisan, dikatakannya didapat secara otodidak, namun ada juga yang diajarkan dari sang ibu. Soal parsel, ia mengatakan, saat ini isinya sudah kian bervariasi, mulai dari kue kering, tea set, bingkai kaligrafi, dan mesin kopi.
Bahkan ada parsel ondel-ondel. Diberi nama itu, bukan karena bentuknya seperti ondel-ondel, namun karena ketinggiannya mencapai 2 meter. Parsel spesial ini biasanya diberikan untuk kantor yang bisa dibagikan ke para karyawannya, harganya pun cukup tinggi bisa Rp 3 juta.
Baca Juga
Airlangga Harap Ramadan Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
Meski Ramadan tahun ini menurutnya lebih sepi dibandingkan tahun lalu, namun ia tak gentar. Sambil mengipas-ngipas wajahnya di tengah panasnya sepetak lapak, ia mensyukuri apa yang didapatkannya. Apalagi perempuan kelahiran Mei 1985 tersebut mengatakan, ia sudah 10 tahun berdagang parsel. Usaha ini diwariskan dari sang ibu.
“70% pembeli parsel dari perusahaan, sisanya baru yang ritel. Tapi menurun lumayan karena sekarang kan lagi efisiensi yah anggaran perusahaan,” katanya seraya menambahkan, pembeli mayoritas berasal dari Jakarta, Depok, dan Bekasi.
Selain itu, maraknya platform online juga membuat harga di pasar semakin bersaing, yang berdampak pada penjualan di lapak konvensional. Tak mau kalah, ia pun menjajakan dagangannya melalui media sosial Instagram.
Pembeli yang bertransaksi menggunakan sosial media ataupun yang datang langsung diarahkannya untuk mengirim pembayaran ke rekening miliknya di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Reza turut mengandalkan aplikasi BRImo untuk memastikan transaksi berjalan lancar dan memupuk pemasukan dalam satu rekening.
“Lewat BRImo, setiap transaksi dapat dilakukan dengan cepat dan aman, sekaligus memastikan pengelolaan keuangan lebih efisien,” kata Reza yang sudah menjadi nasabah BRI sejak empat tahun lalu tersebut.
Lebih Tertata
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Ian, pengelola sentra parsel di Cikini (RAB Group) menyebutkan, tahun ini jumlah lapak bertambah menjadi 53 dari 47 di Ramadan tahun lalu. Bahkan, beberapa ada yang membuka lapaknya hingga 24 jam.
Kondisi lokasi pun lebih tertata dan nyaman bagi pembeli. "Dulu masih berantakan, sekarang sudah lebih rapi, lebih enak dilihat," ucapnya kepada Investortrust.id.
Soal label kadaluarsa, kondisi kemasan, serta izin edar produk yang menjadi momok, ia pun memastikan semuanya sudah diperiksa. Sebagai pengelola, ia selalu mengimbau secara berkala ke pedagang.
“Benar beberapa waktu lalu memang sempat kisruh katanya pedagang disini jual parsel yang sudah kadaluarsa, padahal itu salah paham. Belinya bukan disini, tapi diambil gambarnya disini,” ceritanya.
“Kami pun sudah imbau berkala bahwa ketika melakukan pengemasan diharapkan para pedagang bisa mengecek lagi,” tambah Ian.
Apalagi kegiatan jual beli parsel di Cikini telah ada sejak tahun 1970. Dulunya para pedagang sempat berdagang di Stasiun Cikini lalu berpindah ke trotoar dan saat ini di Pasar Kembang Cikini. Nama "Cikini" sendiri berasal dari dua kata, "Ci" yang berarti sungai dan "Kini" yang diambil dari nama buah yang dulunya banyak tumbuh di daerah tersebut.
Dari segi penjualan, tren pemesanan parsel menurut laporan yang diterimanya masih didominasi oleh korporasi. Bahkan, banyak pelanggan tetap yang sudah berlangganan bertahun-tahun dan langsung melakukan pemesanan tanpa perlu datang ke lokasi.
"Rata-rata mereka tinggal follow up dan memesan lagi. Pembayaran juga mayoritas lewat transfer, lalu diantarkan langsung ke tujuan," katanya.
Bentuk Perhatian
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Tak hanya korporat, di salah satu sudut bazar, Pipie, pensiunan karyawan Honda Prospect Motor terlihat sibuk meneliti parsel yang hendak dibelinya. Baginya, memberikan parsel bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk perhatian bagi koleganya, meski ia sendiri non muslim.
"Saya rutin mencari parsel kesini kalau Lebaran, sejak masih di Stasiun Cikini sampai sudah pindah ke seberangnya,” ujarnya.
Pipie senang datang untuk melihat-lihat parsel di Cikini, karena memang lokasinya yang tidak begitu jauh dari rumahnya di Cempaka Putih. Selain itu, banyak pilihan dan harganya cukup terjangkau.
“Biasa saya beli yang isinya kue-kue, beli tiga saja tidak banyak untuk kolega lama,” kata pria berusia 67 tahun itu yang akan melakukan pembayaran menggunakan transfer rekening.
Edukasi ke Pedagang
Foto: Dok. BRI
Secara terpisah, melalui sambungan telepon dengan Investortrust, Kepala Unit BRI Proklamasi Muchammad Zakariya mengatakan, secara umum ada kenaikan transaksi dari nasabah BRI yang merupakan pedagang UMKM di Kawasan Proklamasi di Cikini.
Untuk pelapak parsel, menurut pantauannya memang transaksi lebih banyak menggunakan layanan transfer. Hal itu karena tren pemasaran yang bergeser secara online.
“Untuk parsel baru 1 atau 2 yang datang untuk permintaan QRIS, karena pemasaran kebanyakan lewat online jadi cara bayarnya transfer,” pungkas ia.
Zakariya mengatakan, kebanyakan pedagang mikro khususnya belum mengetahui terkait layanan QRIS dan apa saja manfaatnya. “Kita sudah setahun ini gencar memasarkan QRIS ke para pedagang di wilayah Proklamasi. Kita kasih tahu ke mereka, buat QRIS itu syaratnya mudah dan tidak dikenakan biaya untuk yang masih skala mikro,” ujarnya.
Bahkan saat ini dijelaskannya ada aplikasi BRI Merchant sehingga pendaftaran bisa dilakukan secara mandiri, tanpa harus ke kantor cabang. BRI Merchant adalah platform inovatif dari BRI yang memberikan kemudahan bagi para merchant dalam mengelola transaksi bisnis.
Salah satu fitur unggulannya adalah self onboarding QRIS yang memungkinkan calon nasabah merchant BRI untuk mendaftarkan diri dan langsung menggunakan QRIS dengan cepat dan mudah.
“Jadi aplikasi ini untuk membaca transaksi QRIS. Saat QRIS ditransaksikan maka ada laporan notifikasinya,” ucap Zakariya.

