Allianz Bagikan Fakta dan Tips Antisipasi DBD
JAKARTA, investortrust.id - Memasuki musim pancaroba, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Perubahan cuaca yang tak menentu dan meningkatnya curah hujan menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk aedes aegypti untuk berkembang dan menyebarkan virus dengan cepat.
Head of Claim Supports and Data Analytics Allianz Life Indonesia Tubagus Argie FS Sunartadirdja mengungkapkan, terjadi peningkatan klaim pengobatan DBD di 2024, dengan lebih dari 9.000 kasus atau meningkat 112% secara year on year (yoy).
“Tingginya kasus DBD di Indonesia dari tahun ke tahun menjadi perhatian semua pihak. Sebagai perusahaan asuransi yang berkomitmen pada perlindungan kesehatan masyarakat, Allianz Life ingin membantu masyarakat dengan memberikan proteksi dan edukasi agar dapat ditangani secara cepat,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (19/3/2025).
Baca Juga
Menurutnya, banyak mitos yang beredar di masyarakat terkait DBD dan tak sepenuhnya benar. Akhirnya, menghalangi masyarakat dalam menangani penyakit ini. Misalnya, mitos gejala DBD yang selalu muncul bersamaan.
Faktanya, gejala DBD berkembang secara bertahap, dimulai dari demam tinggi, nyeri otot, hingga ruam kulit. Jika demam berlangsung lebih dari 2x24 jam, lanjut Argie, segera periksakan diri ke dokter.
Ia juga menjelaskan jika DBD tidak berbahaya jika tak ada pendarahan. Justru, fase kritis terjadi saat demam turun dan tubuh terasa dingin, karena saat itulah pembuluh darah dapat mengalami kebocoran yang berisiko menyebabkan komplikasi serius.
Mitos selanjutnya, DBD hanya menyerang anak-anak. Faktanya, orang dewasa juga bisa terinfeksi virus dengue dan mengalami gejala yang lebih berat.
Baca Juga
Penderita Diabetes Lebih Rentan Terhadap Bahaya DBD, Ternyata Ini Alasannya
Ada pula mitos tentang DBD dapat diobati dengan antibiotik. Karena DBD disebabkan oleh virus, antibiotik tidak efektif. Pengobatan yang tepat adalah pemberian cairan dan obat penurun demam seperti parasetamol.
Mitos terakhir yang sering berkembang di masyarakat juga yakni DBD hanya terjadi di musim hujan. Meski lebih sering terjadi saat curah hujan tinggi, nyamuk aedes aegypti tetap aktif di musim kemarau, terutama saat suhu meningkat.
“Untuk mewaspadai penyebaran kasus DBD, langkah terbaik dimulai dari pencegahan yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan strategi 3M Plus, yaitu menguras (penampungan air secara rutin untuk menghilangkan telur nyamuk), menutup (tempat penampungan air), mendaur ulang (barang bekas yang dapat menampung air), dan plus tindakan tambahan seperti menanam tanaman pengusir nyamuk,” kata Argie.
Ia menyatakan, Allianz Life Indonesia mengajak semua orang untuk lebih proaktif dalam mencegah penyebaran DBD dan melakukan penanganan agar tidak berdampak pada komplikasi yang fatal.
“Selain menjaga kebersihan lingkungan, memahami gejala dan tindakan medis yang tepat sangat penting agar kondisi tak memburuk,” ucap Argie.

