Cegah Penyebaran Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut, Kalbe Farma Luncurkan Vaksin EV71
JAKARTA, investortrust.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis) menyediakan vaksin HFMD EV71 untuk mencegah penularan virus EV71 atau Enterovirus 71 yang menjadi salah satu penyebab tangan, kaki, dan mulut atau hand, foot and mouth disease (HFMD).
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Mulialie mengungkapkan penyediaan vaksin ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi dan menekan penyebaran penyakit yang kerap menyerang anak-anak dalam rentang usia 5-10 tahun.
"Kalbe berkomitmen menyehatkan bangsa dengan menyediakan vaksin yang diselaraskan dengan beban penyakit menular di Indonesia. Salah satu hal yang menjadi perhatian Kalbe adalah lonjakan kasus HFMD di Indonesia pada awal 2024 yang banyak menginfeksi anak-anak," ucapnya di Jakarta, Rabu (6/11/2024).
Berdasarkan data Journal Biomedical Science 2019, terjadi kejadian luar biasa HFMD di beberapa negara Asia Pasifik. Di Singapura, salah satu wabah terbesar terjadi pada 2008 yang mencapai 30 ribu kasus. Di Malaysia pada tahun 1997, sebanyak 29 anak meninggal dunia, tahun 1998 sebanyak 78 anak di Taiwan meninggal.
Baca Juga
Laba Atribusi Kalbe Farma (KLBF) Naik 15,2% hingga Kuartal III-2024, Nilainya Jadi Segini
Kemudian, di Tiongkok, sebanyak 3.322 anak meninggal dunia antara 2008 sampai 2015. Di Vietnam, tahun 2011 - 2012, sebanyak 200 orang meninggal dalam waktu dua tahun. Di Kamboja, sebanyak 52 orang meninggal pada 2012. Tahun 2023, 23 anak meninggal dunia di Vietnam akibat Enterovirus 71.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan kenaikan kasus HFMD di seluruh provinsi pada awal 2024 yaitu sebanyak 6.500 kasus. Sistim Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) menunjukkan tahun 2024 terdapat 27.417 kasus suspek HFMD.
Baca Juga
Kalbe Farma (KLBF) Disebut dapat Manfaat Penguatan Rupiah, Sahamnya Direkomendasikan Beli
Berdasarkan data tersebut, sebagian besar kasus HFMD terjadi pada anak-anak dan beberapa pada orang dewasa. Sedangkan pada tahun 2023, berdasarkan data terdapat sebanyak 11.651 kasus suspek HFMD, dan 8.125 kasus pada tahun 2022 di Indonesia.
Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A. mengungkapkan, kasus HFMD terbanyak pada awal 2024, terjadi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Penularan HFMD juga terjadi di Jakarta, Kalimantan, dan Bali.
"Mobilitas tinggi, dalam hal ini pergerakan manusia selama mudik Lebaran dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan turut meningkatkan risiko penularan HFMD, terutama di kalangan bayi dan balita," ungkap Kanya.
“Usia yang paling sering terkena HFMD ialah anak-anak di bawah 10 tahun, dan insiden tertinggi terjadi pada anak di bawah usia 3 tahun. Orang dewasa bisa terkena HFMD, namun kasus ini jarang terjadi dibandingkan pada anak-anak,” tambahnya.

