Kepala BKKBN Titipkan Pembinaan Remaja dan Calon Pengantin ke Tokoh Agama
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dokter Hasto berpesan dan menitipkan para remaja dan para calon pengantin kepada para tokoh agama. Tokoh Agama diharapkan dapat menyiapkan para calon pengantin yang berkepribadian dewasa.
“Kami titip kepada bapak ibu tokoh agama agar menyiapkan remaja-remaja, ataupun mereka yang sudah dewasa untuk menikah. Perhatikanlah bahwa usia pernikahan penting sekali karena banyak perceraian diakibatkan kurang dewasa," ujar Hasto dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (25/8/2024).
Hasto bilang, angka perceraian telah naik pesat sejak tahun 2014. Sebagai informasi, angka perceraian hanya 250 ribu sebelum tahun 2013, namun saat ini sudah lebih dari 500 ribu perceraian.
Lebih lanjut, diketahui bahwa mayoritas penggugat cerai berasal dari perempuan. Menurutnya, sebanyak 70% lebih gugatan berasal dari Istri. Hal ini disebabkan oleh peran suami yang kurang bertanggung jawab.
Baca Juga
BKKBN Luruskan Persepsi soal Pengadaan Alat Kontrasepsi pada Remaja
“Kalau kita lihat sebab perceraian itu karena masalah kecil yang berkepanjangan. Kalau masalah ekonomi nomor dua,” jelasnya.
Lebih lanjut, dokter Hasto menyampaikan pentingnya keluarga betul-betul menjadi keluarga yang bahagia, tentram dan mandiri atau keluarga sakinah mawaddah warrahmah.
Dokter Hasto mengatakan pasangan usia muda yang baru menikah adalah salah satu penentu masa depan bangsa. "Kita sedang memasuki bonus demografi. Sebetulnya penentu mau sukses atau tidak, mau sejahtera atau sengsara, tergantung remaja-remajanya," ujar Hasto.
Karena itu, ia berharap pernikahan bukan merupakan pernikahan yang terlalu dini maupun bukan pernikahan yang terpaksa lalu putus sekolah. Bukan juga pernikahann yang menghasilkan kehamilan terlalu banyak, terlalu sering. Terlebih kehamilan-kehamilan yang menambah angka stunting. "Ini yang tentu harus kita hindari," jelas Hasto.
Baca Juga
Tertinggi di Bali, BKKBN Dorong Percepatan Penurunan Stunting Kota Denpasar
Ia juga menitipkan pesan untuk menjaga agar pertumbuhan penduduk tumbuh seimbang. Sehingga, rata-rata perempuan diharapkan punya anak 2,1. Artinya, perempuan rata-rata memiliki dua anak lebih sedikit. "Supaya tidak melahirkan anak stunting, kualitasnya harus bagus, maka tolong jarak kehamilan diatur tiga tahun," tutur Hasto.
“Kami juga titip kualitas keluarga. Jangan lupa diberdayakan. Karena penentu keberlangsungan keluarga salah satunya adalah perempuan. Bahkan peran-peran perempuan dalam keluarga begitu luar biasa," pungkasnya.

