Kepala BKKBN Ingatkan Pentingnya Asuh, Asih dan Asah di 1.000 Hari Pertama Kehidupan Bayi
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengingatkan pentingnya untuk menyiapkan anak berkualitas dalam rangka menyambut Indonesia Emas di tahun 2045.
Dikatakan dalam rangka menyambut bonus demografi, dokter Hasto berharap, anak di Indonesia dapat menjadi generasi produktif sehingga bisa menggantikan generasi tua yang memasuki generasi ageing.
Menurutnya, penting untuk menjadi anak cerdas, memiliki intelektual, dan skill yang cukup.
"Kita harus keluar dari jebakan kemiskinan jebakan pendapatan rendah. Kalau lewat 2035 kita tidak bisa keluar dari kemiskinan, maka akan semakin sulit karena kita sudah banyak orang tua nantinya dan usia produktif tidak sebanyak sekarang,” dokter Hasto dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (1/8/2024).
Baca Juga
Peringatan HKD 2024, Kepala BKKBN Beberkan Kemajuan Bidang Kependudukan RI
Untuk itu dia mengimbau agar kita manfaatkan dengan baik 10 tahun terakhir untuk meningkatkan pendapatan perkapita melalui anak sehat dan produktif nantinya.
Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas anak di Indonesia, dokter Hasto memaparkan bahwa hal yang harus dipenuhi dalam tumbuh kembang anak di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) adalah Asuh, Asih dan Asah.
Asuh adalah dengan pemberian nutrisi dan aspek asuh juga termasuk imunisasi. Asih sendiri diberikan kasih sayang kepada anak. Sedangkan Asih adalah bagaimana orang tua memberi stimulasi pada anak.
Menurutnya, gizi yang baik, pengasuhan, dan stimulasi adalah beberapa faktor yang dapat mencegah stunting. Selain itu imunisasi lengkap juga sangat penting. "Ayo, imunisasi jangan terlewatkan agar penyakit yang telah lama hilang jangan sampai muncul lagi,” tuturnya.
Lebih lanjut, dokter Hasto mendukung tenaga medis baik di puskesmas maupun rumah sakit untuk terus bersama orang tua hebat mendorong imunisasi sukses. Masih ada 35,8% anak umur 12-23 bulan tidak lengkap imunisasi dasar. Proporsi imunisasi lanjutan lengkap pada anak 24-35 bulan sebesar 42,5%, tidak lengkap 48,6% dan tidak imunisasi 8,9%.
Baca Juga
Presiden Tetapkan Kenaikan Tunjangan Kinerja untuk Kementerian ATR/BPN, BKKBN, dan BSN
Proporsi alasan tidak diimunisasi pada anak 0-59 bulan karena tidak diizinkan keluarga sebesar 47% dan dengan alasan khawatir akan efek samping sebesar 45%.
“Penting para ibu membaca agar sadar tentang pentingnya pemberian imunisasi, pencegahan stunting dengan memberi asupan bergizi, pengasuhan yang baik dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak," pungkasnya.
Sebagai catatan, laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak usia dini di Indonesia diperkirakan sebanyak 30,2 juta jiwa pada 2023. Jumlah tersebut setara dengan 10,91% dari total penduduk Indonesia tahun ini. Menurut usianya, sebanyak 59,95% anak usia dini di Indonesia berada di rentang umur 1-4 tahun. Sebanyak 28,83% di kelompok umur 5-6 tahun. Sementara, 11,22% anak usia dini berumur kurang dari satu tahun.
Ditargetkan Indonesia sudah menjadi negara maju dan telah sejajar dengan negara adidaya pada tahun 2045. Sehingga, untuk mewujudkannya butuh persiapan matang sejak jauh-jauh hari, salah satunya melalui pembentukan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas.

