Komisi IX DPR Minta Makanan Kemasan Berkadar Gula Tinggi Diberi Label
Bagikan
Komisi IX DPR Minta Makanan Kemasan Berkadar Gula Tinggi Diberi Label
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP Rahmad Handoyo meminta pemerintah memberikan label pada makanan kemasan dengan kandungan gula tinggi. Menurut Rahmad, pemberian label ini penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan mencegah meningkatnya penyakit tak menular, seperti diabetes.
Hal tersebut diutarakan Rahmad dalam acara Investortrust Power Talk Financial Series bertajuk "Pentingnya Layanan Kesehatan yang Layak dan Tepat bagi Publik” di Mezzanine Ballroom, Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (31/7/2024).
"Saya dalam rapat terakhir beberapa waktu lalu dengan Menteri Kesehatan (Budi Gunadi Sadikin), akan terjadi perdebatan internal, kaitannya dengan pengaturan gula, garam, dan lemak di kalangan industri. Saya berkeinginan di dalam rapat itu adanya labelling, ketika ada makanan kemasan yang kandungan gulanya sangat luar biasa itu dikasih labelling untuk memberikan edukasi," katanya.
Dari kiri ke kanan, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli dan Praktisi Medis Dr Purnamawati Sujud, Sp.A (K), MMPAED, CEO investortrust.id Primus Dorimulu, Co-founder Yayasan Orang Tua Peduli dan Praktisi Medis Dr Emira E. Oepangat, dan Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDI-P Rahmad Handoyo saat acara Investortrust Power Talk: Pentingnya Layanan Kesehatan yang Layak dan Tepat bagi Publik, di Jakarta, Rabu (31/7/2024). Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal.
Rahmad menjelaskan, pemberian label ini tidak bermaksud untuk memberikan larangan kepada industri. Ditekankan, labelling ini ditujukan agar masyarakat lebih berhati-hati ketika ada makanan kemasan yang kandungan gulanya tinggi. Hal ini mengingat, kandungan gula yang tinggi berisiko terhadap kesehatan, terutama diabetes.
Infografis 10 penyakit paling mematikan di Indonesia. Infografis: Riset Investotrust.id.
"Karena mohon maaf, Indonesia itu juara dunia, tetapi penyakit gula yang juara dunia," jelas Rahmad.
Rahmad menyebut, berdasarkan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), diabetes menempati posisi ketiga penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia pada 2019.
"Lima besar, enam besar penyakit gula yang sangat signifikan," kata Rahmad.