Korset Bukan Solusi Osteoporosis, Dokter: Hanya untuk Penggunaan Sementara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Penggunaan korset atau penyangga tulang belakang tidak dapat menjadi solusi utama untuk menangani osteoporosis. Alat bantu tersebut hanya disarankan untuk penggunaan sementara, terutama bagi pasien yang mengalami nyeri atau membutuhkan dukungan tambahan saat beraktivitas.
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Dohar Tobing menjelaskan, korset berfungsi membantu menopang tubuh dan mengurangi beban otot ketika pasien mengalami keluhan pada tulang belakang. Namun, penggunaan korset secara terus-menerus justru berisiko membuat otot penyangga tulang belakang semakin melemah.
"Korset itu kan alat bantu yang harus bersifat temporer. Biasanya kita pakai apabila memang seseorang nyeri dan lain sebagainya. Sehingga dipasang penyangga itu untuk membantu, men-support, sehingga dia nggak terlalu kesakitan," ujar Dokter Dohar kepada awak media pada acara Timeless Music to Timeless Movement! Celebrating Osteoporosis Day yang digelar Siloam Hospitals Mampang, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Dia menjelaskan, ketika korset digunakan dalam jangka panjang, otot akan semakin terbiasa mendapatkan bantuan dari alat tersebut. Akibatnya, otot yang seharusnya menopang tubuh secara mandiri justru berpotensi mengalami penyusutan.
"Kalau dipakai terus-terusan, ya susah. Seperti bikin ototnya manja. Kalau kita pakai korset, ototnya rileks, ada bantuan. Nah, kalau rileks terus-terusan, makin lama lebih tipis. Akhirnya kita tergantung, mesti pakai terus," jelasnya.
Baca Juga
Usia 30 Tahun Jadi Momentum Penting Cegah Osteoporosis, Dokter Ungkap Tipsnya
Menurut dia, penggunaan korset pada pasien osteoporosis bukanlah penanganan utama. Osteoporosis merupakan kondisi berkurangnya kepadatan tulang yang membuat tulang menjadi rapuh dan lebih rentan mengalami patah. Karena itu, pasien osteoporosis membutuhkan penanganan medis yang sesuai dengan kondisinya, bukan sekadar mengandalkan penggunaan korset.
Dohar mengatakan, penanganan osteoporosis dapat dilakukan melalui pemberian obat-obatan dan latihan fisik atau olahraga yang disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi pasien.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan terlebih dahulu sebelum pasien, khususnya kelompok lanjut usia, melakukan latihan fisik. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi tulang dan mengetahui apakah terdapat pengeroposan atau masalah lain yang berisiko menimbulkan cedera.
Jika kondisi tulang dinilai aman, pasien dapat menjalani latihan fisik secara bertahap dengan pendampingan tenaga profesional. Latihan tersebut tidak bertujuan membentuk otot secara berlebihan, melainkan memperkuat kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
"Target kita adalah supaya kehidupan kesehariannya dia bisa mandiri dan bisa menikmati hari tuanya," katanya.
