Produk Kreatif Dea's Diary Pukau Pengunjung INACRAFT 2026, Angkat Budaya Kudus ke Pasar Nasional
Jakarta, Investortrust.id – Gelaran pameran kerajinan tangan dan produk kriya terbesar di Asia Tenggara, INACRAFT 2026, telah usai diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI). Diikuti oleh 829 peserta, 21 gerai BUMN, dan 56 stan kuliner Nusantara, pameran ini sukses menjadi panggung kreativitas budaya Indonesia. Di antara ratusan stan yang memadati area pameran, brand lokal Dea's Diary turut hadir mencuri perhatian dengan produk-produknya yang unik dan kreatif.
Dirintis sejak tiga tahun lalu oleh sang desainer, Ima, Dea's Diary berfokus pada produk fesyen dan aksesori siap pakai (ready-to-wear). Seluruh motif kain didesain langsung secara eksklusif oleh Ima, dicetak (print), lalu dijahit secara mandiri oleh tim internal mereka. Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari pakaian seperti jaket, vest (rompi), celana, tunik, hingga aksesori berupa pouch, tote bag, tempat koin, hingga boneka kain yang ikonik.
Tonjolkan Ciri Khas Kudus dan Sukses "Naik Kelas"
Salah satu daya tarik utama dari Dea's Diary adalah konsistensinya dalam mengangkat kearifan lokal. Salah satu produk unik mereka adalah boneka kain yang didesain khusus mengenakan baju adat Kudus lengkap dengan caping khas Kudus. Meskipun produksinya berbasis di Semarang, akar budaya Kudus yang kuat membuat produk Dea's Diary terasa sangat autentik. Portofolio brand ini juga tidak main-main; Dea's Diary tercatat pernah unjuk gigi dalam gelaran bergengsi Kudus Fashion Week beberapa tahun lalu. Menurut Shane, salah satu perwakilan stan Dea's Diary di INACRAFT 2026, produk yang paling diminati dan menjadi best-seller selama pameran berlangsung adalah jaket dan vest.
Strategi Kolaborasi Bisnis
Meski belum memiliki gerai fisik (outlet) mandiri, Dea's Diary sukses menembus pasar yang lebih luas melalui strategi kolaborasi. Mereka aktif bekerja sama dan menitipkan produk kreatifnya di jaringan toko milik Egni, sebuah brand lokal asal Semarang yang sudah memiliki pasar yang kuat.
Shane, staff penjaga booth Dea's Diary menuturkan bahwa kolaborasi dengan Egni memberikan dorongan penjualan yang signifikan bagi Dea's Diary. "Toko Egni di Semarang sudah cukup dikenal mas, terutama bagi para pecinta fashion yang nggak pasaran, mereka suka sekali datang ke toko Egni dan produk Dea's Diary di sana cukup laku. Kan kalau beli baju di brand-brand terkenal di mal itu banyak yang pakai, bisa-bisa ketemu di lift bajunya sama, atau di mal, ketemu orang dengan baju kembar. Kan malu mas. Nah kalau produk kami ini terbatas, jadi 'rada' eksklusif gitu."
Kehadiran Dea's Diary di ajang INACRAFT 2026 membuktikan bahwa produk UMKM daerah yang dikemas dengan kreativitas, kualitas desain yang matang, serta konsistensi dalam mengangkat budaya lokal mampu bersaing dan mendapat tempat di hati pencinta fesyen nasional.
