Dari San Francisco ke Bali, Febry Arnold Tuntaskan 86 Maraton di Usia 51 Tahun
GIANYAR, investortrust.id – Usia 51 tahun tidak menghalangi diaspora Indonesia Febry Arnold untuk terus menantang dirinya di lintasan maraton. Hingga Maybank Marathon 2026 di Bali, Febry telah menyelesaikan 86 ajang maraton dengan jarak 42,195 kilometer di berbagai negara.
Perjalanan Febry di dunia maraton dimulai hampir dua dekade lalu. Ia pertama kali mengikuti maraton pada 2007 di San Francisco, Amerika Serikat, ketika berusia 31 tahun. Sejak saat itu, olahraga lari jarak jauh berkembang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Kini, pada usia 51 tahun, Febry masih aktif mengikuti berbagai ajang maraton internasional. Bahkan, setelah menyelesaikan Maybank Marathon 2026 di Bali United Training Center (BUTC), Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu (23/8/2026), ia langsung bersiap menghadapi maraton berikutnya di Jepang.
“Minggu 30 Agustus saya ikut Hokkaido Marathon,” ujar Febry dikutip Jumat (28/8/2026).
Hokkaido Marathon tersebut akan menjadi maraton ke-87 bagi Febry. Dalam setahun, ia rata-rata mengikuti sembilan hingga 10 maraton, dengan jumlah terbanyak mencapai 11 maraton dalam satu tahun.
Konsistensinya juga terlihat dari pencapaian personal best yang ditorehkan di Las Vegas dua tahun lalu dengan catatan waktu 3 jam 37 menit. Febry juga telah tiga kali memenuhi standar kualifikasi Boston Marathon.
“Bersyukur sekali masih bisa qualify,” katanya.
Baca Juga
Aqua dan Maybank Marathon 2026 Perkuat Komitmen Gaya Hidup Sehat
Dari San Francisco hingga Bali
Febry mengenal maraton saat masih tinggal di San Francisco. Pada usia 31 tahun, ia mengikuti lomba pertamanya pada 2007. Saat itu, ia tidak menyangka aktivitas berlari tersebut akan berkembang menjadi perjalanan panjang hingga puluhan maraton.
Dari 86 maraton yang telah diikutinya, Boston Marathon menjadi salah satu yang paling berkesan. Menurut Febry, kesempatan pertama mengikuti Boston memiliki arti khusus karena pelari harus terlebih dahulu memenuhi standar kualifikasi.
“Yang paling berkesan mungkin Boston saya pertama. Karena susah banget untuk qualified buat Boston. Yang pertama itu special,” ujarnya.
Selain Boston, Maybank Marathon menjadi salah satu ajang favoritnya. Tahun ini merupakan keikutsertaan keduanya di Maybank Marathon. Dua tahun sebelumnya, Febry juga sengaja datang ke Bali untuk mengikuti ajang tersebut.
Menurut Febry, daya tarik utama Maybank Marathon bukan hanya lintasan, tetapi juga dukungan masyarakat serta kekuatan budaya lokal yang terasa sepanjang rute.
“Culture-nya. Penari-penari pada keluar, kecak, musiknya Bali, itu semua pada cheer. And that's amazing,” katanya.
Ia mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat Bali yang memberikan dukungan kepada pelari sejak dini hari.
“Banyak anak-anak kecil yang pagi-pagi, jam 4 pagi sudah bangun untuk cheer," ujar Febry.
Dukungan masyarakat tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membedakan Maybank Marathon dari sejumlah maraton lain yang pernah diikutinya.
Menurut dia, tidak semua ajang maraton memiliki atmosfer dan dukungan warga seperti yang dirasakannya di Bali. Ia mencontohkan Athens Marathon yang menurutnya memiliki dukungan masyarakat yang relatif lebih terbatas.
“Support-nya agak sedikit kurang,” katanya.
Baca Juga
Pelari Kenya Borong Gelar Marathon Open di Maybank Marathon 2026
Tetap Berlari di Usia 51 Tahun
Bagi Febry, usia bukan alasan untuk berhenti mengejar garis start. Justru, konsistensi mengikuti maraton menjadi bagian dari gaya hidup yang terus dijalaninya.
Ia mengaku lingkungan pertemanan turut membuatnya tetap aktif mengikuti berbagai lomba. Sebagian besar teman-temannya merupakan pelari sehingga ajakan mengikuti maraton kerap sulit ditolak.
“Masalahnya punya teman-teman yang salah. Harus cari teman yang baru. Soalnya seluruh teman saya kebanyakan pelari. Jadi kalau diajak, oke ikut,” ujarnya sambil bercanda.
Setelah 86 maraton, Febry pun belum menetapkan angka terakhir yang ingin dicapai. Ia berharap masih dapat terus berlari dan mengikuti berbagai maraton selama kondisi tubuh memungkinkan.
“Semoga bisa terus,” katanya.
Bagi Febry, perjalanan dari maraton pertama di San Francisco pada usia 31 tahun hingga maraton ke-86 pada usia 51 tahun bukan sekadar kumpulan angka. Setiap lomba memberikan pengalaman, tantangan, dan cerita yang berbeda.
Dan setelah Bali, cerita itu masih berlanjut. Maraton ke-87 sudah menunggu di Hokkaido.
