Mendengar Tubuh, Merawat Kehidupan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – “Listen to your body!” Kalimat itu meluncur singkat dari Garibaldi “Boy” Thohir ketika Investortrust menanyakan resep hidup sehat di sela sebuah obrolan ringan pada Juli 2026. Menurut Boy, nasihat tersebut bukan berasal dari buku motivasi atau seminar kesehatan, melainkan dari seorang tokoh bisnis yang telah melewati lebih dari satu abad kehidupan: Tan Sri Robert Kuok Hock Nien.
“Jawaban itu saya dengar langsung dari taipan Asia Tenggara, Tan Sri Robert Kuok,” kata Boy, Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT), yang genap berusia 61 tahun pada 1 Mei 2026.
Boy mengenang pernah bertanya kepada Robert Kuok mengenai rahasia tetap sehat, produktif, dan berpikir jernih meski telah berusia lebih dari 100 tahun. “Apa resep usia panjang dan tetap sehat hingga di atas 100 tahun?” tanyanya.
Jawaban Robert Kuok ternyata sangat sederhana. “Listen to your body.” Dengarkan tubuh Anda! Rasakan setiap sinyal yang dikirimkan tubuh, lalu responslah dengan bijaksana.
Jawaban itu mungkin terdengar biasa-biasa saja. Namun justru di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi hidup yang dalam. Tubuh manusia sesungguhnya selalu berbicara. Ia memberi tahu kapan kita harus berhenti, kapan harus beristirahat, kapan harus mengurangi beban pekerjaan, dan kapan harus mencari pertolongan medis. Masalahnya, dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali lebih memilih mendengarkan tuntutan pekerjaan daripada mendengarkan tubuhnya sendiri.
Baca Juga
Refleksi Badai Start-up 10 Tahun Terakhir, Boy Thohir Sorot Soal Karakter Gen Z
Tidak sedikit penyakit serius yang sesungguhnya diawali oleh tanda-tanda kecil: rasa lelah berkepanjangan, sulit tidur, nyeri yang berulang, hilangnya nafsu makan, jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, atau perasaan cemas yang terus-menerus. Semua itu merupakan bahasa tubuh yang meminta perhatian sebelum gangguan berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
Menariknya, nasihat Robert Kuok ternyata sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran modern. Dalam ilmu saraf dikenal istilah interoception atau interosepsi, yaitu kemampuan otak untuk merasakan, mengintegrasikan, menafsirkan, dan mengatur berbagai sinyal yang berasal dari dalam tubuh. Konsep ini dijelaskan secara komprehensif oleh Chen WG dan kolega dalam jurnal Trends in Neurosciences (2021), yang kini menjadi salah satu rujukan utama dalam riset hubungan antara otak, tubuh, dan kesehatan.
Interosepsi mencakup kemampuan seseorang mengenali rasa lapar, haus, denyut jantung, napas, ketegangan otot, rasa sakit, hingga perubahan emosi. Dengan kata lain, tubuh sebenarnya selalu mengirimkan informasi mengenai kondisinya. Pertanyaannya hanyalah apakah kita cukup peka untuk menangkap pesan tersebut.
Pentingnya kemampuan membaca sinyal tubuh bahkan mendapat perhatian khusus dari National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat. Sejak 2019, NIH menjadikan interosepsi sebagai salah satu prioritas riset neurosains karena dinilai berperan penting dalam pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup.
Menurut NIH, kemampuan mengenali sinyal tubuh berkaitan erat dengan kesehatan fisik maupun mental. Gangguan interosepsi ditemukan pada berbagai penyakit, mulai dari diabetes, penyakit jantung, obesitas, gangguan kecemasan, depresi, nyeri kronis, hingga berbagai penyakit neurodegeneratif.
Penelitian Khalsa SS dan kolega dalam Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging (2018) juga menunjukkan bahwa kemampuan memahami sinyal tubuh merupakan salah satu fondasi penting dalam regulasi emosi. Semakin baik seseorang mengenali apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya, semakin baik pula kemampuannya mengelola stres dan tekanan hidup.
Ilmu pengetahuan modern juga menemukan bahwa kemampuan tersebut dapat dilatih. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan mindfulness, meditasi, teknik pernapasan, yoga, maupun praktik mind-body interventions mampu meningkatkan kesadaran seseorang terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Kajian Farb N. dan kolega dalam Frontiers in Psychology (2015), serta Gibson J. (2019), menunjukkan bahwa latihan kesadaran memperkuat aktivitas insula, bagian otak yang bertugas memproses berbagai sinyal dari organ-organ tubuh.
Baca Juga
Belajar dari Tiongkok, Boy Thohir Dorong Akademisi UI Jadi Profesor Entrepreneur
Karena itu, mendengarkan tubuh bukan berarti menjadi takut terhadap setiap rasa sakit atau terlalu mencemaskan setiap keluhan kecil. Sebaliknya, yang dimaksud adalah membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak, mengamati kondisi fisik dan mental secara jujur, lalu mengambil keputusan yang tepat.
Ketika tubuh mengirim sinyal kelelahan, beristirahatlah. Ketika napas terasa pendek akibat tekanan pekerjaan, tariklah napas perlahan dan dalam. Ketika pikiran mulai dipenuhi kecemasan, ambillah waktu beberapa menit untuk hening dan menenangkan diri.
Sering kali, tindakan sederhana itulah yang mencegah masalah menjadi lebih besar. Filosofi tersebut tampaknya tercermin pula dalam perjalanan hidup Robert Kuok.
Lahir di Johor Bahru, Malaysia, pada 6 Oktober 1923, Robert Kuok memulai usaha dari sebuah perusahaan perdagangan komoditas bersama saudara-saudaranya. Melalui Kuok Group, ia kemudian membangun kerajaan bisnis yang membentang dari perdagangan gula, agribisnis, pelayaran, logistik, properti, hingga jaringan hotel mewah Shangri-La yang kini dikenal di berbagai belahan dunia.
Keberhasilannya menguasai perdagangan gula internasional membuatnya dijuluki “Sugar King of Asia” atau Raja Gula Asia. Di bawah kepemimpinannya, Kuok Group berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Asia, sementara Forbes secara konsisten menempatkannya sebagai orang terkaya di Malaysia. Pada daftar Malaysia’s 50 Richest 2026, kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar US$ 13,6 miliar.
Namun mereka yang mengenal Robert Kuok lebih sering berbicara tentang karakter dibanding kekayaannya. Ia dikenal tenang, disiplin, rendah hati, tidak mudah bereaksi secara emosional, dan selalu berpikir dalam perspektif jangka panjang. Dalam memoarnya, Robert Kuok berulang kali menegaskan bahwa reputasi, integritas, dan kesabaran jauh lebih bernilai daripada keuntungan sesaat.
Barangkali di situlah hubungan antara kesehatan dan kepemimpinan bertemu. Orang yang mampu mendengarkan tubuhnya biasanya juga mampu mengendalikan emosinya. Orang yang mampu mengelola emosinya akan lebih tenang mengambil keputusan. Dan pemimpin yang tenang umumnya menghasilkan keputusan yang lebih baik dibanding mereka yang terus-menerus hidup dalam tekanan.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia justru semakin jarang berhenti untuk mendengarkan dirinya sendiri. Kita mengejar target, rapat, perjalanan, investasi, dan berbagai pencapaian, tetapi lupa bahwa tubuh memiliki batas yang tidak dapat dinegosiasikan.
Teknologi kedokteran modern memang semakin canggih. Pemeriksaan laboratorium, pencitraan medis, hingga kecerdasan buatan mampu membantu mendeteksi berbagai penyakit. Namun tubuh hampir selalu memberikan peringatan lebih dahulu sebelum penyakit itu ditemukan oleh alat-alat medis.
Persoalannya bukan apakah sinyal itu ada. Persoalannya adalah apakah kita mau mendengarkannya.
Mungkin itulah warisan terbesar dari nasihat sederhana Robert Kuok. Di usia lebih dari satu abad, ia telah membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar. Namun resep hidup yang paling berharga yang ia bagikan justru bukan tentang bagaimana menjadi kaya, melainkan bagaimana tetap hidup sehat.
Dengarkan tubuh Anda
Sebab kita mungkin dapat membeli jam tangan paling mahal, tetapi tidak pernah dapat membeli tambahan waktu kehidupan. Kita dapat membangun gedung tertinggi, tetapi tidak pernah dapat mengganti tubuh yang telah rusak karena diabaikan.
Pada akhirnya, tubuh adalah rumah pertama sekaligus rumah terakhir yang akan kita tinggali sepanjang hidup. Menjaganya bukan sekadar pilihan, melainkan investasi paling berharga bagi masa depan.
