Mama Sinta, Seribu Kisah dari Merauke, dan Pentingnya Mendengar
Poin Penting
|
Oleh: Yosua Noak Douw
INVESTORTRUST – Merauke dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wilayah yang paling banyak diperbincangkan di Indonesia. Berbagai program pembangunan, investasi, dan Proyek Strategis Nasional (PSN) hadir dengan harapan besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Di atas kertas, pembangunan menawarkan banyak peluang. Lapangan kerja dapat tercipta, infrastruktur dapat berkembang, dan aktivitas ekonomi dapat tumbuh lebih cepat. Namun seperti banyak daerah lain di Indonesia, pembangunan di Merauke juga membawa pertanyaan penting.
Pertanyaan dimaksud ialah bagaimana memastikan bahwa kemajuan berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap masyarakat yang telah lama hidup dan menjaga wilayah tersebut? Pertanyaan inilah yang membuat Merauke bukan sekadar cerita tentang proyek pembangunan, tetapi juga tentang manusia.
Suara Grassroot
Di tengah berbagai diskusi tentang pembangunan itu, muncul sosok Yasinta Moiwend (Mama Sinta). Bagi sebagian orang, Mama Sinta dikenal sebagai perempuan adat yang aktif menyuarakan aspirasi masyarakat terkait tanah ulayat dan lingkungan hidup.
Ia menjadi salah satu wajah dari kelompok masyarakat yang ingin memastikan bahwa pembangunan tidak mengabaikan suara warga yang hidup langsung di wilayah terdampak atau tingkat paling bawah, akar tumput (grassroot).
Namun yang menarik, perjalanan Mama Sinta kemudian menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Pandangan seseorang bisa berkembang. Pengalaman hidup bisa mengubah cara melihat suatu persoalan.
Harapan terhadap masa depan keluarga dan komunitas juga bisa memengaruhi pilihan-pilihan yang diambil. Di situlah kita belajar bahwa manusia tidak selalu dapat ditempatkan dalam kategori sederhana: pro atau kontra, setuju atau menolak.
Percakapan yang Lebih Besar
Diskusi yang menyelipkan juga perdebatan mengenai Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita membawa perhatian publik kepada berbagai isu yang berkembang di Merauke. Bagi sebagian kalangan, film dokumenter tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan kritik terhadap dampak pembangunan. Bagi sebagian lainnya, film itu dianggap hanya menggambarkan sebagian dari realitas yang ada. Namun, ia membutuhkan percakapan lebih besar.
Di tengah polemik tersebut, muncul persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu hak individu atas penggunaan data pribadi, gambar, dan identitas seseorang. Ketika Mama Sinta memilih menempuh jalur hukum terkait penggunaan dirinya dalam film tersebut, publik kembali diingatkan bahwa setiap perjuangan sosial tetap harus menghormati hak-hak personal.
Di era digital saat ini, penghormatan terhadap persetujuan dan hak individu menjadi prinsip yang penting bagi semua pihak, baik pemerintah, media, organisasi masyarakat sipil, akademisi maupun komunitas advokasi.
Salah satu pelajaran penting dari dinamika Merauke adalah bahwa pembangunan tidak cukup diukur hanya dengan angka investasi, luas lahan, atau target produksi. Pembangunan juga perlu diukur dari sejauh mana masyarakat merasa dilibatkan dalam proses tersebut. Masyarakat ingin mengetahui apa yang sedang direncanakan.
Masyarakat juga ingin didengar ketika menyampaikan kekhawatiran. Masyarakat rindu dilibatkan ketika keputusan menyangkut ruang hidup mereka sedang dibahas. Pada titik inilah komunikasi menjadi sama pentingnya dengan pembangunan itu sendiri.
Ruang Dialog
Sering kali perdebatan publik terjebak dalam dua kubu yang saling berhadapan. Satu pihak berbicara tentang pentingnya investasi dan pertumbuhan ekonomi. Pihak lain berbicara tentang perlindungan lingkungan dan hak masyarakat adat. Padahal keduanya bukanlah tujuan yang harus dipertentangkan. Keduanya mesti masuk dalam ruang dialog guna menjembatani persepsi yang beragam.
Indonesia membutuhkan pembangunan. Tetapi Indonesia juga membutuhkan keberlanjutan. Papua membutuhkan investasi. Tetapi Papua juga membutuhkan penghormatan terhadap budaya dan hak masyarakat adat. Karena itu, sekali lagi, ruang dialog menjadi kebutuhan utama. Dialog bukan untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dialog diperlukan agar setiap pihak memahami sudut pandang pihak lainnya.
Kisah Mama Sinta yang mengambil “jalan lain” memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Bagi pemerintah, pembangunan perlu terus disertai komunikasi yang terbuka, transparan, dan partisipatif. Bagi masyarakat adat, keterlibatan aktif dalam proses pembangunan menjadi penting agar aspirasi lokal benar-benar menjadi bagian dari pengambilan keputusan.
Bagi dunia usaha, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari keuntungan ekonomi, tetapi juga dari penerimaan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Bagi organisasi masyarakat sipil dan aktivis, perjuangan untuk membela masyarakat harus tetap menjunjung tinggi hak individu serta prinsip persetujuan yang jelas.
Bagi media dan pembuat film, kebebasan berekspresi perlu berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap etika dan hak personal. Merauke sedang menulis sejarah. Merauke saat ini sedang berada pada fase penting dalam perjalanan pembangunan Papua. Di satu sisi terdapat peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga lingkungan, budaya, dan hubungan sosial yang telah terbangun selama generasi. Perjalanan ini tentu tidak akan selalu mudah. Akan ada perbedaan pendapat. Akan ada kritik berseliweran. Akan ada dukungan. Semua itu merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat.
Mendengar Sebelum Menilai
Pada akhirnya, kisah Mama Sinta mengajarkan satu hal sederhana namun sering terlupakan: pentingnya mendengar sebelum menilai. Di balik setiap pendapat, ada pengalaman hidup. Di balik setiap pilihan, ada pertimbangan yang mungkin tidak diketahui publik. Di balik setiap perdebatan tentang pembangunan, ada manusia-manusia yang sedang berusaha mencari masa depan terbaik bagi keluarganya.
Karena itu, mungkin pelajaran terbesar dari Merauke bukanlah tentang siapa yang paling benar dalam perdebatan. Ia juga tentang bagaimana kita membangun ruang yang memungkinkan semua suara didengar, semua pihak dihormati, dan semua kepentingan dipertemukan dalam semangat mencari kebaikan bersama.
Mengapa? Pembangunan yang berkelanjutan (sustainable) yang yang berkualitas, yaitu pembangunan yang memperhitungkan pertumbuhan (pro-growth), penyerapan tenaga kerja (pro-job), mengurangi kemiskinan (pro-poor) dan memperhatikan daya dukung lingkungan (pro-environment) bukan hanya tentang membangun jalan, pelabuhan atau kawasan ekonomi.
Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Nah, di antara seribu kisah yang lahir dari tanah Merauke, Papua Selatan, kisah Mama Sinta mengingatkan kita bahwa kemajuan akan lebih bermakna ketika berjalan bersama dalam dan melewati ruang dialog, penghormatan, dan kemanusiaan.
*) Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, doktor lulusan Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua.

