Simak Kisah Turis Indonesia saat Mencoba Transportasi Umum di 'Lion City'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Dua wisatawan asal Indonesia membagikan pengalaman mereka menggunakan transportasi publik di Singapura (The Lion City). Keduanya menilai sistem transportasi di negara tersebut terintegrasi, mudah digunakan, serta memudahkan mobilitas wisatawan menuju berbagai destinasi.
Miranda (29), seorang pekerja swasta, menceritakan pengalamannya telah dimulai sejak tiba di Bandara Changi Singapura. Menurut dia, bandara tersebut telah terhubung langsung dengan jaringan MRT sehingga memudahkan wisatawan melanjutkan perjalanan.
"Changi sudah terintegrasi dengan transportasi publik MRT. Mereka juga punya pusat wisata, namanya Jewel Changi. Jadi aku merasa transportasi publiknya ini benar-benar menarik karena selain sudah langsung terhubung MRT, wisatawan benar-benar dimanjakan dengan adanya Jewel itu," kata Miranda saat dihubungi investortrust.id, Minggu (26/7/2026).
Ia juga menilai fasilitas penunjang transportasi publik di Singapura memudahkan wisatawan, termasuk kondisi jalur pejalan kaki yang rata sehingga nyaman dilalui sambil membawa koper.
Menurut Miranda, papan petunjuk arah menuju MRT maupun halte bus juga mudah dipahami. Ia menyebut jaringan MRT Singapura telah menjangkau banyak kawasan, termasuk sejumlah destinasi wisata seperti Marina Barrage, Gardens by the Bay, hingga Singapore Indoor Stadium.
Baca Juga
Hasil Piala AFF 2026: Vietnam Lumat Timor Leste, Singapura Pecundangi Kamboja
Selama berada di Singapura, Miranda mengaku lebih banyak menggunakan MRT dan bus. Ia sempat membeli Singapore Tourist Pass tiga hari, tetapi menilai kartu EZ-Link lebih ekonomis bagi wisatawan yang berada di Singapura lebih dari tiga hari.
"Lebih baik pakai EZ-Link kalau buat lebih dari tiga hari di Singapura. Soalnya setelah dihitung-hitung, Singapore Tourist Pass itu agak mahal," ujarnya.
Untuk mencari rute perjalanan, Miranda mengandalkan fitur Google Maps. Menurut dia, aplikasi tersebut sudah cukup membantu menentukan perpindahan moda maupun arah perjalanan.
Ia menyebut perpindahan dari MRT ke bus berlangsung praktis karena seluruh informasi rute dapat diakses dengan mudah melalui aplikasi.
Selain kemudahan navigasi, Miranda juga menyoroti kebersihan stasiun dan armada transportasi publik. Ia menilai fasilitas tersebut selalu terawat dan masyarakat juga tertib saat mengantre maupun menggunakan fasilitas umum. "Orang-orangnya juga tertib. Ngantre MRT enggak ada yang rebutan," ucapnya.
Miranda juga mengaku merasa aman menggunakan transportasi publik hingga malam hari seusai menonton konser di Singapura.
Sementara itu, jurnalis Alifian (26) juga menilai transportasi publik Singapura menawarkan pengalaman yang mulus sejak keluar dari Bandara Changi.
"Sejak keluar dari Bandara Changi, alur menuju stasiun MRT sangat jelas. Tidak ada rasa bingung atau ragu karena wayfinding dibuat begitu komprehensif," kata Alifian.
Baca Juga
Kopi Kenangan Dikabarkan Bidik IPO di Singapura, Ini Respons CEO
Menurut dia, MRT menjadi moda utama selama berada di Singapura, sedangkan bus digunakan untuk menjangkau lokasi yang tidak dilayani stasiun kereta.
Alifian menuturkan, hampir seluruh stasiun MRT telah terhubung dengan bus interchange sehingga perpindahan antarmoda menjadi lebih efektif dan ramah bagi pejalan kaki.
Ia juga menilai wisatawan asing tidak akan mengalami kesulitan menggunakan transportasi publik Singapura karena didukung petunjuk visual yang jelas, peta jaringan yang mudah dipahami, serta pengumuman berbahasa Inggris.
Dari sisi pembayaran, Alifian menyebut sistem di Singapura tidak jauh berbeda dengan Indonesia karena sama-sama menggunakan kartu elektronik. Namun, kata dia, Singapura sudah memungkinkan pengguna memanfaatkan kartu debit maupun kartu kredit contactless secara langsung untuk mengakses transportasi umum.
Alifian juga menilai frekuensi kedatangan MRT dan bus sesuai harapan. Dikatakan, pada jam sibuk, MRT dapat datang setiap dua hingga tiga menit, sedangkan bus berkisar lima hingga 12 menit.
Ia mengaku merasa aman menggunakan transportasi publik, termasuk saat bepergian sendirian pada malam hari. "Stasiun dan armada memiliki penerangan yang sangat baik, serta kehadiran petugas yang komunikatif," imbuh Alifian.
Meski menilai Singapura unggul dari sisi cakupan jaringan dan integrasi antarmoda, Alifian mengatakan MRT Jakarta memiliki tingkat kenyamanan yang tidak kalah.
"MRT di Indonesia dengan Singapura tidak kalah jauh, malah menurut saya jauh lebih nyaman MRT di Indonesia karena terasa jauh lebih adem. Armada dan kebersihan stasiun juga sudah mampu bersanding, bedanya hanya cakupannya saja, di Singapura sudah lebih matang," katanya.
Baik Miranda maupun Alifian sama-sama menilai Jakarta telah mengalami kemajuan dalam pengembangan transportasi publik.
Namun, keduanya berharap cakupan jaringan, konektivitas antarmoda, akses pejalan kaki, serta keterhubungan transportasi dengan destinasi wisata dapat terus ditingkatkan oleh pemerintah.
Menurut Miranda, salah satu hal yang dapat dipelajari dari Singapura adalah memperbanyak koneksi transportasi publik menuju tempat-tempat wisata.
Sementara itu, Alifian menilai pengembangan akses pejalan kaki, konektor antarmoda, serta perluasan jaringan transportasi massal hingga wilayah penyangga Jakarta menjadi aspek yang dapat terus diperkuat.
Sekadar gambaran, Singapura mengandalkan jaringan transportasi publik yang terdiri dari Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), serta bus umum yang saling terhubung.
Jaringan MRT Singapura menjangkau berbagai kawasan permukiman, pusat bisnis, hingga destinasi wisata seperti Marina Bay, Gardens by the Bay, dan Bandara Changi. Integrasi antarmoda juga didukung jalur pejalan kaki, sistem pembayaran nontunai, serta informasi perjalanan yang terpusat.
Sementara di Jakarta, layanan transportasi publik terdiri atas MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, KRL Commuter Line, Kereta Cepat Whoosh yang terhubung melalui Stasiun Halim, serta jaringan mikrotrans dan bus pengumpan melalui sistem JakLingko.
Pemerintah Provinsi Jakarta juga terus mengembangkan integrasi antarmoda melalui kawasan transit (Transit Oriented Development/TOD) dan tarif terintegrasi.
