Kenali Virus Nipah dan Cara Pencegahannya
JAKARTA, investortrust.id – Virus nipah yang merebak di India patut diwaspadai penularannya di Indonesia. Guna mencegah serta mengobati sakit akibat virus Nipah yang menular dari hewan ke manusia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah menyampaikan panduan bagi masyarakat.
Nipah merupakan penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah yang termasuk ke dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.
Pada 2008, virus Nipah telah dilaporkan sebanyak 700 kasus pada manusia dengan 407 kematian di Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.
Pertengahan 2021, wilayah Kerala di India melaporkan kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah setelah menyerang satu anak usia 12 tahun yang menyebabkan kematian.
Pada 12 September 2023, kasus serupa kembali dilaporkan di wilayah Kerala dan hingga 18 September 2023 telah dilaporkan enam kasus konfirmasi dengan dua kematian.
Virus Nipah merupakan infeksi virus yang gejalanya seperti gejala pada umumnya, yakni demam tinggi, nyeri otot, nyeri sendi, mual, muntah, batuk dan pilek.
Baca Juga
Wisatawan India Bergejala Virus Nipah Perlu Dicurigai, Ini Alasannya
Gejala Virus Nipah dapat membuat seseorang sesak napas berat dalam kurun waktu satu hingga dua hari.
Gejala Virus Nipah ini akan membuat sesak napas yang berat dalam waktu 24 sampai 48 jam dari gejala yang pertama dan bisa menyebabkan koma karena virus tersebut menyebar sampai ke otak, serhingga mengakibatkan penurunan kesadaran.
Adapun penularan virus ini melalui hewan seperti kelelawar dan babi yang kontak langsung dengan manusia melalui cairan seperti liur, darah, ataupun urine. Lalu, cairan tersebut tidak sengaja terpegang atau termakan, masuk melalui mata, hidung ataupun mulut manusia.
Pencehahan Penularan
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, virus Nipah yang merebak di India bukanlah virus baru. Virus ini telah ada sejak puluhan tahun lalu.
Ia mengatakan virus tersebut saat ini kembali menyebar dan mengakibatkan dua kematian dan ratusan orang lainnya diperiksa di India untuk diagnosis lebih lanjut.
kawasan ASEAN di Jakarta, Jumat (25/08/2023). (ANTARA)
Meski penyakit itu belum terdeteksi di Indonesia, kata dia, pemerintah telah menerbitkan kewaspadaan dini merebaknya kasus tersebut.
Langkah antisipasi yang dapat dilakukan di antaranya tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan cairan manis yang diperoleh dari batang tanaman, seperti tebu, sorgum, mapel, atau getah tandan bunga pada malam hari.
"Oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi," katanyadi Jakarta, Jumat (29/09/2023).
Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak dengan hewan ternak, seperti babi, kuda yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah.
Apabila terpaksa harus melakukan kontak, kata Nadia, maka menggunakan alat pelindung diri (APD) guna mencegah kontak langsung dengan organ tubuh.
"Selain itu, konsumsi daging ternak secara matang, cuci dan kupas buah secara menyeluruh buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," katanyaseperti dilansir Antara.
Baca Juga
Kemenkes Terbitkan SE Meminta Kewaspadaan terhadap Virus Nipah
Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, ia mengimbau mereka agar menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar.
"Bagi petugas pemotong hewan, sarung tangan dan pelindung diri harus digunakan sewaktu menyembelih atau memotong hewan yang terinfeksi virus Nipah," katanya.
Dia mengatakan hewan yang terinfeksi virus Nipah tidak boleh dikonsumsi dan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti membersihkan tangan secara teratur, dan menjaga etika bersin.
Jika mengalami gejala berkaitan dengan penyakit virus Nipah dan berinteraksi dengan hewan atau pasien yang terinfeksi, lanjut Nadia, langsung datang ke fasilitas layanan kesehatan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan.
"Apabila terdiagnosis penyakit virus Nipah, dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan mekanisme pengobatan yang diperlukan, seperti terapi suportif dan simptomatik untuk meredakan gejala yang dialami," katanya.
Ia mengatakan hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit virus Nipah, namun gejalanya sudah bisa dideteksi secara dini.
Seseorang yang terinfeksi virus Nipah akan mengalami gejala yang bervariasi dari tanpa gejala atau asimptomatis, infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat hingga ensefalitis fatal.
"Seseorang yang terinfeksi awalnya akan mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan," katanya.
Ia mengatakan gejala itu dapat diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut.
"Beberapa orang pun dapat mengalami pneumonia atopik dan gangguan saluran pernapasan berat," katanya.
Pada kasus yang berat, kata Nadia, ensefalitis dan kejang akan muncul dan dapat berlanjut menjadi koma dalam 24-48 jam hingga kematian.
"Angka fatalitas yang tinggi dikarenakan gejala yang tidak khas di awal sakit. Angka kematiannya berkisar 40-75 persen," katanya.
Hingga saat ini, kata dia, belum tersedia vaksin untuk mencegah penyebaran penyakit virus Nipah.
Perkuat Surveilans
Kemenkes memperkuat surveilans sebagai upaya siaga dalam menghadapi Virus Nipah yang belum lama ini dilaporkan muncul di sejumlah negara tetangga.
"Kita perkuat surveilans, terutama di daerah yang terdapat banyak hewan sebagai sumber Virus Nipah, seperti kelelawar," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/09/2023).
Maxi mengatakan surveilans dilakukan dengan memetakan wilayah yang memiliki banyak kelelawar, seperti Manado, yang memiliki pasar jual beli kelelawar dan binatang lainnya untuk dikonsumsi.
Selain itu pihaknya juga memperkuat surveilans di sejumlah daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Malaysia, yang sebelumnya dilaporkan terdapat Virus nipah.
"Kami juga membuat edaran terkait tanda orang sakit Nipah. Pada prinsipnya sama dengan virus lain, tapi kalau tiba-tiba banyak kejadian, itu indikasi (penyakit Nipah)," ujarnya.
Meski demikian, Maxi menyatakan saat ini belum ada satu pun pihak yang melaporkan terjadinya penyakit Nipah di Indonesia.
Begitu pula dengan pembatasan kunjungan dari negara tetangga, pihaknya belum melakukan imbauan kepada pemangku kepentingan terkait untuk melakukan pembatasan kunjungan dari luar negeri, karena belum terdapat penularan dari manusia ke manusia.
Sebelumnya, Kemenkes telah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/4022/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah.
Dalam surat edaran tersebut Kemenkes meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Dinas Kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di daerah untuk melakukan pemantauan kasus dan negara terjangkit di tingkat global melalui kanal resmi https://infeksiemerging.kemkes.go.id dan https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news.
Kemenkes juga meminta pemangku kepentingan terkait untuk selalu meningkatkan pengawasan terhadap orang (awak, personel, dan penumpang), alat angkut, barang bawaan, lingkungan, vektor, binatang pembawa penyakit di pelabuhan, bandar udara dan pos lintas batas negara, terutama yang berasal dari negara terjangkit.
Jaga Kebersihan Diri
Peningkatan pengawasan penyebaran Virus Nipah dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta dengan mengajak warga Ibu Kota untuk selalu menjaga kebersihan diri.
"Tetap menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Lalu memasak makanan hingga matang dengan suhu di atas 70 derajat Celcius," kata Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama, Kamis (28/09/2023).
Selain itu, Ngabila meminta warga tidak resah dengan kemunculan informasi-informasi terkait Virus Nipah. Warga harus tetap sigap dan berhati-hati dalam menghadapi virus tersebut.
Oleh karena itu, Ngabila mengingatkan masyarakat ketika menemukan gejala seperti demam ataupun nyeri otot, sendi, hingga sesak napas segera ke rumah sakit untuk dicek dan ditindaklanjuti.

