Pukulan Ilegal, Mendorong Alex Melakukan Rematch dengan Gane
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kekalahan Alex Pereira dari Ciryl Gane dalam perebutan gelar interim kelas berat UFC memicu kontroversi besar di dunia mixed martial arts (MMA). Petarung asal Brasil itu kalah melalui technical knockout (TKO) pada ronde kedua, namun menolak menganggap hasil pertandingan tersebut semata-mata karena keunggulan lawan. Pereira menuding sejumlah pukulan Gane mengenai bagian belakang kepalanya, area yang dilarang dalam aturan MMA profesional. Kontroversi itu kini menjadi alasan utama yang mendorong Pereira menuntut pertandingan ulang (rematch) melawan Gane.
Pertarungan berlangsung dalam ajang UFC Freedom 250 yang digelar di halaman selatan Gedung Putih (South Lawn of the White House), Washington DC, Amerika Serikat, pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat. Event tersebut menjadi salah satu rangkaian perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat dan tercatat sebagai ajang olahraga tarung profesional pertama yang pernah digelar di kompleks Gedung Putih. Sejumlah media internasional, termasuk Reuters, The Guardian, dan ESPN, menyebut ajang ini sebagai salah satu perhelatan UFC paling bersejarah dalam dua dekade terakhir.
Bagi Pereira, pertarungan tersebut merupakan upaya mengejar sejarah. Setelah menjadi juara UFC di kelas middleweight dan light heavyweight, ia naik ke divisi heavyweight untuk mencoba merebut gelar juara di kelas ketiganya. Jika berhasil, Pereira akan menjadi salah satu petarung paling sukses dalam sejarah UFC.
Namun, langkah itu terhenti ketika Gane menjatuhkannya dengan jab keras pada awal ronde kedua. Saat Pereira terjatuh dan berusaha bertahan, Gane melancarkan serangkaian pukulan lanjutan hingga wasit Herb Dean menghentikan pertandingan dan menyatakan kemenangan TKO untuk petarung Prancis tersebut.
Kontroversi Pukulan Belakang Kepala
Kontroversi muncul setelah tayangan ulang pertandingan beredar luas. Sejumlah analis MMA, mantan petarung, hingga penggemar menyoroti beberapa pukulan hammerfist dan siku yang tampak mengenai bagian belakang kepala Pereira. Dalam aturan Unified Rules of MMA, pukulan ke area tengkuk dan bagian tengah belakang kepala termasuk pelanggaran karena berisiko menyebabkan cedera serius pada batang otak dan tulang belakang bagian atas.
Sehari setelah pertandingan, Pereira menyampaikan protes terbuka. Ia mengakui jab yang menjatuhkannya merupakan pukulan yang sah. Namun, menurutnya, serangan lanjutan yang diterimanya ketika berada di bawah banyak mengenai bagian belakang kepala. Bahkan, ia mengunggah foto benjolan di bagian belakang kepalanya sebagai bukti.
Pereira juga mengkritik wasit Herb Dean. Menurutnya, sebelum pertandingan dimulai, ia telah meminta Dean memperhatikan kemungkinan pelanggaran karena Gane beberapa kali pernah terlibat kontroversi serupa dalam pertandingan sebelumnya. Namun, selama laga berlangsung, Dean tidak memberikan peringatan maupun menghentikan aksi tersebut.
Di sisi lain, Herb Dean membela keputusannya. Dalam penjelasannya kepada sejumlah media MMA, Dean menyatakan bahwa definisi area belakang kepala tidak sesederhana yang dipahami publik. Menurutnya, area ilegal hanya berada pada bagian tengah belakang kepala yang dikenal sebagai “mohawk zone”. Setelah meninjau ulang rekaman pertandingan, Dean berpendapat hanya satu atau dua pukulan yang mungkin dapat diperdebatkan, sementara sebagian besar serangan Gane masih berada dalam area yang diperbolehkan.
Perbedaan interpretasi itulah yang membuat kontroversi terus bergulir. Hingga kini UFC belum memberikan indikasi akan mengubah hasil pertandingan maupun menjatuhkan sanksi kepada Gane.
Siapa Ciryl Gane?
Di tengah kontroversi tersebut, perhatian publik juga tertuju pada sosok Ciryl Gane. Petarung berjuluk “Bon Gamin” atau “anak baik” itu berasal dari Prancis. Ia lahir di La Roche-sur-Yon, wilayah Vendée, pada 12 April 1990. Ayahnya berasal dari Guadeloupe, wilayah seberang laut Prancis di Karibia, sementara ibunya berkebangsaan Prancis.
Berbeda dengan banyak petarung elite UFC yang menekuni bela diri sejak kecil, Gane baru serius berlatih olahraga tarung pada usia 24 tahun. Sebelum menjadi petarung profesional, ia bekerja sebagai tenaga penjualan furnitur. Kariernya dimulai di Muay Thai, di mana ia berhasil meraih gelar juara nasional Prancis sebelum beralih ke MMA.
Saat ini, Gane dikenal sebagai salah satu heavyweight paling teknis di UFC. Dengan tinggi sekitar 196 sentimeter dan berat lebih dari 112 kilogram, ia memiliki kelincahan dan footwork yang jarang dimiliki petarung kelas berat. Banyak pengamat menyebut gaya bertarungnya lebih mirip petarung kelas menengah dibanding heavyweight pada umumnya.
Pengalaman panjang di kelas berat juga menjadi keunggulan Gane. Sebelum menghadapi Pereira, ia telah berhadapan dengan nama-nama besar seperti Francis Ngannou, Jon Jones, dan Tom Aspinall.
Bertahan di Heavyweight
Meski kalah, Pereira tampaknya tidak berniat kembali ke divisi light heavyweight. Pada timbang resmi UFC Freedom 250, berat badannya tercatat 251 pound atau sekitar 113,9 kilogram, sedikit lebih berat dibanding Gane yang berada di angka 248 pound atau sekitar 112,5 kilogram.
Baca Juga
Mantap! Anthony Joshua vs Francis Ngannou Deal, Eks Juara Dunia Tinju Lawan Jagoan UFC
Fakta tersebut menunjukkan Pereira telah berhasil beradaptasi dengan tuntutan fisik kelas berat. Selain itu, pada usia 38 tahun, bertarung di heavyweight membuatnya tidak perlu lagi menjalani pemotongan berat badan ekstrem yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kariernya di middleweight dan light heavyweight.
Karena itu, sejumlah analis MMA menilai Pereira kemungkinan besar akan tetap bertarung di heavyweight. Selain peluang finansial yang lebih besar, divisi ini juga menawarkan sejumlah pertarungan bergengsi yang dapat meningkatkan warisannya sebagai salah satu striker terbaik dalam sejarah UFC.
Rematch Jadi Pilihan Utama
Untuk saat ini, opsi yang paling mungkin adalah rematch melawan Gane. Kontroversi pukulan belakang kepala telah menciptakan narasi yang kuat dan menarik secara komersial bagi UFC. Pereira sendiri secara terbuka menyatakan ingin mendapatkan kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa kekalahannya bukan semata-mata karena kalah teknik atau kekuatan.
Sementara itu, Gane justru mengincar pertarungan penyatuan gelar melawan juara dunia kelas berat UFC, Tom Aspinall. Jika UFC memilih jalur tersebut, Pereira mungkin harus menjalani satu pertarungan lagi sebelum mendapatkan kesempatan rematch.
Apa pun keputusan UFC, kontroversi di Gedung Putih telah mengubah hasil pertandingan ini dari sekadar kemenangan TKO menjadi salah satu perdebatan terbesar MMA pada 2026. Bagi Pereira, persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan peluang merebut gelar heavyweight, melainkan membuktikan bahwa hasil pertarungan itu tercipta dalam kondisi yang benar-benar adil.
