Gubernur BOJ Sebut Ekonomi Jepang Mulai Pulih, tapi Masih Lemah
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda mengatakan perekonomian Jepang sudah mulai pulih namun juga menunjukkan beberapa tanda pelemahan, memberikan penilaian yang sedikit lebih suram dibandingkan bulan Januari sehubungan dengan serangkaian data konsumsi yang lemah baru-baru ini.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan, di mana dewan akan memperdebatkan apakah prospeknya cukup cerah untuk menghapuskan stimulus moneter dalam jumlah besar.
Melansir dari Channel News Asia (CNA), Kamis (14/3/2024), Ueda menyebut, konsumsi makanan dan kebutuhan sehari-hari melemah di tengah harga yang lebih tinggi. Meski begitu, Ueda menyebut belanja rumah tangga membaik secara moderat di tengah harapan kenaikan upah di masa depan.
“Perekonomian Jepang mulai pulih secara moderat, meskipun kelemahan terlihat pada beberapa data,” kata Ueda, ketika ditanya oleh seorang anggota parlemen tentang tanda-tanda pelemahan dalam konsumsi dan belanja modal baru-baru ini.
Baca Juga
Seperti Jepang dan Korsel, Indonesia Harus Manfaatkan Bonus Demografi Sebelum Masuki Usia Penuaan
Lebih lanjut, Ueda menyampaikan, penilaian tersebut sedikit kurang optimis dibandingkan dengan yang ditunjukkan dalam laporan triwulanan terbaru BOJ yang diterbitkan pada bulan Januari, yang menggambarkan perekonomian sebagai “pemulihan moderat”.
Ueda memberikan sedikit petunjuk mengenai seberapa cepat BOJ akan mengakhiri suku bunga negatif yang telah diterapkan sejak tahun 2016.
Namun, dia mengatakan ada berbagai cara untuk meningkatkan biaya pinjaman jangka pendek jika kondisinya memungkinkan untuk mengakhiri suku bunga negatif.
Berdasarkan kebijakan suku bunga negatifnya, BOJ saat ini membebankan bunga sebesar 0,1% pada kelebihan cadangan lembaga keuangan yang diparkir di bank sentral untuk mendorong mereka meminjamkan uangnya.
Baca Juga
KAI Commuter Tandatangani MoU dengan JRTM Jepang Senilai Rp 734 Miliar
Salah satu idenya, kata Ueda, adalah memberikan bunga positif pada cadangan devisa, yang akan membantu menaikkan suku bunga overnight call.
Ueda membeberkan, jika inflasi meningkat dan memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, BOJ dapat melakukannya dengan menaikkan suku bunga jangka pendek daripada mengurangi kepemilikan obligasinya yang besar.
“Kami fokus pada apakah siklus inflasi upah yang positif akan dimulai, dalam menilai apakah pencapaian target harga kami yang berkelanjutan dan stabil sudah mulai terlihat. Berbagai data telah keluar sejak Januari dan kemungkinan besar kami akan mengeluarkan data tambahan pada minggu ini. Kami akan mencermati data tersebut secara komprehensif, dan mengambil keputusan kebijakan moneter yang tepat," imbuhnya.
Lolos dari Resesi
Sementara itu, Pemerintah Jepang pada Senin (11/3/2024) mengatakan bahwa negaranya berhasil lolos dari resesi pada kuartal empat 2023 dengan pertumbuhan ekonomi pada Oktober-Desember mencapai 0,4% berkat belanja modal yang kuat.
Produk Domestik Bruto (PDB) sektor riil yang disesuaikan dengan inflasi direvisi naik dari laporan sebelumnya yang turun 0,4%. Kinerja tersebut merupakan perkembangan positif bagi Bank of Japan karena pasar keuangan memperkirakan bank sentral tersebut akan mengakhiri kebijakan suku bunga negatifnya pada Maret atau April ini.
Meski kinerja keuangan direvisi menjadi positif, Jepang masih kehilangan statusnya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia yang digantikan oleh Jerman pada 2023.
Pemerintah juga menyatakan bahwa perekonomian pulih pada kecepatan yang moderat. Namun permintaan domestik, khususnya konsumsi swasta, kurang kuat karena kenaikan harga barang sehari-hari telah membebani rumah tangga.
Kemudian, konsumsi swasta yang menyumbang lebih dari separuh perekonomian, turun 0,3%, lebih besar dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,2%. Hal itu menandakan penurunan selama tiga kuartal berturut-turut dengan konsumen belum merasakan pertumbuhan upah riil akibat percepatan inflasi.
Pelemahan tersebut juga diimbangi oleh pertumbuhan belanja modal yang melonjak sebesar 2,0%, di revisi naik dari penurunan sebesar 0,1%.
"Resesi teknis dapat dihindari dan Bank of Japan kemungkinan akan mengakhiri suku bunga negatifnya. Namun konsumsi swasta melemah dan perekonomian kemungkinan akan mengalami pertumbuhan negatif pada Januari hingga Maret," kata Ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, Shinichiro Kobayashi seperti dilansir Antara.

