Penyanyi Rap Ini Rilis Lagu Baru dan Jadi Perdana Menteri, Siapa Dia?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nama Balendra Shah, atau yang dikenal dengan nama panggung Balen, bukanlah nama asing di skena hip-hop Kathmandu, ibu kota “Negeri Awan” Nepal. Setidaknya sebelum tahun 2022, Balen adalah sosok rapper yang kerap muncul di panggung untuk adu kemampuan ‘ngerap’, dan selalu muncul di kompetisi-kompetisi rap besar atau rap battle di Nepal.
Namun pria berusia 35 tahun yang sejatinya punya profesi sebagai engineer ini mulai aktif di politik baru tiga tahun terakhir. Ia pun dikenal sebagai politisi di luar jajaran lingkaran elit politik di Nepal. Ia memang baru benar-benar menggunakan hak politiknya untuk memilih dalam pemilu pada tiga tahun silam, di tahun 2022, untuk pemilihan walikota dengan memilih namanya sendiri.
Dan sejak Jumat, 27 Maret 2026, ia tak perlu lagi keluar masuk kompetisi Rap Battle, karena sejak hari yang sama ia resmi mendapatkan tugas untuk memimpin Nepal setelah ia dilantik sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Ram Chandra Paudel. Ia berhak menduduki posisi terpenting di negaranya setelah partainya, Rastriya Swatantra Party (RSP), menang telak, dan menjadikannya salah satu PM termuda dalam sejarah Nepal.
Saat dilantik di Istana Presiden, Balen tampil mengenakan celana hitam, jaket senada, topi khas Nepal berwarna hitam yang menjadi ciri khasnya, serta kacamata hitam.
Lebih unik lagi, sehari sebelum dilantik, ia membacakan pandangan politiknya di hadapan publik, yang dilantunkan dalam bentuk lagu yang oleh sebagian orang dianggap alunan ocehan tanpa jeda. Dan sekadar informasi saja, pandangan politik yang ia sampaikan ia rangkum dalam sebuah lagu yang telah ia rilis dalam sebuah album.
“Nepal kali ini tidak takut, hati ini dipenuhi darah merah … Tawa dan kebahagiaan akan hadir di setiap rumah kali ini,” lantun Shah dalam lagu berjudul Jay Mahakaali (Kemenangan bagi Dewi Mahakali). “Kekuatan persatuan adalah kekuatan nasional saya,” lanjut liriknya seperti dikutip Saudi Gazzette, Minggu (29/3/2026).
Pelantikannya sebagai Perdana Menteri Nepal diharapkan bakal mengakhiri segala sengketa politik dan praktik korupsi yang sempat meruyak Nepal, dan berujung pada kerusuhan dan mundurnya perdana menteri terdahulu Sharma Oli.
Sekadar informasi, Balendra Shah, akhirnya dilantik setelah partainya meraih kemenangan telak dalam pemilu, menyusul gelombang protes yang dipimpin kaum muda yang menggulingkan pemerintahan pada September lalu. Partai Rastriya Swatantra (RSP) yang baru berusia tiga tahun ternyata mampu memenangkan 182 kursi dari total 275 kursi parlemen di pemilu 5 Maret. Pemilu tersebut merupakan yang pertama sejak aksi protes antikorupsi yang dipimpin Generasi Z, yang menewaskan 76 orang.
Kendati leluhurnya berasal dari dataran selatan Nepal yang berbatasan dengan India, Balen lahir dan besar di ibu kota Nepal. Ayahnya adalah praktisi pengobatan tradisional Ayurveda yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, sehingga sejak kecil ia telah mengenal kehidupan kota dan dunia politik.
Baca Juga
Krisis Nepal Memanas: PM Oli Mundur, Militer Ambil Alih Keamanan di Tengah Aksi Protes
Pada masa sekolah, Balen sama sekali tidak terlibat dalam politik. Ia bahkan baru memberikan suara pada 2022, saat mencalonkan diri dalam pemilihan wali kota Kathmandu—dan memilih dirinya sendiri.
Dalam pemilihan walikota 2022, Balen mencalonkan diri sebagai wali kota Kathmandu dengan membangun kampanye melalui media sosial dan alamat email bertajuk “Balen4Mayor”.
Dengan gaya berpakaian serba hitam, ia tampil mencolok di mata pemilih muda saat berkeliling ke berbagai sudut kota, menggalang dukungan dan menjanjikan perubahan.
Ia berkampanye dengan isu antikorupsi dan akuntabilitas, tampil di podcast serta acara televisi. Banyak pemilih muda tergerak oleh sosok politisi baru ini, bahkan secara sukarela terlibat dalam kampanyenya.
Dukungan generasi muda juga datang dari diaspora Nepal di luar negeri, yang mendorong keluarga mereka di tanah air untuk memilih Balen ketimbang elite politik jadul. Sekitar seperempat rumah tangga di Nepal diketahui memiliki anggota keluarga yang tinggal di luar negeri, mereka menjadikan media sosial sebagai penghubung penting antara pemilih di dalam dan luar negeri.
Balen berhasil terpilih menjadi walikota mengalahkan kandidat kuat dari partai-partai mapan dengan selisih suara besar. Kemenangan yang mengejutkan banyak kalangan politik di Nepal.
Menjadi Wali Kota
Setelah terpilih sebagai wali kota, Balen yang melek media televisi justru mulai menjauh dari media arus utama dan semakin sulit diakses oleh jurnalis.
Sebagai gantinya, ia sangat aktif di media sosial seperti Facebook, X, dan TikTok, sering mengunggah pesan kontroversial, terutama pada malam hari menjelang akhir pekan.
Selain memicu kontroversi, ia juga fokus meningkatkan efisiensi birokrasi, menyiarkan rapat secara langsung, serta turun langsung ke lokasi sengketa untuk merebut kembali lahan publik.
Namun, beberapa kebijakannya dinilai bertentangan dengan pesan dalam musiknya yang membela masyarakat kecil. Ia menertibkan pedagang kaki lima, memperlebar jalan, dan menindak penunggak pajak—langkah yang menuai kritik pada awal masa jabatannya.
Berbeda dengan wali kota sebelumnya, Balen kerap mengunjungi proyek secara langsung dan mempertanyakan kualitas pekerjaan kepada kontraktor. Ia juga terlibat langsung dalam pembongkaran bangunan ilegal.
Baca Juga
Nepal Kini Dipimpin PM Perempuan Pertama Sushila Karki, Usai Gelombang Aksi Demonstrasi
Dalam salah satu insiden yang viral, ia menghadapi pemilik properti di Baneshwor yang menghalangi pembongkaran bangunan ilegal di area parkir basement.
“Apakah saya harus memiliki peta rumah Anda? Siapa yang seharusnya memilikinya, Anda atau saya?” ujarnya.
Ketika pemilik tetap menolak, Balen mengambil dokumen resmi dari kantornya, kembali ke lokasi, dan melanjutkan pembongkaran dengan alat berat dan aparat keamanan.
Insiden tersebut ditonton jutaan orang di media sosial dan YouTube, mendapat pujian dari para pendukung, serta semakin meningkatkan popularitasnya.
Selama menjabat, Shah juga terus mengkritik para politisi dan birokrat lama. Ia bahkan pernah memperingatkan bahwa sampah akan dibuang di depan kantor pemerintah jika mereka tidak bekerja sama dengan pemerintah kota.
Ia juga sempat mengusulkan pemindahan kompleks pemerintahan utama Singha Durbar, bahkan mengancam akan membakarnya jika pejabat tidak mendukung upayanya.
Pun ia menarik perhatian melalui sikap nasionalis, seperti memasang peta “Greater Nepal” di kantornya—yang mencakup wilayah India dan Bangladesh—serta melarang film Bollywood diputar di bioskop Kathmandu.
Perang Media Sosial
Pada September 2025, pemerintah yang dipimpin KP Sharma Oli menangguhkan platform media sosial karena tidak terdaftar di Nepal. Kebijakan ini memicu kemarahan, terutama di kalangan anak muda.
Selama ini, media sosial digunakan untuk mengungkap korupsi dan kesenjangan antara elite politik dan masyarakat pedesaan, sehingga pembatasan tersebut semakin memperbesar kemarahan publik.
Balen mendukung aksi protes Generasi Z. Melalui media sosial, ia mengajak mahasiswa turun ke jalan untuk menjatuhkan pemerintahan Oli.
Ribuan mahasiswa, banyak di antaranya masih mengenakan seragam sekolah, turun ke jalan di Kathmandu untuk memprotes korupsi dan ketimpangan. Polisi kemudian melepaskan tembakan di luar kompleks parlemen, menewaskan 19 orang.
Keesokan harinya, kekerasan meluas di seluruh Nepal.
Para demonstran yang marah membakar berbagai gedung penting, termasuk istana presiden, kantor perdana menteri, parlemen, dan mahkamah agung, serta rumah para pejabat, bisnis, dan hotel.
Sebanyak 77 orang tewas dalam dua hari, menjadikannya salah satu peristiwa paling mematikan dalam sejarah modern Nepal. Kerusuhan ini memaksa Oli mengundurkan diri.
Balen kemudian mengimbau para demonstran untuk melakukan dialog dengan Angkatan Darat Nepal.
Setelah seruan tersebut, para pemimpin protes memulai pembicaraan dan mendukung mantan ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, untuk memimpin pemerintahan sementara menjelang pemilu baru.
Sebagai wali kota, Shah juga dikritik karena dianggap gagal melindungi bangunan bersejarah yang rusak akibat kebakaran selama kerusuhan.
Ia menolak menjadi perdana menteri saat itu dan memilih mendukung penunjukan Karki.
Meski demikian, pengaruhnya terus meningkat dan menempatkannya sebagai tokoh politik penting.
Perubahan ini juga didorong oleh demografi Nepal yang didominasi anak muda, dengan lebih dari 40% penduduk berusia di bawah 35 tahun dan usia median sekitar 25,7 tahun.
Dari Wali Kota ke Perdana Menteri
Awal tahun ini, Shah mengundurkan diri sebagai wali kota dan bergabung dengan Partai Rastriya Swatantra (RSP), partai politik baru yang didirikan oleh tokoh televisi Rabi Lamichhane.
Partai tersebut sebelumnya menjadi kekuatan keempat terbesar di parlemen setelah pemilu 2022, namun kemudian tersandung berbagai kontroversi yang melibatkan Lamichhane, termasuk dugaan penipuan koperasi, kejahatan terorganisir, dan pencucian uang. Ia kemudian diskors dari parlemen dan dipenjara.
Setelah dibebaskan, Lamichhane mencapai kesepakatan dengan Balen dan mengangkatnya sebagai tokoh nomor dua dalam partai.
Balen dengan cepat menjadi wajah utama partai dan menarik dukungan luas dari berbagai kelompok, termasuk anak muda, perempuan, dan diaspora.
Berbeda dengan Lamichhane yang kerap kontroversial, Balen membangun pendekatan yang lebih lunak dan inklusif, serta menghindari retorika yang memecah belah.
Dalam pemilu tahun ini, saat partai-partai lama bersikap defensif, Balen mengusung perubahan generasi—dan berhasil menang.
Ia mengalahkan mantan perdana menteri Oli di daerah pemilihannya dengan selisih besar. Partainya meraih hampir dua pertiga kursi dari total 275 kursi parlemen—yang pertama sejak pemulihan demokrasi Nepal pada 1990, tahun kelahiran Shah.
“Kemenangan Balen memiliki dampak luas secara politik, sosial, dan budaya,” kata Santa Gaha Magar, editor media digital Onlinekhabar.
“Frustrasi terhadap elite lama dan harapan akan perubahan mendorongnya naik ke tampuk kekuasaan, sekaligus mendefinisikan ulang cara berpolitik di Nepal,” tambahnya.
Magar juga menilai kebangkitan Shah dapat mendorong partisipasi anak muda dalam politik.
“Berbeda dengan generasi lama yang menjadikan politik sebagai profesi seumur hidup, anak muda akan mencoba terlibat dalam politik, dan kembali ke profesi mereka jika tidak terpilih,” ujarnya.
Dampak terhadap Kebijakan Luar Negeri
Balen sebelumnya menggunakan retorika anti-India saat menjabat wali kota, namun kini mendapatkan dukungan dari berbagai mitra internasional setelah kemenangan pemilunya.
India menjadi salah satu negara pertama yang memberikan ucapan selamat, disusul Amerika Serikat dan China.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyatakan harapannya untuk bekerja sama demi “kemakmuran, kemajuan, dan kesejahteraan bersama kedua negara”.
Para analis menilai kepemimpinan Shah akan menguji kemampuan Nepal dalam menyeimbangkan hubungan dengan negara-negara tetangganya yang kuat.
“Kenaikan Balen ke tampuk kekuasaan akan menjadi ujian dalam hubungan luar negeri. Kita lihat bagaimana ia menyeimbangkan kepentingan nasional dengan negara-negara tetangga,” kata Prem Raj Khanal, asisten profesor di Universitas Tribhuvan.
“Berbeda dengan pemimpin lama, ia tidak memiliki beban masa lalu dalam berhubungan dengan negara tetangga. Kita lihat bagaimana langkahnya ke depan,” tambahnya. (dari berbagai sumber)

