Akhiri Kerja sama dengan OpenAI, Disney Untung atau Buntung?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Disney resmi mengakhiri kemitraannya dengan OpenAI, pasca penunjukan CEO baru mereka Josh D’Amaro. Menariknya keputusan ini diambil saat perusahaan hiburan itu sedang memperkuat strategi bisnis berbasis teknologi dan streaming.
Kerja sama sebelumnya memberi akses bagi platform video AI Sora milik OpenAI untuk menggunakan karakter ikonik Disney seperti Mickey Mouse dan Cinderella. Selain itu, Disney juga sempat menanamkan investasi besar dan merencanakan integrasi konten video AI ke dalam platform Disney+.
Dikutip dari Business Insider, Rabu (25/3/2026), rencana tersebut kini batal setelah OpenAI memutuskan keluar dari bisnis video generatif. Keputusan ini menjadi pukulan bagi strategi Disney yang ingin mengandalkan teknologi AI untuk meningkatkan engagement pengguna, khususnya melalui konten interaktif.
Meski demikian, Disney tetap melanjutkan pengembangan fitur baru di platform streaming-nya, termasuk format konten pendek melalui fitur “Verts”. Langkah ini sejalan dengan tren industri, di mana pemain seperti Netflix dan Paramount+ juga mulai mengadopsi format serupa untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.
Tekanan Bisnis Streaming
Putusnya kerja sama dengan OpenAI terjadi di tengah tekanan bisnis streaming yang semakin kompetitif. Pangsa penonton gabungan Disney+ dan Hulu di Amerika Serikat tercatat hanya 4,9% pada Januari 2026, naik tipis dari 4,4% pada 2021 dan masih di bawah puncaknya pada 2023.
Baca Juga
Di sisi lain, layanan gratis seperti YouTube justru mengalami lonjakan signifikan. Pangsa penonton YouTube meningkat lebih dari dua kali lipat dari 6% menjadi 12,5% dalam periode yang sama.
Di Indonesia, layanan Disney+ sendiri hanya berada di peringkat 4-5 teratas per Februari 2026. Tercatat Disney+ jauh tertinggal di belakang Vidio, Netflix, Viu, hingga iQIYI.
Perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama. Kenaikan harga layanan streaming berbayar membuat pengguna beralih ke platform gratis yang menawarkan interaktivitas lebih tinggi, seperti fitur komentar dan kedekatan dengan kreator.
Tanpa dukungan teknologi dari OpenAI, Disney kini dituntut mencari strategi baru untuk meningkatkan engagement, terutama di kalangan pengguna muda. Salah satu opsi yang terbuka adalah menjalin kemitraan baru di bidang AI.
Di sisi lain, kejadian ini menjadi sinyal bahwa integrasi AI dalam industri hiburan masih menghadapi dinamika tinggi. Sejumlah pengamat menyebut keputusan strategis Disney ke depan akan sangat menentukan posisinya dalam persaingan global layanan streaming di dunia.
Sekadar informasi, penunjukan Josh D’Amaro sebagai CEO menandai babak baru bagi Disney di tengah tekanan transformasi digital. Ia menggantikan Bob Iger yang sebelumnya kembali memimpin perusahaan untuk menstabilkan bisnis pasca pandemi dan merapikan strategi streaming.
Pergantian ini disebut sebagai upaya perusahaan akan kepemimpinan baru yang lebih fokus pada pengalaman konsumen dan inovasi teknologi. Dengan berakhirnya kerja sama dengan OpenAI, D’Amaro kini menghadapi ujian awal: apakah Disney mampu tetap kompetitif di era AI tanpa mitra teknologi utamanya.
