Serangan Besar-besaran AS-Israel Guncang Iran, Eskalasi Konflik Dinilai “Belum Pernah Terjadi”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Israel dan Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, dalam eskalasi terbaru konflik Timur Tengah yang kini memasuki fase paling intens. Serangan tersebut terjadi pada Senin, 23 Maret 2026 waktu setempat, dan disebut sebagai yang “belum pernah terjadi sebelumnya” dalam skala dan dampaknya.
Laporan Al Jazeera yang diterbitkan pada 23 Maret 2026 menyebutkan militer Israel mengonfirmasi telah memulai “gelombang serangan skala luas” terhadap target infrastruktur di Teheran, disusul putaran serangan kedua hanya beberapa jam kemudian. Ledakan besar dilaporkan mengguncang berbagai wilayah kota, terutama di bagian timur.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Suhaib al-Asa, melaporkan bahwa intensitas dan volume ledakan “tidak pernah terjadi sebelumnya”. Sistem pertahanan udara Iran pun diaktifkan untuk merespons kehadiran drone Amerika Serikat dan Israel yang terpantau di wilayah tersebut.
Serangan tidak hanya menyasar fasilitas militer. Menurut pengamat dari Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad Elmasry, serangan juga menghantam fasilitas sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, serta lebih dari 5.000 unit permukiman. “Ini semakin berbahaya, terutama bagi warga sipil Iran. Kita berisiko memasuki babak baru konflik,” ujarnya.
Media Iran, termasuk kantor berita Fars, melaporkan korban sipil akibat serangan tersebut. Sedikitnya satu anak tewas dalam serangan di Khorramabad, sementara enam orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap rumah-rumah di Tabriz. Di berbagai kota lain seperti Isfahan, Karaj, dan Ahvaz, ledakan besar juga terdengar, bahkan dilaporkan satu rumah sakit terdampak.
Baca Juga
Balas Serangan di Natanz, Rudal Iran Hantam Fasilitas Nuklir Dimona Israel
Badan Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lebih dari 80.000 unit bangunan sipil telah terdampak serangan, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, dengan sebagian di antaranya hancur total.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengklaim telah menargetkan fasilitas produksi turbin di provinsi Qom yang disebut terkait dengan program drone dan pesawat milik Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, tudingan bahwa Iran meluncurkan serangan dari kawasan padat penduduk belum disertai bukti konkret.
Konflik juga meluas ke kawasan lain. Iran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel, dengan sirene peringatan berbunyi di berbagai kota. Serangan gabungan Iran dan kelompok Hizbullah dilaporkan menyasar wilayah utara Israel. Selain itu, IRGC juga mengklaim menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Arab Saudi menggunakan rudal dan drone.
Situasi ini semakin memicu kekhawatiran global. Harga minyak dunia kembali bergejolak di tengah ancaman gangguan pasokan energi, khususnya dari Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak global.
Eskalasi ini terjadi di hari yang sama ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump mengklaim telah terjadi “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” antara Washington dan Teheran.
Namun, pemerintah Iran membantah keras klaim tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran, melalui kantor berita Mehr, menyatakan tidak ada dialog dengan Amerika Serikat dan menilai pernyataan Trump sebagai upaya menurunkan harga energi serta membeli waktu untuk langkah militer lanjutan.
Sementara itu, Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan jika fasilitas energinya diserang. IRGC menegaskan akan menargetkan pembangkit listrik yang memasok basis militer AS, serta infrastruktur ekonomi dan energi yang terkait dengan kepentingan Amerika.
Data korban jiwa terus bertambah. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas sejak konflik dimulai, sementara di Israel sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal akibat serangan Iran.
Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa krisis energi akibat konflik ini “sangat serius” dan bahkan lebih buruk dibanding dua krisis energi besar pada 1970-an.
Dengan serangan yang terus meningkat dan belum adanya titik temu diplomasi, para analis menilai konflik ini berpotensi memasuki fase yang lebih luas dan berbahaya, dengan dampak global yang semakin besar, terutama terhadap stabilitas energi dan ekonomi dunia.
