Indonesia Ogah Dukung Resolusi DK PBB yang Tak Berimbang terhadap Iran
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyatakan Indonesia tidak menjadi pengusul bersama (co-sponsor) dalam Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) Nomor 2817 yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nabyl A Mulachela mengatakan keputusan tersebut diambil karena resolusi tersebut dinilai kurang mencerminkan prinsip keberimbangan, terutama terhadap Iran. Hal ini lantaran, resolusi tersebut hanya mengecam aksi yang dilakukan Iran.
"Jadi memang kita mengikuti bahwa dalam resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817, Indonesia tidak menjadi co-sponsor," jelas Nabyl dalam siaran pers Bakom RI yang dikutip Sabtu (14/3/2026).
Baca Juga
Iran Tingkatkan Serangan Rudal dan Drone di Teluk, Qatar dan Arab Saudi Cegat Serangan
Pada Rabu (11/3/2026), DK PBB mengadopsi Resolusi 2817 yang mengutuk aksi Iran dan menganggapnya sebagai tindakan tercela karena telah melancarkan serangan ke wilayah-wilayah tetangganya di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam resolusi tersebut, DK PBB mengecam serangan Iran di sejumlah negara seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania, serta mengutuk keras serangan yang menargetkan kawasan permukiman dan objek-objek sipil. Dewan juga meminta Iran untuk segera menghentikan ancaman dan provokasi yang mengganggu aktivitas perdagangan maritim di kawasan tersebut.
Resolusi tersebut diadopsi setelah 13 dari 15 anggota DK PBB menyetujui draf resolusi tersebut, sementara dua anggota lainnya, yakni China dan Rusia, memilih abstain. Resolusi itu juga mendapatkan dukungan dari hampir 140 negara anggota PBB. Namun, Indonesia tidak tercantum sebagai salah satu negara pengusul bersama.
Nabyl menambahkan Indonesia pada prinsipnya mengapresiasi upaya inklusivitas dalam penyusunan draf resolusi tersebut. Kendati demikian, menurutnya prinsip keberimbangan juga perlu dijaga agar keputusan yang dihasilkan tidak hanya konkret tetapi juga adil bagi semua pihak.
Baca Juga
Perang AS–Israel vs Iran Memasuki Hari ke-15, Serangan ke Pulau Kharg Tingkatkan Krisis Energi
Untuk itu, alih-alih mendukung resolusi tersebut, Indonesia berpandangan diplomasi tetap menjadi kunci utama dalam mengakhiri konflik di Timur Tengah, khususnya antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Dalam hal ini, Indonesia berpandangan upaya-upaya untuk menyelesaikan konflik perlu tetap dilakukan secara damai dan melalui jalur diplomasi, tapi juga mengedepankan aspek keberimbangan dan inklusivitas," katanya.

