Indef Akan Terus Menjadi Lembaga Riset Independen yang Tajam, Berimbang, dan Solutif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang baru saja merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 berkomitmen untuk terus menjadi lembaga riset independen dengan analisis yang tajam, kredibel, berimbang, dan solutif bagi kemajuan bangsa.
Menurut Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, dengan analisis yang tajam, kredibel, berimbang, dan solutif, Indef diharapkan dapat terus menjadi rujukan bagi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat luas.
“Harapannya Indef tetap eksis tidak hanya 30 tahun ini, tetapi 50 tahun, bahkan 100 tahun ke depan, seperti lembaga riset think tank Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Belanda,” ujar Esther dalam Tasyakuran HUT ke-30 Indef di Jakarta, pekan lalu.
Baca Juga
Indef Soroti Pertumbuhan Ekonomi karena Data Lapangan Lesu, Ini Indikatornya
Dalam acara yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, kalangan akademisi, dan dunia usaha itu, Esther mengungkapkan, para peneliti Indef sudah diuji oleh berbagai tantangan, dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008-2009, hingga krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Indef selalu hadir dengan analisis yang tajam, solusi yang berbasis data, dan perspektif yang independen,” tegas dia.
Esther Sri Astuti mencontohkan analisis terbaru Indef tentang data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 sebesar 5,12% secara tahunan (yoy) yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS). Indef mempertanyakan validitas capaian ini, mengingat sejumlah indikator sektor riil justru menunjukkan perlambatan.
“Kita tahu, banyak fenomena rojali (rombongan jarang beli), rohana (rombongan hanya nanya), hingga roh halus (rombongan hanya elus-elus). Jadi, mereka datang ke mal tetapi tidak beli. Ini salah satu pertanda bahwa ekonomi melambat,” ucap dia.
Berdasarkan riset Indef, menurut Esther, sejumlah data ekonomi mengindikasikan perlambatan produk domestik bruto (PDB), seperti turunnya penjualan kendaraan, kontraksi PMI Manufaktur Indonesia, melemahnya konsumsi rumah tangga, penurunan investasi asing, meningkatnya PHK, inflasi tinggi, hingga pelemahan kredit perbankan.
“Tetapi pemerintah ternyata mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,12%. Maka Indef hadir mewarnai diskusi publik, kami mengemukakan apakah tidak salah dalam hal ini,” tambah Esther.,
Meskipun industri pengolahan tumbuh signifikan sebesar 5,68%, kata Esther Sri Astuti, data PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan industri manufaktur nasional masih berada dalam fase kontraksi, dengan kondisi terburuk terjadi pada kuartal II-2025.
Dia menjelaskan, pertumbuhan tinggi dalam sektor industri mesin dan perlengkapan, logam dasar, serta barang galian bukan logam diduga berkaitan dengan lonjakan impor produk mesin, yang ironisnya justru bukan produk buatan dalam negeri.
Baca Juga
“Bahkan rasio pajak juga turun. Jadi, di sini Indef memberikan warna lain dalam kebijakan publik. Memang tidak mudah untuk menjaga integritas dan kepercayaan public di tengah perubahan zaman,” tandas dia.
Esther mengingatkan bahwa zaman sudah berubah. Namun berkat dedikasi para pendiri Indef dan anak-anak muda yang tekun menganalisis data dengan metode terukur, lembaga riset ini tetap kokoh berdiri.
“Bukan hanya sebagai lembaga riset dengan kajian-kajiannya, tetapi Indef berhasil menguasai public discourse di Indonesia,” tutur dia.

