Minyak Tembus US$ 90 per Barel, AS Luncurkan Program Reasuransi US$ 20 Miliar untuk Tanker Minyak
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Pemerintahan Donald Trump mengumumkan program reasuransi senilai US$20 miliar untuk kapal tanker minyak dan lalu lintas maritim lainnya guna mendorong kapal kembali berlayar melalui Selat Hormuz.
Harga minyak mentah AS (WTI/West Texas Intermediate) melonjak lebih dari 12% pada Jumat (6/3/2026), menembus US$90 per barel karena lalu lintas tanker di Teluk Persia praktis terhenti akibat perang Iran. Beberapa negara Teluk bahkan mulai memangkas produksi karena tidak dapat mengekspor minyak melalui selat tersebut. Minyak Brent naik melaju 8,52% menjadi US$ 92,69 per barel.
Baca Juga
Iran Klaim Serang Kapal Tanker dengan Rudal, Harga Minyak Melonjak Lagi
U.S. International Development Finance Corporation akan menanggung kerugian hingga US$20 miliar secara bergulir. DFC dan U.S. Department of the Treasury menyatakan mereka bekerja sama erat dengan United States Central Command untuk menjalankan rencana tersebut.
“Kami yakin rencana reasuransi ini akan membuat minyak, bensin, LNG, bahan bakar jet, dan pupuk kembali melewati Selat Hormuz dan mengalir ke seluruh dunia,” kata CEO DFC Ben Black dalam sebuah pernyataan.
Selat Hormuz merupakan jalur paling penting bagi perdagangan minyak mentah dunia, dengan sekitar 20% konsumsi global diekspor melalui perairan sempit tersebut. Sekitar 20% ekspor gas alam cair dunia juga melewati jalur ini.
Trump pada Selasa mengatakan AS akan menawarkan asuransi bagi kapal komersial di Teluk Persia dan bahkan pengawalan U.S. Navy jika diperlukan. Sejumlah kapal tanker minyak telah diserang sejak AS dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara besar terhadap Iran akhir pekan lalu.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Militer AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz
Namun menurut analis pengiriman senior di perusahaan konsultan Kpler, Matt Wright, asuransi bukanlah masalah utama bagi pemilik kapal saat ini.
Menurutnya, tanker tidak bergerak melalui Selat Hormuz karena kekhawatiran terhadap keselamatan fisik kapal.
“Harus ada keyakinan bahwa kemampuan Iran untuk terus melanjutkan perang telah berkurang,” kata Wright kepada CNBC.

