Harga Minyak Bisa Tembus US$ 100 per Barel, Ini Faktor Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro memprediksi harga minyak bisa tembus US$ 100 per barel. Selain konflik Iran-Israel, pendorong harga minyak juga karena kondisi ekonomi dunia yang sedang tumbuh normal sehingga memicu peningkatan kebutuhan energi. Sementara sumber-sumber dari energi baru terbarukan (EBT) belum busa mencukupi kebutuhan.
“Konflik Iran-Israel bakal berlangsung panjang, sementara ekonomi dunia sedang normal sehingga meningkatkan kebutuhan energi di seluruh dunia,” ujar Komaidi kepada investortrust.id, Sabtu (27/4/2024).
Untuk itu, Komaidi meminta pemerintah mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak ini terhadap ekonomi Indonesia.
Baca Juga
Elemen Geopolitik Angkat Harga Minyak, Hentikan Penurunan Dua Pekan Berturut-turut
Pertama, lanjut Komaidi, pemerintah harus mengantisipasi dari sisi fiskal dengan melakukan komunikasi informal ke parlemen terkait pembahasan anggaran subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM). Sebab, kenaikan harga minyak akan memicu pembengkakan subsidi BBM.
Antisipasi lain adalah dengan mengutamakan pasar dalam negeri dengan mengurangi ekspor minyak dan gas bumi (migas) yang diproduksi di dalam negeri. “Artinya, kebutuhan untuk dalam negeri dipenuhi dulu, sisanya baru diekspor,” ujar dia.
Mengutip data Investing.com, harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (26/4/2024) sore. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni 2024 ditutup pada harga US$ 89,38 per barel, naik 0,42% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, untuk kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada harga US$ 83,66 per barel, naik 0,09%.

