Maskapai Hentikan Penerbangan ke Timur Tengah
Poin Penting
|
DUBAI, Investortrust.id — Sejumlah maskapai global membatalkan dan menangguhkan penerbangan di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, memicu eskalasi ketegangan yang menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas regional dan pasar energi dunia.
Peta penerbangan menunjukkan wilayah udara Iran nyaris kosong sejak serangan berlangsung, setelah Israel menyatakan telah menyerang target-target di Iran dan militer AS melakukan serangkaian serangan balasan. Iran kemudian membalas dengan tembakan rudal. Konflik ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang belum membuahkan kesepakatan terkait sengketa nuklir Teheran dengan negara-negara Barat.
Eskalasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global, terutama melalui salah satu jalur minyak tersibuk di dunia, Selat Hormuz, yang setiap harinya dilewati lebih dari 20% aliran minyak dan gas global. Gangguan di jalur ini telah lama dipandang oleh analis sebagai risiko utama yang dapat mendorong harga energi melonjak tajam apabila terjadi blokade atau pembatasan navigasi kapal tanker minyak.
Wilayah Udara Ditutup, Rute Diubah
Israel, Iran, Irak, dan Yordania menutup wilayah udara mereka setelah serangan, memaksa pesawat menghindari kawasan tersebut. Beberapa penerbangan, termasuk maskapai seperti Qatar Airways, berputar di atas wilayah udara aman seperti Kuwait dan Arab Saudi sebelum kembali ke markas. Maskapai Rusia juga telah menangguhkan layanan ke Iran dan Israel.
Baca Juga
Tujuh Roket Hantam Gedung Dekat Kediaman Khamenei dan Istana Kepresidenan Iran
Maskapai besar Eropa seperti Lufthansa menangguhkan penerbangan dari dan ke Dubai, serta menghentikan sementara rute ke Tel Aviv, Beirut, dan Oman hingga 7 Maret. Air France dan Iberia juga membatalkan layanan ke Tel Aviv dan Beirut. Maskapai biaya rendah Wizz Air menghentikan penerbangan ke/ dari Israel, Dubai, Abu Dhabi, dan Amman hingga tanggal yang sama.
Otoritas penerbangan Kuwait menghentikan semua penerbangan ke Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut, sementara Oman Air menangguhkan seluruh layanan ke Baghdad. Uni Emirat Arab juga menutup wilayah udaranya secara parsial sebagai langkah pencegahan.
Harga Minyak Merespons Ketegangan
Pasar minyak global langsung bereaksi terhadap eskalasi militer tersebut. Harga minyak mentah Brent sempat mencatat kenaikan dan diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Peningkatan harga ini sebagian mencerminkan premi risiko geopolitik yang diperhitungkan oleh para pedagang sebagai respons terhadap ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah. Bahkan analis memperkirakan bahwa jika terjadi gangguan nyata pada aliran minyak melalui Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi sebagai dampak langsung terhadap ketersediaan pasokan.
Baca Juga
Serang Iran dengan Dalih Hentikan Nuklir, Trump Ungkap Dendam Kesumat AS pada Iran
Meskipun kondisi masih dinamis dan belum terjadi penutupan total atas Selat Hormuz, ancaman terhadap jalur vital ini tetap menjadi faktor tekanan pada pasar energi. Gangguan yang berkepanjangan di rute tersebut dapat menyulitkan pengiriman minyak ke konsumen global dan memicu lonjakan harga, terutama jika negara-negara produsen besar tidak dapat mengalihkan pasokan melalui jalur alternatif.
Dampak bagi Industri dan Ekonomi
Penutupan atau gangguan serius di Selat Hormuz, menurut analis energi, berpotensi menimbulkan efek guncangan yang lebih besar pada ekonomi global karena rute tersebut menangani sebagian besar aliran minyak mentah dan gas yang diekspor dari Timur Tengah. Pasar energi, yang sudah sensitif terhadap risiko geopolitik, bisa mengalami volatilitas tajam jika insiden ini berkembang lebih luas lagi.
Sementara itu, gangguan penerbangan internasional tidak hanya memengaruhi maskapai dari dan ke kawasan konflik, tetapi juga memperumit jaringan rute global yang saling terkait. Industri penerbangan menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi akibat rute panjang yang harus dipilih untuk menghindari wilayah udara berisiko, serta peningkatan premi asuransi bagi penerbangan yang melintas di rute strategis.

