Ukraina Serang Pembangkit Nuklir Zaporizhzhia
JAKARTA, investortrust.id - Ukraina diberitakan telah menyerang salah satu reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia.
Belum diketahui dengan jelas senjata apa yang digunakan dalam serangan pada hari Minggu (7/4/2024) terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Badan nuklir milik Rusia, Rosatom mengatakan bahwa situs tersebut telah diserang dengan menggunakan drone. Pembangkit Zaporizhzhia diambil alih oleh pasukan Rusia tak lama setelah invasi besar-besaran ke Ukraina pada tahun 2022.
Rosatom, seperti dikutip Aljazeera juga menyampaikan bahwa tingkat radiasi berada di level normal dan tidak ada kerusakan serius pasca serangan tersebut. Namun Rosatom mengatakan tiga orang mengalami cidera, akibat serangan yang mengenai sebuah lokasi di dekat kantin.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang menempatkan ahlinya di lokasi tersebut, mengatakan pihaknya telah diberitahu oleh petugas di pembangkit bahwa sebuah pesawat tak berawak telah meledak di lokasi tersebut, dan informasi dinyatakan “konsisten” dengan pengamatan IAEA.
Baca Juga
Ukraina Tolak Tuduhan Terkait Serangan Teror di Gedung Konser Moskow
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi telah memperingatkan kedua belah pihak untuk menahan diri dari tindakan yang bisa menimbulkan bahaya nuklir.
Pembangkit listrik tenaga nuklir yang merupakan yang terbesar di Eropa ini memiliki enam reaktor berpendingin air dan dimoderasi air VVER-1000 V-320 rancangan Soviet yang mengandung uranium-235. Ada juga bahan bakar nuklir bekas di fasilitas tersebut.
Reaktor nomor satu, dua, lima dan enam berada dalam kondisi cold shutdown, sedangkan reaktor nomor tiga dimatikan untuk perbaikan dan nomor empat dalam kondisi “hot shutdown”, demikian menurut para petugas pembangkit listrik tersebut dikutip Aljazeera.
Pembangkit listrik berlokasi cukup dekat dengan garis depan peperangan. Baik Ukraina maupun Rusia telah berulang kali saling menuduh satu sama lain telah menyerang pembangkit listrik tersebut sehingga berisiko menimbulkan bencana nuklir.

