Data Ritel dan Kekhawatiran AI Tekan Wall Street, tapi Dow Terus Cetak Rekor
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ditutup bervariasi pada Selasa waktu AS atau Rabu (11/2/2026) WIB. Indeks S&P 500 melemah setelah investor bereaksi terhadap data penjualan ritel yang mengecewakan. Pelemahan juga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap sektor keuangan.
Indeks S&P 500 turun 0,33% dan ditutup di level 6.941,81, sementara Nasdaq Composite melemah 0,59% dan berakhir di 23.102,47. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average naik 52,27 poin atau 0,10%, mencatatkan rekor penutupan baru di 50.188,14. Indeks ini sebelumnya mencetak rekor intraday untuk hari ketiga berturut-turut, setelah pekan lalu berhasil menembus level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Baca Juga
Pada perdagangan Selasa, saham peritel seperti Costco dan Walmart berada di bawah tekanan, masing-masing turun lebih dari 2% dan lebih dari 1%. Penurunan ini terjadi setelah laporan terbaru penjualan ritel menunjukkan belanja konsumen pada Desember stagnan, meleset dari ekspektasi kenaikan bulanan 0,4% yang diperkirakan para ekonom dalam survei Dow Jones. Sebelumnya, penjualan ritel naik 0,6% pada November.
Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan utama yang akan dirilis pada Rabu, serta data indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat.
“Komponen lain dari konsumen berpendapatan rendah dan menengah yang kini berada dalam tekanan adalah bagaimana perasaan mereka terhadap kondisi pasar tenaga kerja, dan kita tahu bahwa mereka kini sedikit lebih tidak pasti. Jika kita melihat pertumbuhan lapangan kerja Januari yang lebih lemah dari perkiraan, hal itu bisa memberi tekanan pada tema penguatan pasar yang lebih luas,” urai kepala strategi pasar Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene, kepada CNBC.
Saham-saham sektor keuangan juga tertekan pada Selasa setelah platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak berbasis AI yang baru. Saham LPL Financial anjlok 8,3%, sementara saham Charles Schwab merosot 7,4% dan Morgan Stanley turun lebih dari 2%.
“Tampaknya terjadi rotasi ke area lain yang mungkin lebih terlindungi dari perdagangan bertema AI,” tambah Saglimbene. Ia menyoroti kenaikan terbaru di sektor material dan utilitas.
Wall Street sempat mengalami dua hari berturut-turut penguatan seiring reli saham teknologi, melanjutkan rebound yang dimulai pada Jumat lalu. Dow Jones secara khusus mencetak level tertinggi baru baik secara intraday maupun penutupan. Investor berharap pasar dapat mempertahankan tren kenaikan setelah aksi jual pekan lalu gagal memberikan dampak teknikal yang signifikan.
Baca Juga
Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Dow Kembali Cetak Rekor Baru
S&P 500 sendiri berhasil kembali bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari, setelah sempat menembus ke bawah level tersebut pekan lalu. Selain itu, banyak kelas aset kini mengungguli kinerja indeks tersebut, sebuah sinyal bullish bagi para pelaku pasar.
