Saham Teknologi Tekan Wall Street, tapi Dow Malah Cetak Rekor Baru dan Sempat Tembus 52.000
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS mayoritas melemah pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (17/6/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tertekan, tapi indeks Dow Jones Industrial Average malah mencatat rekor tertinggi baru.
Dow Jones naik 328,64 poin atau 0,64% dan ditutup pada level tertinggi sepanjang masa di 51.999,67. Dalam perdagangan intraday, indeks yang berisi 30 saham unggulan AS tersebut bahkan sempat menyentuh rekor baru di 52.190,29.
Sebaliknya, indeks S&P 500 turun 0,57% ke 7.511,35, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melemah 1,15% menjadi 26.376,34.
Baca Juga
Wall Street Melesat Setelah Trump Umumkan ‘Deal’ AS-Iran, Dow Cetak Rekor Baru di Atas 51.600
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. Saham Advanced Micro Devices (AMD) anjlok lebih dari 7%, Broadcom turun 4%, Micron Technology merosot 6%, sementara Nvidia kehilangan lebih dari 2%.
Perdagangan di Wall Street diwarnai rotasi investor dari saham teknologi dan semikonduktor menuju sektor-sektor siklikal yang dinilai akan memperoleh manfaat dari penurunan harga energi.
Pasar menilai reli luar biasa saham chip dalam beberapa bulan terakhir mulai menghadapi aksi ambil untung setelah investor melihat peluang lebih menarik di sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Harga Minyak Jadi Katalis
Sentimen positif bagi saham industri dan perbankan muncul setelah harga minyak melanjutkan penurunan tajamnya. Brent ditutup turun 5,06% pada US$78,96 per barel, sedangkan WTI merosot 5,82% ke US$76,05 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat penutupan pertama di bawah US$80 sejak awal Maret.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
Turunnya biaya energi memicu spekulasi bahwa ekonomi AS dapat memperoleh dorongan tambahan melalui peningkatan daya beli konsumen dan penurunan tekanan biaya bagi perusahaan.
Saham Caterpillar memimpin penguatan sektor industri dengan kenaikan lebih dari 1%, sementara JPMorgan Chase melonjak lebih dari 3% dan menjadi salah satu penggerak utama sektor perbankan.
Di sisi lain, SpaceX kembali menjadi sorotan pasar setelah sahamnya melonjak hampir 5%, melanjutkan reli kuat sejak melantai di bursa pekan lalu. Dengan lonjakan tersebut, kapitalisasi pasar perusahaan sempat melampaui Microsoft dan Amazon dalam perdagangan intraday. SpaceX melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada harga US$135 per saham dan ditutup pada US$201,80.
Optimisme investor juga didorong oleh pengumuman Presiden Donald Trump bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan kedua pihak telah menyatakan penghentian operasi militer di seluruh front, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Swiss.
Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dan tetap bebas biaya setelah periode awal 60 hari, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Meski demikian, Chief Investment Strategist Nomura Asset Management International, Andy Goldberg, mengingatkan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya hilang.
Menurutnya, penurunan harga minyak memang dapat menekan inflasi dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama meningkatkan daya beli konsumen dan berpotensi kembali mendorong permintaan.
“Jika harga minyak turun dengan cepat, inflasi utama akan menurun. Namun pada saat yang sama lebih banyak uang akan kembali ke kantong konsumen ketika kondisi mereka sedang cukup baik. Situasi itu bisa memicu tekanan inflasi baru,” bebernya, seperti dikutip CNBC.
Goldberg menilai kondisi tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi Federal Reserve dalam menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.
