Isu Greenland Nyaris Tenggelamkan Topik AI
Poin Penting
|
DAVOS, Investortrust.id — Salju masih menutupi Davos ketika para investor, CEO, dan pembuat kebijakan dunia mulai meninggalkan desa kecil di Pegunungan Alpen Swiss itu. Banyak di antara mereka datang dengan satu agenda utama: kecerdasan buatan (AI). Namun, saat pulang, satu topik lain justru melekat dalam benak: Greenland. Isu Greenland yang diembus kencang oleh Presiden Donald Trump nyaris menenggelamkan topik AI.
World Economic Forum (WEF) ke-56 berlangsung Senin (19/01/2026) hingga Jumat (23/01/2026). Para peserta secara umum mulai meninggalkan Davos pada 23 Januari 2026 atau sehari setelahnya, pada 24 Januari 2026. Para pemimpin dunia dan eksekutif bisnis umumnya meninggalkan Davos setelah pertemuan yang berakhir pada 23 Januari 2026. Presiden Prabowo Subianto tiba di Tanah Air, Sabtu (24/1/2026). Presiden merampungkan lawatan ke tiga negara sahabat, yakni Inggris, Swiss, dan Prancis.
WEF tahun ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana masa depan teknologi dan realitas geopolitik berjalan berdampingan, kadang saling menguatkan, kadang saling meniadakan. Para peserta dari berbagai kalangan datang ke Davos untuk mendengarkan perkembangan paling muthakir AI.
Baca Juga
WEF di Davos 2026 Dimulai: Dialog Global di Tengah Dunia yang Terbelah, Apa yang Diharapkan?
Sepanjang pekan, Davos dipenuhi optimisme. Di ruang-ruang panel dan pertemuan tertutup, para eksekutif membicarakan AI yang tak lagi sekadar janji, tetapi sudah bergerak ke fase produksi nyata. Pembahasan beralih ke pusat data berskala raksasa, lonjakan kebutuhan listrik, kesiapan jaringan energi, hingga besarnya dana global yang siap dialokasikan untuk menopang revolusi ini. Istilah seperti world models dan physical AI menjadi bahasa sehari-hari.
Namun, di sela optimisme itu, Davos juga menyimpan kegelisahan. Percakapan yang awalnya membahas AI sering berakhir pada isu tarif, ketegangan geopolitik, dan rasa bahwa aturan global yang selama puluhan tahun menjadi pegangan investor kini bergeser dengan cepat dan tak selalu bisa diprediksi.
Seolah ada dua Davos yang hidup bersamaan di desa bersalju ini. Satu Davos penuh keyakinan pada masa depan teknologi. Davos lainnya dibayangi kecemasan geopolitik. Dan keduanya kerap bertemu dalam satu percakapan yang sama.
“Apa yang ditunjukkan Davos tahun ini bukan krisis inovasi, melainkan krisis koherensi dan hilangnya kepercayaan,” ujar Chavalit Frederick Tsao, Chairman Tsao Pao Chee. “Teknologi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan kolektif kita.”
Baca Juga
Berpidato di WEF Davos, Prabowo: Perdamaian Adalah Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Trump dan Musk
Ketegangan itu memuncak pada Rabu (21/1/2026), ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump naik ke podium Congress Hall. Ribuan peserta mengantre lebih dari satu jam. Atmosfer di dalam ruangan terasa seperti konser politik riuh, penuh ekspektasi.
Pidato Trump berayun antara humor, provokasi, dan ketidakpastian. Namun ketika ia menyinggung Greenland —dan menegaskan bahwa Amerika Serikat perlu menguasai pulau Arktik tersebut demi kepentingan strategis—, ruangan mendadak sunyi.
Tawa mereda. Percakapan terhenti. Dalam hitungan jam, diskusi tentang AI, energi, dan investasi infrastruktur bergeser ke satu pertanyaan mendasar: seberapa besar risiko geopolitik akan ikut menentukan arah investasi global?
Baca Juga
Sejumlah Pernyataan Trump di Davos ‘Asal Njeplak’ Tak Sesuai Fakta, Ini Fakta Sebenarnya
Greenland dan tarif perdagangan menjadi topik utama di meja makan malam, lobi hotel, hingga shuttle Davos. Investor mulai menghitung ulang risiko kebijakan sepihak dan kemungkinan fragmentasi ekonomi dunia, sebuah bayangan yang kontras dengan semangat kolaborasi global yang selama ini menjadi ruh Davos.
Namun Davos kembali berayun ke arah lain keesokan harinya. Pada Kamis (22/1/2026), Elon Musk kembali ke panggung WEF setelah bertahun-tahun absen. Dalam sesi yang penuh sesak, CEO Tesla itu memaparkan visi futuristik tentang robotaksi, robot humanoid, dan kecerdasan buatan yang kian otonom.
Musk menyebut layanan robotaxi tanpa pengemudi Tesla akan menjadi “sangat, sangat luas” di Amerika Serikat pada akhir 2026. Ia juga melontarkan prediksi yang mengundang decak kagum sekaligus gelisah: AI berpotensi melampaui kecerdasan manusia dalam waktu dekat.
Bagi banyak peserta, sesi Musk terasa seperti reset button. Percakapan kembali mengalir ke pusat data, daya komputasi, penyimpanan energi, serta kesiapan kota dan jaringan listrik menghadapi lonjakan permintaan akibat AI.
Baca Juga
Di WEF Davos, Prabowo Yakin MBG Bakal Segera Lampaui McDonald's
Kontrasnya terasa jelas. Satu hari Davos sibuk mencerna risiko geopolitik Trump. Hari berikutnya, Davos kembali berlari mengejar masa depan teknologi.
Pergantian suasana yang ekstrem itu berulang kali muncul dalam wawancara sepanjang pekan. Waleed Al Mokarrab Al Muhairi, Wakil CEO Mubadala, merangkum sikap investor menuju 2026 dalam dua kata: “berbasis keyakinan” (conviction-driven).
“Dunia tidak kacau, tetapi semakin terfragmentasi,” ujarnya. “Peluang tetap besar, tetapi risikonya juga meningkat. Investor harus semakin selektif dan strategis.”
Sementara Joe Kaeser, Chairman Siemens Energy, melihat AI sebagai peluang industri besar, bukan sekadar perlombaan teknologi konsumen. Namun ia mengingatkan bahwa pasar masih menunggu kepastian apakah janji kebijakan akan benar-benar diwujudkan. “Jika satu pemain besar tidak mau ikut bermain, dampaknya buruk bagi semua pihak,” katanya.
Negara Menenangkan Pasar
Bagi para menteri keuangan, Davos tahun ini lebih banyak menjadi ajang menenangkan pasar ketimbang mempromosikan agenda baru. Menteri Keuangan Afrika Selatan Enoch Godongwana menegaskan bahwa risiko terbesar perekonomian global tetap datang dari geopolitik.
Sementara Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan berulang kali kembali pada satu kata kunci: dialog. “Dunia usaha membutuhkan kepastian,” ujarnya singkat.
Menjelang akhir pekan, panel tentang AI, transisi energi, dan reinvensi industri selalu penuh. Diskusi tertutup fokus pada ekspansi dan prospek jangka panjang. Namun di momen-momen santai —di sela kopi, di lorong, atau di dalam shuttle— pembicaraan selalu kembali ke Greenland, tarif, dan ketidakpastian kebijakan.
Satu Davos berbicara tentang masa depan yang dijanjikan AI. Davos lainnya berbicara tentang rapuhnya fondasi geopolitik yang menopang janji itu. Keduanya berjalan bersamaan—di desa yang sama, di waktu yang sama, dan sering kali dalam percakapan yang sama.
Baca Juga
WEF 2026: Macron Sebut Dunia Bergeser dari Demokrasi ke Otokrasi, 60 Perang Global Jadi Rekor
Magnet Utama
Topik AI memang menjadi magnet utama di Davos. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pembahasan AI kali ini terasa lebih dewasa meski ada kegelisahan. Jika dulu AI dibicarakan sebagai janji masa depan, kini ia hadir sebagai kenyataan industri yang menuntut kesiapan infrastruktur, energi, dan stabilitas global.
Di hampir setiap panel dan pertemuan tertutup, satu pesan berulang terdengar: AI telah bergerak dari hype menuju produksi nyata. Para CEO dan investor tidak lagi bertanya apakah AI akan diadopsi, melainkan siapa yang mampu mengeksekusinya lebih cepat dan dalam skala lebih besar. Percakapan pun bergeser dari algoritma dan aplikasi ke pusat data raksasa, daya komputasi, dan kebutuhan listrik yang melonjak tajam.
WEF 2026 menandai perubahan penting: AI tak lagi dilihat semata sebagai isu teknologi, melainkan isu energi dan infrastruktur global. Banyak pemimpin bisnis mengingatkan bahwa tanpa pasokan listrik yang andal dan terjangkau, ekspansi AI akan terhambat. Tak mengherankan jika diskusi AI hampir selalu beririsan dengan transisi energi, gas, nuklir, hingga modernisasi jaringan listrik.
Di sisi lain, Davos juga mencatat pergeseran fokus dari consumer AI menuju AI industri. Istilah physical AI semakin sering terdengar, mengacu pada kecerdasan buatan yang menggerakkan robot, pabrik, logistik, dan infrastruktur fisik. AI tidak lagi hanya hadir di layar ponsel, tetapi mulai masuk ke lantai produksi dan kota-kota.
Baca Juga
Pandangan ini diperkuat oleh kehadiran tokoh-tokoh seperti Elon Musk, yang menegaskan bahwa dampak terbesar AI justru akan terasa di dunia fisik: robot humanoid, kendaraan otonom, dan otomasi industri. Visi ini mengembalikan optimisme Davos bahwa AI dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di tengah perlambatan global.
Namun optimisme itu tidak datang tanpa kegelisahan. Salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah kesenjangan AI. Para pemimpin menyadari bahwa hanya segelintir negara dan perusahaan yang memiliki modal, data, energi, dan kapasitas komputasi untuk membangun AI skala besar. Sementara itu, banyak negara lain berisiko hanya menjadi pengguna pasif atau bahkan tertinggal semakin jauh.
Pertanyaan besar pun mengemuka di Davos: apakah AI akan menjadi alat pemerataan global, atau justru memperdalam konsentrasi kekuatan ekonomi dan geopolitik?
Isu tata kelola dan kepercayaan juga menjadi benang merah diskusi. Banyak pemimpin menilai kecepatan inovasi AI jauh melampaui kemampuan dunia untuk mengaturnya. Fragmentasi regulasi antara Amerika Serikat, Eropa, dan China dikhawatirkan menciptakan ketidakpastian baru, baik bagi investor maupun inovator.

