China Sebut Aturan WTO telah Dilanggar Penganut Unilateralisme, Tuding Trump?
Poin Penting
| ● | China menegaskan multilateralisme sebagai fondasi stabilitas ekonomi dan perdagangan global. |
| ● | Reformasi WTO dan IMF dinilai penting untuk meningkatkan peran negara berkembang dan Global South. |
| ● | Pembangunan China diposisikan sebagai peluang bersama melalui keterbukaan, reformasi, dan kerja sama. |
DAVOS, Investortrust.id - Sistem perdagangan multilateral saat ini menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya tindakan unilateral oleh sejumlah negara yang melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Multilateralisme tetap menjadi satu-satunya jalan yang tepat untuk menjaga stabilitas tatanan internasional, dengan prinsip bahwa aturan harus berlaku setara bagi semua pihak. Dunia, menurut China, tidak boleh kembali ke “hukum rimba” di mana negara kuat menindas negara lemah. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, He Lifeng, dalam pidatonya pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Selasa (20/1/2026).
He Lifeng menyampaikan bahwa dunia saat ini tengah mengalami transformasi besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad. Gelombang unilateralisme dan proteksionisme yang menguat, diperparah oleh konflik regional dan geopolitik, telah membawa perubahan mendasar pada tatanan ekonomi dan perdagangan global.
"Sejak tahun lalu, perang tarif dan konflik perdagangan telah memberikan guncangan signifikan terhadap perekonomian dunia dan menimbulkan tantangan serius bagi sistem perdagangan bebas," tutur Lifeng.
Dalam konteks tersebut, He Lifeng menegaskan bahwa China secara konsisten menempatkan multilateralisme sebagai fondasi kerja sama internasional. Ia menyebut bahwa sejak bergabung dengan WTO, China telah memenuhi seluruh komitmennya dengan sungguh-sungguh dan akan terus mendukung reformasi institusi multilateral seperti WTO dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Baca Juga
Macron Tegaskan Eropa Harus Lindungi Perekonomiannya agar Keluar dari Stagnasi
Reformasi tersebut, menurutnya, penting untuk meningkatkan representasi negara-negara berkembang dan Global South agar tata kelola ekonomi global menjadi lebih adil dan inklusif.
Dalam kesempatan yang sama Lifeng menilai bahwa globalisasi ekonomi yang didorong oleh spesialisasi internasional dan kolaborasi lintas negara merupakan tren sejarah yang tidak dapat dibalik dan telah memberikan manfaat luas bagi banyak negara, termasuk China. Sebaliknya, perang tarif tidak menghasilkan pemenang.
Ia menekankan bahwa konflik perdagangan hanya meningkatkan biaya produksi, memecah ekonomi global, dan mengganggu distribusi sumber daya dunia.
Mengutip data WTO, ia menyampaikan bahwa pangsa perdagangan global yang berada di bawah ketentuan most favored nation telah turun dari 80% menjadi 72% dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, Dana Moneter Internasional memperkirakan fragmentasi ekonomi global dapat memangkas output ekonomi dunia hingga sekitar 7%.
Menurut He Lifeng, kondisi tersebut menunjukkan bahwa dunia tidak boleh bergerak menuju isolasi diri. Sebaliknya, tantangan global harus dihadapi melalui dialog, solidaritas, dan kerja sama.
Ia menegaskan komitmen China untuk “membangun jembatan, bukan tembok”, serta terus berbagi peluang pembangunan dengan negara lain. Dalam pandangannya, pembangunan global seharusnya tidak menjadi permainan menang-kalah, melainkan proses memperbesar manfaat bersama.
Ia juga menyinggung lemahnya momentum pertumbuhan ekonomi dunia. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata pra-pandemi COVID-19 sebesar 3,7%.
Dalam situasi tersebut, China menegaskan komitmennya untuk mendorong kerja sama saling menguntungkan. He Lifeng menyatakan bahwa China tidak pernah mengejar surplus perdagangan semata. Selain berperan sebagai pabrik dunia, China juga ingin menjadi pasar dunia. Dengan mengoptimalkan pasar domestik yang sangat besar, China berupaya memperkuat kerja sama industri agar negara lain dapat turut berbagi peluang pertumbuhan.
Dalam pidatonya, He Lifeng juga menyoroti hubungan ekonomi dan perdagangan antara China dan Amerika Serikat yang mengalami dinamika dalam setahun terakhir. Meski demikian, ia menegaskan bahwa fakta menunjukkan kedua negara akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan justru mengalami kerugian jika memilih konfrontasi.
Menurutnya, selama kedua pihak melakukan konsultasi secara setara, akan selalu terdapat lebih banyak solusi dibandingkan masalah. Ia menekankan bahwa China adalah mitra dagang, bukan saingan, dan pembangunan China merupakan peluang, bukan ancaman, bagi perekonomian global.

