Putin Diundang Trump Masuk “Board of Peace”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id—Undangan yang tidak lazim datang dari Washington ke Moskow. Kremlin menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin menerima tawaran untuk bergabung dalam “Board of Peace”, sebuah dewan yang dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk menjaga gencatan senjata Israel–Hamas yang rapuh sekaligus mengawasi rekonstruksi Gaza. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Senin (19/01/2026), menegaskan undangan itu diterima lewat jalur diplomatik dan Rusia masih “mempelajari semua detail” sebelum mengambil sikap, sembari berencana menghubungi pihak AS untuk memperjelas rancangan dan mandat dewan tersebut.
Sejumlah media menyoroti ironi politiknya: bila benar Putin masuk “dewan perdamaian” untuk Gaza, ia akan duduk di forum yang membawa label stabilisasi konflik di saat Rusia masih menghadapi sorotan global terkait perang di Ukraina yang mendekati tahun keempat pada Februari 2026.
Di sisi lain, rencana dewan ini dinilai bukan sekadar komite ad hoc Gaza. Laporan Associated Press menyebut undangan telah dikirim ke banyak negara, dengan beberapa pemerintah mengonfirmasi menerimanya termasuk India, Hungaria, Yordania, Yunani, Siprus, dan Pakistan, di samping sejumlah negara lain yang juga disebut menerima undangan.
Baca Juga
Yang membuat “Board of Peace” kian kontroversial adalah kabar soal “harga kursi.” Bloomberg (dikutip sejumlah media) menyebut ada draf piagam yang menginginkan negara membayar US$1 miliar agar bisa mempertahankan keanggotaan “secara permanen.” Ini mengubah narasi dari diplomasi menjadi semacam membership model dan membuka pertanyaan: apakah board ini instrumen stabilisasi, atau juga kendaraan geopolitik dan pembiayaan rekonstruksi versi baru.
Dari Tel Aviv, sinyal keberatan juga menguat. Sejumlah laporan menyebut kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memprotes bahwa pengumuman komposisi “Gaza Executive Board” (yang berada di bawah Board of Peace) tidak dikoordinasikan dengan Israel dan dinilai bertentangan dengan kebijakannya.
Benang merah dari berbagai media: Washington sedang mendorong format tata kelola pascaperang yang lebih terstruktur —mulai dari arsitektur keamanan gencatan senjata, tata kelola Gaza, hingga rekonstruksi—, namun desainnya memantik friksi sejak awal: legitimasi, koordinasi dengan pihak kunci di lapangan, serta “etiket” mengundang tokoh kontroversial seperti Putin. Kini, pasar global dan para pemangku kepentingan geopolitik menunggu satu hal: apakah Gedung Putih benar mengonfirmasi undangan itu, dan seperti apa “aturan main” yang sesungguhnya akan diberlakukan. (PD)

